Ia telah menuntaskan enam tahun di sekolah dasar, enam tahun di sekolah menengah, empat tahun di universitas, dan sekarang ia merasa tak tahu apa-apa soal kenyataan di sekitarnya.

Di jalan itu, ia mendengar letusan, jerit kesakitan, seruan-seruan; ia menyaksikan orang-orang mengejar dan dikejar, memukul dan dipukul; ia menyaksikan batu-batu, potongan kayu, dan botol-botol berapi dilontarkan para pemuda dengan penuh murka ke barisan polisi yang berderet bagai dinding besi.

Selintas lewat dalam benaknya, alangkah baik jika orang-orang itu duduk-duduk santai, mengobrol soal apa saja yang tak ada hubungannya dengan batu, dengan api, dengan pukulan, dan seruan-seruan. Namun, pikiran itu langsung berlalu ketika seorang pemuda berseru: “Maju, Bung! Maju!”, dan seorang pemuda lain juga berseru: “Maju, Bung! Maju!”

Dengan gerak hampir linglung ia menyingkir ke teras toko fotokopi. Penjaga toko telah bersiap menutup pintu gulungnya. Bunyi logam yang ditarik tergesa-gesa mengoyak udara hampir bersamaan dengan suara letusan dari arah timur. Penjaga toko fotokopi, bersama seorang rekannya, kabur dengan motor.

Secara naluriah ia menempelkan tubuhnya ke pintu toko ketika barisan polisi menyerbu para demonstran. Beberapa demonstran terjatuh, langsung ditendang dan dihantam pentungan. Seorang demonstran berlari ke tepi, polisi menangkap kerah bajunya, dua polisi lain menyusul, demonstran itu terkurung. Ia melihat kepala pemuda kurus itu dibenturkan ke tembok toko. Belum sempat roboh tubuh demonstran itu telah dihujani tendangan dan pukulan.

Demonstran itu mengenakan almamater, dan itu adalah almamater dari universitas yang sama tempatnya dulu belajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Selama menjadi mahasiswa ia tak pernah ikut demonstrasi, ia tak berminat bergabung dengan segala macam pergerakan. Ia mahasiswa yang patuh, menjalankan segala hal yang semestinya dijalankan seorang mahasiswa, menurut keyakinannya saat itu. Sekarang ia ketakutan. Bagaimana kalau para polisi juga memukulinya? Bagaimana kalau para demonstran mengira ia mata-mata?

Beberapa demonstran menyerbu tiga polisi yang menggebuk pemuda tadi. Mereka saling hantam. Begitu pemuda tadi berhasil dilarikan kawan-kawannya, para demonstran segera menjauh. Menyaksikan semua itu tepat di depan matanya, tiba-tiba tubuhnya lemas, ia merasa cengeng, merasa tak mempunyai peran apa-apa. Dari arah utara, dari arah gunung yang tegak menjulang, awan gelap merangkak, angin bergegas kencang. Dalam waktu singkat, gumpal awan telah menabir matahari, menghamparkan kesan suram di permukaan jalan. Demonstran dan polisi kembali saling hantam. Sebutir batu melayang ke pintu gulung toko fotokopi, hampir mengenai kepalanya. Ia merunduk, merasa maut hendak merenggut.

Oleh karena tak merasakan apa-apa, tak merasakan maut yang sesaat lalu disangka mendekat, ia menengok ke arah kiri; para demonstran makin banyak, mereka datang dari arah kampus. Lantas ia menengok ke kanan; pasukan polisi juga makin banyak, mereka datang dari arah jalan tempat pusat pertokoan berada.

Kilat berkedip di angkasa, serupa blitz dari tustel wartawan lama. Bunyi guruh merayap dari kejauhan. Langit tambah gelap, hujan akan segera tumpah. Ia ingin pulang; ia ingin meringkuk di kasurnya yang kumal. Ia berdiri, memutar badan ke kiri, ke arah para demonstran.

Saat itu, para demonstran serentak maju ke kalangan, melontarkan batu dan botol-botol, melempar seruan dan makian. Pasukan polisi menyerbu. Para demonstran tidak mundur, mereka terus maju.

Bersamaan dengan itu hujan turun, demikian cepat, demikian kuat seakan ingin terlibat dalam pertempuran. Ia belum mencapai garis wilayah para demonstran ketika dua kelompok sudah kembali bertubrukan. Meski ia menyusuri teras pertokoan agar terhindar dari pertempuran, tapi pertempuran tak membiarkannya berlalu begitu saja. Ia tertubruk.

Tubuhnya basah, telinganya berdengung. Beberapa kali ia tertubruk dan terbentur kembali. Beberapa pemuda di dekatnya terhantam pentungan, beberapa pemuda lain menerjang perisai polisi.

Di tengah pertempuran ia melihat seorang perempuan menyusup, meraih tangannya, berusaha mengeluarkannya dari pusaran kekacauan.

Setelah terjungkal-jungkal, ia berhasil menjauh, menuju satu sudut, di mulut sebuah jalan kecil, di mana perempuan itu berhenti, melepaskan genggaman dari lengannya, dan menepi ke teras sebuah toko buku. Separuh wajah perempuan itu tertutup bandana merah—ia tidak berkata apa-apa, ia cuma berupaya menepiskan air dari lengan bajunya, dari celananya, dari rambutnya yang bergelombang.

“Oh, negara buta tuli, dan semoga hujan menyalakan nyali kami,” ujar perempuan itu. Ia tidak menimpali, tidak tahu bagaimana menimpali. Ia raba samping kanan kepalanya, ada darah di jari-jari. Apakah ia perlu berucap terima kasih? Enam belas tahun, dari siswa sampai mahasiswa, ia tidak pernah mendapat pelajaran tentang demonstrasi.

Perempuan itu mengamat-amatinya dengan teliti, lalu bilang, “Kau tidak ikut turun, kau bukan bagian dari massa aksi.”

“Saya tidak mengerti politik,” jawabnya.

“Tidak mengerti atau tidak peduli?”

Ia menatap hujan dan terlintas dalam benaknya bahwa kekacauan akan surut sebab hujan biasanya akan membuat orang menyadari betapa mereka tak berdaya di hadapan alam yang maha kuasa. Akan tetapi, tampaknya para demonstran tak sedikit pun peduli; air hujan terlalu lembut bila dibanding semprotan meriam air dari para polisi anti hura-hura yang sebelumnya telah mereka hadapi dalam hari-hari panjang perlawanan.

“Sayang sekali kekuatan sipil tak pernah betul-betul dibangun,” lanjut perempuan itu. “Selama seperempat abad terakhir, isu-isu politik kekuasaan terlalu merasuki pikiran kita sehingga kita cuma membicarakan siapa yang akan menang, siapa yang akan kalah, dalam pemilu.

Kalau sejak awal kita membangun kekuatan sipil, peristiwa ini tidak akan terjadi. Ketika kita terperangkap isu politik kekuasaan, vampir-vampir tua itu menyiapkan jalan mereka untuk kembali. Bertahun-tahun mereka memperlebar celah kelemahan kita. Para agen yang mestinya bisa membangun kekuatan sipil diarahkan ke hal-hal tiada berguna; para intelektual sibuk mencari jabatan, para akademisi sibuk mengurus administrasi dan akreditasi, para seniman repot memikirkan sumber dana untuk proyek-proyek mereka yang nyaris cuma pesta-pestaan.

Ketika generasi baru lahir dan tumbuh dewasa, mereka mengambang tanpa basis pikiran. Mereka menghabiskan enam tahun di sekolah dasar, enam tahun di sekolah menengah, dan sedikitnya empat tahun di universitas, tanpa betul-betul mengerti kenyataan yang membentuk cara mereka berpikir. Mereka tumbuh tanpa kesadaran apapun tentang masa lalu, kecuali sejumlah kecil mitos.

Sementara itu, vampir-vampir mulai membangun kerajaan-kerajaan kecil mereka, menyusupkan setiap anggota keluarga ke jabatan-jabatan tertentu. Kerajaan-kerajaan kecil itu kemudian berkoalisi, membangun jejaring, menjadi kerajaan besar. Dan sekarang koalisi kerajaan itu yang berkuasa, atau telanjur berkuasa, sebab kekuatan sipil absen untuk menjaga, dan terus-menerus menjaga, agar kekuatan lama, para vampir itu, tidak bangkit kembali.”

Tanpa sadar ia memerhatikan perempuan itu berbicara, atau tepatnya memerhatikan suaranya, suara yang terasa pernah akrab di telinga. Merasa dirinya diperhatikan, perempuan itu balik menatap. “Kenapa?” tanyanya. “Kau melihat dirimu dalam kata-kataku? Tentu saja, aku berbicara tentang dirimu. Kau, yang percaya bahwa rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, dan segala pangkal-pangkal lainnya. Kau yang percaya bahwa dengan gelar sarjana hidupmu akan lancar dan baik-baik saja. Kau yang percaya bahwa gelar sarjana akan memudahkanmu mencari pekerjaan; kau yang percaya bahwa yang termasuk pekerjaan hanyalah apa-apa yang menghasilkan uang. Kau tidak pernah berpikir bahwa di bawah watak feodal, gelar sarjana tidak lain adalah gelar kebangsawanan, dan gelar kebangsawanan tidak bisa membuatmu mendapatkan pekerjaan.”

Sekarang suara dan cara bicara perempuan itu telah betul-betul ia kenali, melontarkannya ke suatu peristiwa di universitas, ketika ia baru memasuki semester tengah. Saat itu, seorang rekan mahasiswa tidak pernah lagi masuk kelas setelah berupaya menuntut para pejabat kampus atas kasus penggelapan uang. Meski beredar kabar bahwa rekannya itu dikeluarkan karena perbuatan asusila, ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi, ia tahu sebab ia adalah orang yang membocorkan upaya rekannya itu ke pihak rektorat. Kejadian itu kemudian ditutupi dengan berbagai cara sehingga bahkan nyaris lenyap dari ingatannya.

“Sri?” ucapnya lirih.

Mata perempuan itu menyipit.

“Sri? Siapa Sri? Pacarmu? O, pemuda romantis di tengah demonstrasi, semoga hujan menumbuhkan kembali pohon cintamu yang tumbang ditebang negara…” Perempuan itu menepuk-nepuk pundaknya beberapa kali sebelum melesat ke arah kerumunan para demonstran.

Di luar harapannya, hujan mulai reda, angin basah menerbangkan asap ke mana-mana, melayang-layang sebelum lenyap di udara. Ia menghidu bau benda terbakar, ia merasakan dirinya kian susut dan tiada berguna, lebih tidak berguna dari apapun di dunia.

Tubuhnya merosot ke lantai, wajahnya ia tutup dengan kedua tangan, lantas ia meringkuk, seakan-akan hendak kembali menjadi janin, yang merasa hangat, merasa aman di rahim ibunya, dan kelak akan lahir di zaman yang berbeda, zaman di mana ia bisa tumbuh menjadi manusia yang gilang gemilang.*

*) Image by istockphoto.com