KURUNGBUKA.com – Saya salut pada kreativitas warganet Indonesia dalam menciptakan kata. Meski sering menabrak logika dan tata bahasa, kata-kata itu memantik kelucuan dan meredakan ketegangan akibat kekecewaan demi kekecewaan yang diberikan negara kepada kita. Beberapa istilah itu bahkan menjadi judul karya kreatif, menjadi kepala berita (headlines), dan mewujud dalam kamus. Ambil contoh: mager, budak cinta (bucin), gaji buta/ gak ada butuh (gabut), pansos (panjat sosial), kena mental, cowok ganteng (cogan), gacor, di luar nurul, sefruit, jujurly, ibu sambung, suami kandung, temen kandung, sampai pada yatim pasif.

Istilah yatim pasif belum tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akan tetapi kita mudah menarik kesimpulan mengenai maknanya dari beragam unggahan warganet di media sosial.

Yatim pasif rupanya merujuk kepada anak yatim yang sebenarnya memiliki ayah yang masih hidup, tapi figur ayah tersebut tidak terasa keberadaannya. Bahasa Inggris menyebutnya fatherless, berasal dari bahasa Inggris Pertengahan, faderles, bahasa Inggris kunonya fæderlēas (dibentuk dari fæder father + -lēas -less).

Saya mencoba menelusuri jejak kemunculan istilah yatim pasif di mayantara. Unggahan paling awal yang dapat saya temukan mengenai istilah itu berasal dari akun Tiktok Rikhihasibuan1 pada 19 Februari 2024. Rikhi memberi takarir (caption) “ayah ada tapi gakada”. Sementara itu, siniar Exit, edisi 18 November 2024, mendefinisikan yatim pasif sebagai anak yang tumbuh dengan orang tua yang secara fisik hadir, tetapi mereka tidak menjalankan peran aktif dalam keluarga. Mereka ada di sana, tapi dukungan emosional, perhatian, dan kasih sayang sering kali absen.

Selain unggahan Rikhihasibuan1 dan siniar Exit, masih banyak konten yang mengupas istilah yatim pasif. Istilah itu semakin populer dengan akan dirilisnya film Suka Duka Tawa yang dibintangi Rachel Amanda pada 8 Januari 2026. Tawa, karakter yang diperankan Rachel dalam film garapan Aco Tenriyagelli itu, merupakan komika yang mewakili konsep anak yatim pasif. Si Ayah, Keset (diperankan Teuku Rifku Wikana), meninggalkan Tawa dan ibunya untuk mengejar mimpi menjadi pelawak di televisi. Pesan yang ingin diangkat film produksi BION Studios dan Spasi Moving Image itu semakin kental dengan lagu dari Trio Ubur-Ubur yang menjadi lagu tema (original soundtrack) film berjudul Bapak Mana Bapak.

Status yatim sudah menjadi bahan candaan di tongkrongan, bahkan memunculkan tujuh kasta yatim yang konon ada di Indonesia. Tulisan Dicky Wicaksono di media indozone.id membagikan informasi soal konten akun Tiktok@jesicanaruto, yang membahas 7 kasta yatim di Indonesia itu, berdasarkan riset pribadi Jesica terhadap warganet yang berkomen di unggahan-unggahan sebelumnya juga orang-orang di sekitar: yatim absolut, yatim tiri, yatim pasif, yatim fungsional, yatim berdikari, yatim premium dan Yatim Pro Max.

Tujuh kasta yang Jesica temukan menunjukkan betapa perbincangan di ruang maya penuh dengan ekspresi kreativitas berbahasa. Lihat saja bagaimana warganet mendefenisikan tiap-tiap kasta tersebut. Meskipun telah ada konsep yatim dan piatu sebelumnya, definisi tujuh kasta itu memperlihatkan antusiasme untuk bertukar pikiran sekaligus curhat tipis-tipis warganet yang menemukan kawan berbagi pengalaman (barangkali juga trauma dan penderitaan) yang tidak bisa diakui di dunia nyata.

Yatim pasif dapat dikategorikan sebagai sebuah neologisme, kata baru yang dibentuk, juga dimaknai ulang. Akan tetapi, istilah tersebut bukan sekadar neologisme. Ia menyimpan luka sosial dan kritik dari alam bawah sadar yang mengecam—barangkali mengalami—bagaimana rasanya punya ayah tapi rasanya sama saja dengan anak yatim. Sosoknya ada, tapi keberadaannya dinihilkan karena tak mampu memberi dukungan, tanggung jawab, juga rasa aman. Dari komentar dan unggahan yang saya temukan, kebanyakan menyoal kondisi orang tua yang masih hidup dalam satu rumah. Meski secara kaidah menabrak logika dan tata bahasa (istilah yang tepat seharusnya ayah pasif), istilah yatim pasif tampaknya lebih berterima.

Sebagai satu neologisme, yatim pasif menyusul neologisme lain dalam bahasa Inggris yang sudah tercatat sejak 1969 dalam kamus Neologisms: New Words, karya Jonathon Green: single parent (hal. 257). Single parent diterakan:

an unmarried or divorced mother or father who bears the sole responsibility for the rearing of a child or children; thus the single parent family: a family unit headed by such a parent.

Keadaan yatim pasif sekilas kurang lebih sama dengan sosok orangtua tunggal menurut pengertian yang dipaparkan Green. Akan tetapi, istilah itu lebih menitikberatkan pada ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan. Ketiadaan peran itu kita tahu krusial, berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan si anak kelak. Penelitian Zhou dkk. pada 2024 misalnya menemukan remaja yang mengalami ketiadaan kasih sayang ayah memiliki tingkat kesepian yang lebih tinggi. Selain itu, hasil survei kualitatif yang diadakankan Kompas (Juli-Agustus 2025) pada 16 psikolog klinis di 16 kota di Indonesia juga menemukan dampak fatherless berupa rasa minder dan emosi/mental yang labil, kenakalan remaja, sulit berinteraksi sosial dan motivasi akademik rendah.

Dalam sastra, ketidakhadiran ayah itu terasa lebih menyakitkan. Tokoh aku dalam cerpen Chitra Banerjee Divakaruni berjudul The Love of a Good Man (termuat dalam kumpulan cerpen The Unknown Errors of Our Lives, diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010), mengisahkan bagaimana ibu Aku menderita setelah ditinggal si Ayah untuk kehidupan baru di Amerika dan dampak penderitaan itu pada kehidupan tokoh Aku selanjutnya sperti tampak pada nukilan halaman 97 berikut.

“She may have been right about anger. I don’t deny it. Any more than I deny that I’d become excruciating to live with since Father left. I was like the mansha cactus that grows in the crannies of ruined buildings. Only, my thorns pointed inward, a constant stinging. I lashed out at people every chance I got. It was the only way I knew of con- suming pain.”

Dikisahkan, tokoh Aku tumbuh dengan tidak mempercayai laki-laki dan cinta. Bahkan ketika kemudian ia bertemu Dilip, laki-laki diaspora India-Amerika yang kelak menjadi suaminya, ia masih berusaha pulih dari luka dan trauma yang ditinggalkan ayahnya. Ibunya meninggal karena kanker, itu juga ia tahu dari dokter yang merawat ibunya sehingga ia tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahnyalah yang telah membunuh ibunya. Ketidakhadiran itu membuat ia menolak keras ketika si ayah ingin berkunjung bertahun-tahun kemudian.

Novel Menolak Ayah karya Ashadi Siregar (KPG, 2018) juga menceritakan dengan baik bagaimana Tondinihuta, ditinggalkan ayahnya dari kecil. Sang ayah pergi seperti Keset, ayah Tawa. Bedanya ia meninggalkan tanah Batak bukan untuk menjadi pelawak tapi untuk menjadi pejabat di Jakarta.

Awalnya, saya turut mengecam sosok-sosok ayah macam itu. Namun, dialog tokoh Zachary Beck (diperankan Anthony Michael Hall) dalam episode terakhir musim ketiga serial Reacher menyentak saya. “Saya tidak pernah diajari cara menjadi ayah”, katanya kepada Richard Beck, anak kandungnya yang polos, yang ia besarkan dalam dunia kriminal dan penuh rahasia. Saya lalu sadar kebenaran kata-kata Mr. Beck itu. Kita mengenal naluri keibuan tapi tidak familier naluri kebapakan, seolah setiap laki-laki selalu dilahirkan lengkap dengan fitur tanggung jawab secara otomatis. Mungkin itupula sebabnya,kita menjadi gagap ketika menemukan ketiadaan fitur itu pada sosok ayah.

Kita juga dibesarkan dengan dogma dan ilusi keluarga berencana, citra keluarga ideal dengan ibu dan ayah yang berfungsi dengan baik. Bahwa single parent, ibu tunggal atau ayah tunggal itu sebuah anomali. Kita menolak mencari tahu penyebab ketimpangan itu. Kita terlatih untuk melabeli, bukan memahami. Makanya, istilah yatim pasif dan cap sosial perihal tanggung jawab orang tua semacamnya begitu mudah kita terima.

Satu hal yang saya baca dari populernya istilah yatim pasif adalah fungsi bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan pikiran sekaligus alat kontrol sosial dan kritik terhadap beragam penyimpangan dalam masyarakat. Bahwa bahasa memenuhi kebutuhan kita untuk mengeskpresikan luka batin yang susah terucap dalam situasi normal.

Saya curiga, luka batin itu pula yang menyebabkan pemerintah membikin program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), ’memaksa’ ayah hadir di sekolah untuk menerima rapor. Seolah-olah satu surat edaran mampu mengisi kekosongan pengasuhan dan mengobati luka emosional anak-anak yatim pasif. Tapi ya sudahlah, mari kita hargai. Setidaknya pemerintah kita yang tersayang sudah berusaha melakukan sesuatu.

*) Image by unair.ac.id

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<