KURUNGBUKA.com, CILEGON — Dalam upaya merawat dan melestarikan budaya lokal, siswa MTs Al-Khairiyah Karangtengah menggelar tradisi bebotokan di lingkungan madrasah pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas IX sebagai bagian dari rangkaian ujian praktik mata pelajaran Seni Budaya.

Tradisi bebotokan merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil panen. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan bebotok, tumpeng, serta berbagai hidangan lainnya untuk didoakan bersama sebagai wujud syukur kepada Allah SWT.

Kepala MTs Al-Khairiyah Karangtengah, Ayatulloh, menyampaikan bahwa pemilihan tema tradisi bebotokan bertujuan untuk melibatkan siswa secara langsung dalam pelestarian budaya.

“Saban tahun kami mengambil tema lokalitas untuk praktik Seni Budaya di kelas IX. Sebelumnya kami mengangkat tema kuliner lokal, yaitu gerem asem. Tahun ini kami mengambil tema tradisi bebotokan agar siswa dapat menjadi bagian dari pelestarian kebudayaan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok siswa menyiapkan bebotok yang terbuat dari tepung beras sebagai hidangan utama. Selain itu, disajikan pula berbagai makanan khas lainnya, seperti nasi, urab, gegodoh, gegesek goreng dan jenis makanan lokal lainnya.

Setelah seluruh hidangan dikumpulkan di satu tempat, siswa bersama tamu undangan duduk bersila untuk mengikuti prosesi doa bersama. Sebelum doa dimulai, tokoh agama membacakan manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani atau yang dikenal dengan istilah memace.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, di antaranya Ketua Yayasan Banu Al-Qomar, dewan guru, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, serta perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC).

Melalui kegiatan ini, dewan guru berharap siswa tidak hanya memahami budaya secara teori, tetapi juga mampu menghayati dan melestarikannya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat nilai kebersamaan, budaya, dan karakter siswa. (rls/kin)