KURUNGBUKA.com – Beberapa hari yang lalu, orang-orang masih bertemu cerita pendek buatan Putu Wijaya. Cerpen dimuat di koran nasional yang belum mau tamat, setelah berusia 60 tahun. Pengarang itu masih mengolah teror. Sejak lama, kita yang membaca tulisan-tulisan dan menikmati pentas teaternya belajar paham tentang teror. Buku mengenai dirinya dan proses kreatif terbitan YOI pun tetap berpegangan dengan teror.
Padahal, usia Putu Wijaya makin tua. Ia tak mengetik dengan sepuluh jari. Pertaruhan bersastra hanya dengan jempol di ponsel. Kata-kata belum menghilang dari hidupnya. Raga masih sanggup bergerak demi cerita. Kita mungkin masih ingin bernostalgia Putu Wijaya saat menggunakan mesin tik. Pastilah jari-jari itu berkekuatan besar. Pada mesin tik, ia telah menghasilkan banyak tulisan, selanjutnya terjadi perubahan teknologi menulis.
Pada 2025, Putu Wijaya tampil bukan dengan keringkihan. Ia tetap perkasa dalam sastra. Siapa pernah membaca semua tulisannya di jagat sastra? Si pengarang tua mungkin sudah lupa dengan ratusan tulisannya. Dulu, ia sering menang dalam sayembara menulis cerita, termasuk di majalah-majalah wanita. Ia memang tidak perlu mengingat semuanya. Yang menjadi kebenaran: ia telah memberi banyak untuk perkembangan sastra di Indonesia.
Kita akan selalu menghormatinya dengan Pabrik, Telegram, Stasiun, Pol, dan lain-lain, Jika pemerintah atau institusi mau menerbitkan lagi semua buku Putu Wijaya masa lalu harus memiliki dana besar. Usaha mengadakan seri komplet ketimbang berceceran: terlupa dan tersingkir. Segala persembahan sastranya itu mengesahkannya sebagai “legenda sastra” di Indonesia.
Di majalah Sarinah, 28 Januari 1991, kita membaca tulisan panjang berdasarkan wawancara bersama Putu Wijaya diberi judul Huru-Hara dalam Jiwa. Tulisan digenapi foto-foto berwarna. Putu Wijaya tampak masih gagah, Ia dalam masa keranjingan dalam sastra, teater, dan film. Tulisan yang mengingatkan masa lalunya jika kita membacanya sekarang.
Yang disampaikan Putu Wijaya: “Waktu SD, saya sudah mengarang, tetapi terlalu jauh untuk memikirkan kelak akan jadi pengarang. Tidak terpikirkan meskipun saya ada bakat bercerita.” Ia telah menerima takdir sejak dini. Si bocah yang tidak membutuhkan peramal mengenai nasibnya di masa depan. Yang dilakukannya adalah bercerita sampai akhirnya sungguh-sungguh menjadi pengarang yang tidak bisa “dihabisi” atau “ditamatkan”. Mengapa ia tidak bosan bercerita?
Pengarang yang sering dalam kemujuran. Kita simak saat remajanya: “Di SMP, saya menulis cerpen yang pertama kali dimuat di koran lokal Suluh Indonesia. judunya Etsa. Berasal dari judul kumpulan puisinya Toto Suddarto Bahtiar. Etsa itu nama seorang wanita. Ceritanya tentang seorang yang menyatakan cinta kepada temannya agar ia bersemangat belajar sehingga lulus.” Bila mau mencarinya, cerpen itu dapat ditemukan. Cerpen dapat ditaruh di babak awal kepengarangan saat ada orang yang mau menulis biografi Putu Wijaya seribuan halaman. dulu, Ada buku mengenai dirinya yang diterbitkan Grasindo: tipis dan tidak lengkap. Kita menginginkan yang tebal dan bermutu.
Di Indonesia, ia pengarang yang tidak mau lelah. Buktinya terlalu banyak tulisannya. Padahal, ia membuat pengakuan: “Sehingga, menulis bagi saya bukan lagi sebagai kesenangan. Dalam keadaan tidak kepengen menulis, dalam keadaan macet pun, kata-kata itu jadi berbisa untuk diri saya. Menulis itu perjuangan, bekerja, dan dengan cucur keringat. Berkeringat. Tadinya, menulis itu bukan dengan keringat karena menulis itu kenikmatan. Tetapi dengan kata-kata itu sifatnya jadi fisik. Kita harus mencari kesempatan. Kita harus menerobos. Kata berjuang itu yang kemudian hidup dalam diri saya dan menggelepar-gelepar kemudian mengubah diri saya dalam banyak hal.”
Pengakuaan dari masa 1990-an saat ia sudah sangat tenar dalam sastra Indonesia. Kita menganggapnya masih berlaku sampai sekarang. Ia seperti melakukan peristiwa tak bisa digugat. Yang terjadi adalah menulis, menulis, menulis, menulis. Seharusnya, kita menunggu perkataan-perkataan saat ia sudah 80-an tahun untuk menguji cocok atau tidaknya dengan yang disampaikan pada masa lalu.
Pelbagai penghargaan sudah diberikan kepada Putu Wijaya. Ia belum selesai saat pengarag-pengarang di Indonesia adu keluhan, Pengarang sepuh itu tetap ampuh. Ia yang merayakan takdir, yang belum pensiun atau menyerah.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











