“Tetapi, Perdu tidak mau membiarkan bau-bau itu mempengaruhinya. Ia menolak pesona bau. Sekarang, ia sangat mahir mengabaikan semua yang memiliki kemungkinan menimbulkan perasaan rindu. Aroma. Lagu. Keindahan apa pun.”

(Nina George, The Little Paris Bookshop, Gramedia, 2017)

KURUNGBUKA.com – Kita diajak berkenalan dengan lelaki yang lugu sekaligus pintar. Ia menghabiskan hari-hari di ruangan yang menyimpang banyak kenangan. Pada saat ia sendirian, ia tidak ingin menghidupkan lagi segala perasaan terhadap perempuan yang pernah hidup bersamanya. Masa itu sudah lama berlalu. Perdu menyadari ada yang sulit hilang. Ada yang “menetap” tapi ia berusaha menyangkalnya. Yang ada di ruangan punya kemungkinan untuk menyibak kenangan. Hari demi hari, Perdu mencipta penghindaran dan perlawanan atas segala yang berasal dari masa lalu.

Perdu mendapatkan “penyelamatan” melalui kesibukan mengadakan toko buku di sungai. Ia bertemu dengan orang-orang. Di hadapan para pembeli atau pengunjung, Perdu dalam mengucap segala kata yang berkaitan isi buku. Pada buku-buku yang dijual atau dihadiahkan, ia seperti melakukan penolakan masa lalu. Yang terjadi adalah ikhtiar terhubung dengan banyak orang agar jeda atau waktu senggang tidak membuatnya jatuh dalam nostalgia yang menyakitkan dan membunuh.

Hidup bersama para tetangga pun menciptakan cerita-cerita yang lain. Perdu akrab dengan para tetangga, mengingat kekhasan mereka. Tahun-tahun yang dilalui bersama membuatnya tidak sendirian jika tak berada di toko buku. Maka, ia membuat daftar untuk bersikap atas kekhasan para tetangga. Yang dimengertinya adalah omongan, pakaian, kebiasaan, dan lain-lain. Perdu mengerahkan perhatiannya kepada banyak orang ketimbang mengarah ke diri sendiri, yang akibatnya fatal.

Pada buku dan para tetangga (teman), Perdu masih dapat menikmati hidup, yang bergantian memberi suka dan duka. Ia betah hidup. Perdu tetap mengartikan hari dengan buku-buku. Pada setiap peristiwa, ia ingin hadir bersama yang lain untuk beragam kepentingan.

Namun, pembaca menemukan masalah bau, yang membuatnya bisa terjebak rindu. Bau atau aroma itu senantiasa teringat. Yang tidak diinginkan adalah bau yang membawanya menuju masa lalu, menuju adegan-adegan yang pernah bahagia sebelum derita. Ia menyadari hal-hal yang membuatnya tersiksa kenangan. Mengapa yang keranjingan cerita-cerita terkandung dalam buku malah rentan merana gara-gara rindu?

Bau mengakibatkan rindu? Perdu sangat peka. Ia bakal membuat seleksi agar terhindar dari bau yang benar-benar menghidupkan rindu. Lelaki yang tidak mau kalah oleh rindu meski mengalami kesulitan dan menemukan absurditas. Apakah cuma bau yang mencipta rindu? Perdu pun mencurigai bahwa lagu-lagu pun dapat memberi siksaan rindu. Padahal, ia tidak ingin menjadi perindu. Anehnya, buku tidak terlalu dimusuhi bila berkaitan rindu.

Bagaimana ia mengatasi kesulitan hidup saat rindu adalah petaka? Kegandrungannya membaca buku yang membuatnya berlimpahan cerita justru tidak diperalat untuk rindu. Ia membagikan beragam cerita kepada orang-orang yang dianggap membutuhkannya. Jadi, buku dan omongannya untuk orang lain yang menanggungkan perasaan-perasaan yang dapat ditebak. Perdu memilih memberi perhatian kepada mereka, yang akhirnya mau menerima buku atau mengelak.

Yang ingin dicapainya adalah menangkal rindu. Umur bertambah, masalah-masalah bertambah. Ia tetap ingin terlindung dari rindu. Kita yang membaca novel gubahan Nina George itu merasa geli tapi terharu. Perdu yang memuliakan buku sebenarnya ketakutan dengan rindu. Situasi yang pelik tapi kita menemukan keluguan, kerumitan, keraguan, dan kepastian. Namun, pembaca dibingungkan dengan rindu yang seolah neraka bagi Perdu. Mengapa ia tidak menghabisi atau mengharamkannya dengan serangan buku-buku.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<