Satu ditambah satu sama dengan tiga.
Dua ditambah dua sama dengan lima.
Tidak peduli apa orang kata;
aku adalah berontak sejatinya.
*Catatan penyair:
Saat bimbingan dengan Pak Paragraf,
puisi saya dibanting dan diludahi.
Katanya, untuk lulus dari Universitas Kata,
saya perlu menjadi manusia biasa,
saya harus mengikuti jalan masyarakat tangga
dan tidak boleh terjun atau menepi darinya.
Katanya lagi, kalau saya masih tetap ngeyel
dan tidak mau merevisi puisi saya,
saya bakal ditendang dari Universitas Kata
dan dibiarkan luntang-lantung mencari makna
di dunia penuh anomali yang menjadi realita.
*Sepuluh tahun kemudian:
Benar kata Pak Paragraf.
Hidup ini sejatinya mencari jalan tengah,
bukan lagak hebat keluar jalan.
Saya dihajar habis-habisan oleh dunia
karena sejak dulu saya percaya bahwa
apa yang saya lihat benar adalah benar.
Saya kecewa pada fakta bahwa
satu ditambah satu sama dengan dua
dan dua ditambah dua sama dengan empat.
Saya jadi percaya apa orang kata
sebab berbeda tersingkir sejatinya.
***
Rutuk
Dan malam pun tiba,
akan menjelma tanah diriku
untuk mengakar kuat dan tinggi
agar tunas dapat tumbuh dari mayatku
yang sudah membusuk di pagi hari.
***
Remang
Ingar bingar dunia tak membuatnya mati
Sebab ada satu hal yang ia tahu pasti
Bukan di mana kita berpijak
Tapi bagaimana kita bergerak
Dunia sudah penuh dan rusuh
Gelap bayangan adanya karena sesak
Pun dengan sudut-sudut sulit
Tak pernah bisa dijamah cahaya
Tak perlu menjadi lampu sorot
Yang selalu garang menebas rintang
Cukup menjadi lampu temaram
Yang selalu tenang di kala remang
*) Image by istockphoto.com
















