“Baginya, Paris seperti mesin raksasa yang mendengung dan berdentum tanpa henti untuk menghasilkan dunia ilusi. Membuat orang-orang tertidur dengan wewangian tiruan alam buatan laboratorium, dan meninabobokan mereka dengan suara, cahaya buatan, dan oksigen palsu… Itulah tepatnya yang Jean Perdu rasakan, dibanjiri persepsi-persepsi hipersensitif yang belum pernah dialaminya di kota. Betapa sakit paru-parunya bila menarik napas dalam-dalam! Bagaimana telinganya meletup dalam kemerdekaan sekaligus kedamaian yang tidak familier. Bagaimana penglihatannya pulih karena melihat bentuk-bentuk kehidupan. Bau sungai, udara lembut, ruang terbuka luas di atas kepala.”

(Nina George, The Little Paris Bookshop, Gramedia, 2017)

KURUNGBUKA.com – Perdu di kota. Ia lama membentuk biografinya di Paris. Di kota, ia tak menjanjikan diri menjadi manusia yang bahagia. Perdu justru kehilangan banyak hal, selain merasakan siksa-siksa setiap hari. Kota memang menandakan peradaban yang agung. Kota itu kemajuan dan pembentukan masa depan yang fantastis. Namun, Perdu tidak sepenuhnya percaya bahwa kota adalah kebenaran tertinggi.

Kota memiliki aib-aibnya dan petaka-petaka yang susah ditanggulangi. Kota yang terlihat indah justru mengungkapkan keburukan-keburukan yang tidak dapat disangkal. Indah yang biasanya dimiliki kota-kota dalam dongeng bukan keniscayaan bagi yang hidup di Paris selama bertahun-tahun. Kota besar bukan tempat terbaik untuk kehidupan yang membahagiakan dan lolos dari jeratan kesemuan-kesemuan.

Yang disampaikan Perdu itu menggelitik, yang menyatakan Paris adalah “mesin raksasa”. Mesin yang tidak memberi kedamaian, mustahil memberi keheningan. Mesin itu keramaian, kecepatan, kebisingan, dan lain-lain. Kota dalam kesibukan yang membuat manusia letih dan dunia cepat compang-camping.

Apa yang dihasilkan oleh mesin raksasa? Perdu menjawab: dunia ilusi. Ia jujur dalam mengungkapkan pengalaman hidup di kota. Yang dialaminya dan dihadapinya adalah ilusi-ilusi yang selalu tercipta, yang membuat dirinya kewalahan. Mesin yang mengakibatkan derita yang tidak habis-habisnya. Kesadaran itu tetap membuatnya berada di Paris. Penentu terpenting adalah buku dan perjumpaannya dengan orang-orang. Buku-buku masih memberi panggilan menghindari serbuan ilusi. Yang terperosok dalam buku-buku mengaku tidak terlalu buruk bila membandingkan keberadaannya di Paris.

Maka, Perdu bergerak menjauh dari Paris. Ia hanya sejenak meninggalkan kota, menuju suatu tempat yang dianggapnya kebalikan dari Paris. Ia merasa ada di ujung dunia, berharap merasakan keheningan. Kemustahilan di kota bisa diwujudkan di tempat idaman.

Minggu yang dimilikinya tidak lagi disiksa kota. Ia berada di suatu tempat yang memulihkan atau mengembalikan yang silam. Selama di kota, yang bernafas memang hidup tapi menyusun penyakit-penyakit, terutama paru-paru. Kota itu polusi. Perdu sempat membahasakan: “oksigen palsu”. Di sana, udara biasa membunuh dan menyiksa. Perdu meyakini kota dapat membunuh orang gara-gara udara meski sempat ditipu dengan wewangian yang tidak otentik. Cara hidup yang buruk. Orang dalam kebohongan-kebohongan yang fatal.

Menjauh dari Paris, Perdu bahagia. Ia memiliki kepekaan-kepekaan kembali, yang telah lama menghilang di kota. Di alam yang terbuka, Perdu sanggup mendapatkan bau sungai. Wujud dan suasana yang berbeda bila ia membandingkan dengan sungai yang ada di Paris. Udara pun diperolehnya tanpa ilusi dan kepalsuan. Yang berada di alam, yang hidup dalam bahagia. Namun, Perdu mengerti pengalaman itu sejenak. Pada akhirnya, ia kembali ke Paris, tinggal di kota dengan konsekuensi-konsekuensi yang memaksa kompromi.

Ia tidak mutlak membenci kota tapi telanjur nelangsa. Pada Paris, ia mengeluh dan mengolok-olok tanpa bisa berpisah selamanya. Di kota, ia membentuk dirinya sebagai manusia yang memelihara pertentangan-pertentangan sambil merayakan imajinasi-imajinasi yang membuatnya selamat dari patah hati terburuk di dunia.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<