Zhao Duofu meringkuk seperti janin, berusaha keras mengabaikan hawa dingin yang menusuk tulang. Kedua giginya beradu, terus bergemeletuk. Dia mengecilkan postur tubuhnya agar sepotong kain lap dapat menyelimutinya dengan baik.
Kalau dipikir-pikir, kenapa dia harus bertahan dengan gigih? Sementara Ayah Kaisar yang pengecut dapat menyelamatkan diri dari masalah hanya dengan mengorbankan putrinya.
Apakah ini layak?
Tapi kata-kata pria berbaju besi itu kembali menyalakan bara yang nyaris padam dalam dirinya.
“Putri, tidak peduli kesulitan apa yang menanti, saya pasti akan berusaha menyelamatkan Anda dari Kekaisaran Jin.” Postur yang tegap, nada yang penuh kesungguhan, dan sepasang mata indah berbentuk bunga persik—setiap detail dari sang jenderal mengakar kuat di hati Zhao Duofu. “Anda harus menunggu saya. Kemudian Anda pasti dapat kembali ke Kekaisaran Song dan menjalani hidup yang baik.”
“Feng Lu.” Hanya dengan menggumamkan nama orang itulah Zhao Duofu mampu menghibur dirinya sendiri.
Terlepas dari apakah Feng Lu layak untuk dipercaya, setidaknya dialah satu-satunya orang yang memberikannya harapan—bersinar bagaikan lentera penunjuk arah di antara kabut yang membutakan.
Di saat kelopak mata Zhao Duofu makin berat dan kesadarannya hendak berlayar ke alam mimpi, terdengar langkah kaki.
Gadis itu membuka matanya dengan waspada. Sekujur tubuhnya tegang bukan main. Dia duduk dengan menempelkan punggung di dinding.
Terakhir kali Kasim Chao datang mengunjungi leng gong (istana dingin) hanya untuk menendang dan menyuruhnya menggonggong seperti anjing.
Mungkin bagi kasim tua yang eksentrik, hal-hal ini merupakan kesenangan baru dalam mengisi kebosanannya. Menyaksikan betapa putus asa putri negara musuh yang telah jatuh ke dalam tumpukan lumpur; sambil menebak-nebak sampai di mana batas ketahanannya.
Pupil mata Zhao Duofu menyusut. Benar saja, Kasim Chao-lah yang datang. Tapi kali ini dia tidak sendirian. Ada gadis cantik yang mengenakan mantel bulu rubah di belakangnya.
Gadis itu melangkah maju. Menyapu sosok berpakain lusuh dengan tatapan merendahkan. “Zhao Duofu?”
Melirik dari sudut matanya, Zhao Duofu tetap diam. Tanpa ada tanda-tanda akan merespons.
“Ha!” Gadis itu mengentakkan kaki dengan tidak sabar. “Kasim Chao!”
Sebelum menyadari apa yang terjadi, Zhao Duofu mendapati kepalanya mendongak. Jari-jari yang dingin dan keriput itu mencengkeram dagunya—menyebarkan sensasi merinding di sekujur tubuh.
Hampir secara naluriah, Zhao Duofu ingin melawan. Namun, ide tersebut segera dihapus.
Dulu dan sekarang berbeda. Zhao Duofu hanya bisa pasrah. Dia bukan lagi seorang putri yang terlindungi di balik tembok istana. Dia tidak lebih dari seorang tahanan berdosa di Kekaisaran Jin.
“Kecantikanmu memang layak hingga membuat saudara laki-laki ketiga tergila-gila.” Komentar itu jelas dipenuhi kebencian. “Tapi kamu bertindak terlalu jauh dengan melukai kakakku! Dia bahkan belum bangun setelah kepalanya dihantam botol anggur!”
Sekarang Zhao Duofu mengenali identitas tamunya yang sombong ini. Siapa lagi kalau bukan Sima Yue? Dia dan Sima Yu—pangeran ketiga Kekaisaran Jin—kabarnya lahir dari ibu yang sama.
Sima Yue maju lagi satu langkah. Kali ini, dia sengaja menginjak punggung tangan Zhao Duofu dengan sepatunya yang bersulam bunga peony.
“Karena kakakku menderita, maka kamu harus lebih menderita!”
Dari awal sampai akhir, Zhao Duofu tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Bibir yang pucat dan pecah-pecah terkatup rapat, tertarik hingga membentuk garis lurus.
Dia harus bersabar.
Namun, kesabaran itu segera runtuh setelah kata-kata Sima Yue selanjutnya. “Tahukah kamu, aku mendapat kabar bahwa Kekaisaran Song dikalahkan sepenuhnya! Berkat jenderal terkenal Feng Lu yang melarikan diri, tentara Kekaisaran Jin berhasil membangun momentum dan menang.”
Baru saat itulah raut wajah Zhao Duofu terdistorsi. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, melepaskan diri dari cengkeraman Kasim Chao yang melonggar.
Tidak. Jangan percaya! Semuanya bohong!
Sima Yue menjauhkan kakinya dari telapak tangan Zhao Duofu. Tampak puas. Namun, nada bicaranya tetap provokatif. “Sayang sekali, beberapa antek Kekaisaran Song lolos dari jaring. Bahkan kabarnya saudara kesembilanmu akan membangun kembali Kekaisaran Song di daerah selatan. Ini sungguh lucu.”
Sima Yue terkekeh, suaranya terdengar seperti lonceng kematian. Dia terus berceloteh dengan gembira. “Mereka pikir, Kekaisaran Song bisa kembali bangkit? Jangan bermimpi! Dalam beberapa hari, aku akan pergi menemui kakak kesembilanmu sebagai Putri Zhao Duofu, lalu sekali lagi membimbing mereka menuju kehancuran.”
“Apa maksudmu?!” tanya Zhao Duofu melauli sela-sela giginya yang nyaris patah karena kebencian.
Tangan Sima Yue yang ramping menunjuk ke arah Zhao Duofu. “Mulai sekarang, kamu hanyalah tahanan yang harus menderita di leng gong.” Lalu menunjuk ke dirinya sendiri. “Sementara aku? Aku akan menjadi Putri Zhao Duofu yang berhasil melarikan diri dari Kekaisaran Jin.”
Kalimat terakhir Sima Yue bagaikan sambaran petir di hari yang cerah.
Bukankah ini berarti identitasnya sebagai putri juga akan dicuri? Maka, Zhao Duofu tidak akan memiliki apa pun yang tersisa. Bahkan sedikit harapan yang pernah dimiliki, telah diinjak-diinjak di bawah kalimat “Feng Lu melarikan diri”.
“Sekarang, setelah semua yang Putri katakan, apakah Putri merasa puas?” Ada nada sinis di balik kata-kata Zhao Duofu. “Putri pikir, nasibnya akan lebih baik dariku? Apa bedanya antara kamu dan aku?! Kita sama-sama alat yang digunakan untuk mencapai tujuan orang lain ….” Zhao Duofu tidak ingin lagi berpura-pura tenang. Matanya memerah, dan meski suaranya serak, dia tetap memuntahkan kata demi kata. “Putri, ingatlah! Sebuah ‘alat’ hanya akan dibuang setelah digunakan.”
“Lancang!” potong Sima Yue.
Sebelum Zhao Duofu dapat mengoceh lagi, Kasim Chao segera menjambak rambutnya. Kemudian memberikan tamparan 20 kali bolak-balik hingga pipinya bengkak dan berdarah.
“Zhao Duofu, camkan ini baik-baik!” kata Sima Yue sambil membelakangi Zhao Duofu yang terkapar di lantai. “Aku dan kamu berbeda. Kamu adalah alat yang cacat. Sedangkan aku adalah putri yang dicintai oleh surga. Nasib kita mengarah pada dua ujung spektrum yang berlawanan.”
Sima Yue melangkah perlahan diikuti oleh Kasim Chao. Suaranya tetap bergema di dalam leng gong. “Agar Kakak Ketiga tidak menginginimu lagi, besok para prajurit yang berpatroli di istana akan dikirim kemari. Dan kamu harus melayani mereka secara bergilir sebagai seorang pelacur rendahan.”
Sampai Sima Yue benar-benar menghilang dari pandangannya, Zhao Duofu tertawa seperti orang gila. Dia mencakar lantai hingga kesepuluh jarinya berdarah. Entah ingin melampiaskan kemarahan atau mungkin ketidakberdayaannya.
Yang pasti, dia merasa tersesat. Rupanya, setelah segala perjuangan, yang menantinya hanyalah jalan buntu.
Jadi, untuk apa hidup?
Tiba-tiba, tatapan Zhao Duofu tertuju pada gelang akar pohon yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Benda inilah satu-satunya yang tidak disita karena penampilannya yang tidak berharga.
Ingatannya kembali pada malam sebelum kepergiannya. Dia menemui Selir Shu yang dikurung di Kuil Buddha. Penampilan ibunya tampak menua dalam semalam.
Selir Shu dengan hati-hati memakaikan sebuah gelang di pergelangan tangan Zhao Duofu. “Kepala Biara sudah mendoakan gelang ini selama tiga ratus hari. Semoga dapat menyelamatkanmu dari bahaya.”
“Terima kasih, Bu,” jawab Zhao Duofu lembut. Dia tidak berani menangis. Faktanya, air mata tidak mampu memberikan solusi.
Selir Shu juga segera membuang muka, lalu berkata dengan penuh penyesalan. “ Maaf, hanya ini yang bisa Ibu lakukan.”
Begitulah perpisahan terakhir antara ibu dan anak.
Sekarang, Zhao Duofu fokus membongkar gelang tersebut menjadi untaian akar yang memanjang seperti tali. Lalu menggunakannya untuk gantung diri.
Daripada kehilangan kepolosannya, dia lebih suka meninggal di dalam leng gong. Biarkan tempat yang suram dan dingin ini menjadi peti matinya.
Di tengah-tengah rontaan akibat sesak yang mencekik, Zhao Duofu sekali lagi berpikir: Jika ada kehidupan selanjutnya, aku berharap tidak pernah lagi terlahir sebagai seorang putri. Sebab hanya ada akhir tragis yang menanti. []
*) Image by istockphoto.com
















