KURUNGBUKA.com – 2025 adalah tahun yang muram sekaligus tahun yang menambah cara baru saya memandang dunia, serta bahasa yang membentuknya. Saya diam-diam membenarkan apa kata Taylor Lorenz dalam bukunya Extremely Online (Simon & Schuster, 2023) mengenai internet dan dunia daring sebagai sebuah revolusi, mengubah seorang introvert menjadi penampil, memampukan kita menonton ‘dunia’ secara real-time, kapan pun kita menginginkannya. Dunia benar-benar berada di ujung telunjuk.
2025 adalah tahun yang muram. Tahun ini mengubah cara kita memaknai affan. Nama itu kini tidak hanya berarti sederhana, berbudi luhur, murni, pemaaf, suci dan rendah hati, melainkan martir rezim, simbol yang mengingatkan kita pada satu nama lain, Munir.
Tahun 2025 juga menunjukkan betapa warna juga bisa menjadi bahasa yang menggerakkan. Bagaimana biru tidak lagi melambangkan ketenangan, awan biru cerah atau laut yang menyimpan kedalaman yang misterius, melainkan biru yang tangguh, yang siap menghadapi apa saja demi apa yang kita anggap benar. Bahwa pink tidak selalu romantis yang penuh kelembutan dan cinta, bisa juga berarti keberanian untuk menyuarakan kemuakan dan rasa lelah dianggap bodoh oleh penguasa. 2025 mempertegas gradasi warna hijau yang lain, hijau yang menyelamatkan kewarasan kita dari tiran, hijau yang menunjukkan bahwa kita masih peduli pada mereka yang ditindas, kita mampu bergerak bersama memperjuangkan apa yang masih kita yakini sampai hari ini.
Bagi saya, tahun 2025 juga mempertanyakan kembali apa sejatinya cinta tanah air. Ketika bendera one piece dilarang, saya melihat bagaimana nasionalisme sungguh dipandang sempit bagi mereka yang mengaku memiliki negara ini, seolah kata itu adalah harga mati yang tidak boleh dipertanyakan sebagaimana ayat-ayat dalam kitab suci. Bahwa kita harus mencintai negara ini tanpa tetapi, meski setiap hari akal sehat kita diuji. Bahwa kita tidak boleh kecewa dan marah, seburuk apa pun negara memperlakukan kita. Padahal, kekecewaan dan kemarahan itu juga satu bukti bahwa kita masih cinta, masih peduli, masih ingin melihat tanah air tempat bernapas dan mencari nafkah ini sebagai sebuah tanah yang layak kita banggakan.
2025 juga membuat saya sadar kekuatan algoritma, dan belajar bijak untuk tidak termakan rage bait. Word of the Year 2025 versi Oxford Dictionary itu mengingatkan saya pada video kecaman pada 26 November 2025 terhadap Anita Dewi, seorang penumpang KAI yang kehilangan tumbler, video yang membuat warganet kompak memaki-maki sekaligus teralihkan dari banjir bandang dan tanah longsor yang sedang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Bencana sosial Sumatra itu (ajaibnya) juga yang mempertemukan saya dengan kata baru, ekosida. Istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Profesor Arthur W. Galston pada Konferensi tentang Perang dan Tanggung Jawab Nasional di Washington itu mengacu pada kerusakan lingkungan besar-besaran akibat ‘Agent Orange’, herbisida yang digunakan militer AS selama Perang Vietnam (1962-1971). ‘Agent Orange’ yang diambil dari garis oranye pada drum penyimpanan herbisida itu, merupakan campuran zat kimia berbahaya: dioksin TCDD, yang menyebabkan masalah kesehatan serius jangka panjang seperti berbagai jenis kanker, cacat lahir, dan penyakit lainnya.
Selain ekosida, tahun 2025 juga memperkenalkan saya kata yang mirip-mirip, bibliosida, mengacu pada penyitaan bacaan kawan-kawan yang diduga memprovokasi demo berdarah pada akhir Agustus 2025. Opini Markus Togar Wijaya di Kompas pada 26 September 2025 menjelaskan definisi bibliosida sebagai penghancuran atau pemberangusan pengetahuan. Opini itu rujukan bagus mengenai satu jenis elergi yang rupanya eksis di tangan para pengontrol kekuasaan negeri ini, yaitu alergi membaca.
Kata-kata yang berseliweran di media sosia pada 2025 sekali lagi menyadarkan saya, betapa keriuhan media sosial dan informasi yang semakin masif tidak memberi kita waktu banyak untuk mencerna (saya banyak menyimpan konten-konten di Instagram, X dan Threads, berpikir suatu hari konten-konten itu akan berguna, persis seperti penimbun barang yang mengamankan banyak benda yang sebetulnya tidak benar-benar ia butuhkan). Kita akrab dengan video-video slop kualitas buruk bikinan kecerdasan buatan, susah percaya kalau itu AI karena kemiripannya yang luar biasa dengan video-video buatan manusia. Konten-konten slop itu juga mengingatkan saya dampak buruk dan sisi gelap media sosial yang pernah saya saksikan dalam film the Social Dillemma, bahwa platform seperti Google, Facebook, dan Instagram (kini Tiktok) memang dirancang untuk membuat ketagihan (tak heran saya lebih banyak scrolling daripada menuntaskan bacaan), memanipulasi perilaku, polarisasi sosial, mengeksploitasi data pribadi, serta menimbulkan masalah kesehatan mental, dan penyebaran misinformasi yang semakin brutal dan ugal-ugalan (ingat video Ibu Sri Mulyani yang mengatakan guru sebagai beban negara ‘kan?).
Ada satu istilah hype machine, yang diperkenalkan oleh Sinan Aral mengenai bagaimana posisi media sosial dalam rutinitias kehidupan sehari-hari. Melalui bukunya The Hype Machine (2020), Aral mereka-ulang fungsi sebuah mesin yang membuat kita terkoneksi satu sama lain, bagaimana mesin itu memberi petunjuk orang yang sebaiknya kita ikuti, buku apa yang harus dibaca, barang-barang yang sebaiknya kita beli, siapa yang seharusnya kita dengarkan, hingga mengubah perilaku dan pendapat kita tanpa sadar. Dalam prosesnya, mesin itu juga mengubah cara kita berbahasa. Barangkali, kini kita fasih mengucapkan kata-kata seperti teman kandung, yatim pasif, jump in, vibe check, NPC, cowok red flag, spill the tea, drama queen, yapping, skibidi, chill, dan sigma, kadang tanpa benar-benar memahami konteksnya.
Di luar semua kemuraman dan kemurungan, 2025 juga telah mengubah cara kita tertawa (juga berkomentar tawa). Berkat video unggahan @clapsucius, kita tidak lagi mengetik wkwkwkwk, qiqiqi, atau hahaha pada unggahan/komentar lucu teman, tetapi ang ang ang. Lalu, berkat lagu viral Faris Adam Stecu-stecu, kita menyebut cuek dengan stecu (setelan cuek).
2025 juga telah menambah daftar kosakata baru yang harus saya pahami agar dapat berkomunikasi dengan keempat anak saya (dua di antara mereka adalah Gen Z, dan dua orang lagi Gen Alpha). Waktu layar yang saya hadiahkan kepada mereka tiga jam sehari menyumbang kosakata yang akhirnya mereka percakapkan di rumah. Jika tahun-tahun sebelumnya, mereka mengakrabkan saya kata-kata slay, bombastic side eye, emotional damage, pada tahun tahun ini mereka mengenalkan saya 67, intrusive thoughts, rambunctious, rizz, danpuluhan daftar kata lain yang membuat dahi saya berkerut. Saya mengikuti mereka dengan gagap, menyandarkan pertanyaan mereka pada mesin pencari setiap kali mereka bertanya apa arti sebuah kata yang mereka temukan hari itu, atau kadang sebaliknya, saya menjadikan mereka tempat mengenyahkan rasa penasaran setiap saat saya menjumpai satu kata ’aneh’, yang akan dijawab dengan cepat oleh mereka, dengan kepercayaan diri yang penuh.
Satu hal yang saya percaya, kalau harus memilih kata-kata paling populer versi saya tahun ini, itu pasti singkatan MBG, menyusul ‘efisiensi’, ‘ya Allah’, dan ‘cacat logika’ di daftar pendek.
Kata-kata bagaimana pun memang membantu kita memahami dunia. Dunia yang seperti kata Sinan Aral, kini berdenyut dengan triliunan sinyal digital sosial, membombardir kita dengan aliran pembaruan status, berita, tweet, sapaan, unggahan, rujukan, iklan, beragam notifikasi dan godaan AI. Internet benar-benar telah secara bertahap mengubah segala sesuatu di sekitar kita: siapa yang kita kenal; bagaimana kita bertemu; bagaimana kita bekerja; bagaimana kita berkencan; bagaimana kita bersenang-senang; siapa yang sedang viral; apa yang lagi tren, siapa yang kita percayai; apa yang kita inginkan; dan siapa yang ingin kita dekati, juga mengajarkan bagaimana kita bisa dengan ringan menyeletuk oke gas setiap kali ada ajakan healing tipis-tipis atau hang out untuk mengobati otak yang perlahan membusuk.
*) Image by zsolt.blog
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







