“Membaca buku yang panjang tanpa bersuara memerlukan kemampuan berkonsentrasi penuh dalam jangka waktu lama, atau kini menyebutnya ‘tenggelam’ di dalam halaman buku.”

(Nicholas Carr, The Shallows, 2011)

KURUNGBUKA.com – Kita tak sedang berada di kelas sebagai murid di sekolah dasar. Pada masa lalu, kita menjadi bocah patuh jika mendapat perintah. Guru memerintah agar murid-murid membaca buku di halaman yang sama secara bergantian. Membaca itu bersuara. Murid membaca buku di mejanya atau berdiri di depan kelas. Guru menginginkan murid-murid lancar membaca tapi membuatnya malu, tersiksa, berkeringat, sombong, dan lucu.

Murid di hadapan buku tidak selesai dengan matanya. Ia pun menyuarakan agar kata-kata yang tercetak di buku terdengar bersama. Guru atau sesama murid akan menyimaknya, berhak menyalahkan atau membenarkan. Membaca yang menjadikan bocah-bocah mengerti bahwa pembaca tak selamanya membisu atau diam.

Membaca tanpa bersuara, membaca yang tenang atau tegang. Posisi tubuh menentukan kekuatan mata dan waktu. Yang terpenting: kesanggupan kepala menikmatinya untuk dimengerti, diolah, dan disimpan. Mulut ditutup agar tidak “mengganggu”. Mulut mungkin akan terbuka saat merasa emosional. Mulut bisa mengeluarkan suara atau kata, yang menandakan tanggapan atas bacaan atau kondisi tubuh yang lelah.

Suara-suara di kepala. Pembaca membayangkan kata-kata yang dilihat di halaman-halaman buku berkerumun di kepala: menciptakan suara, warna, gerak, dan lain-lain. Suara tak sampai dua telinga. Suara yang tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Yang berkerumun dalam kepala itulah kenikmatan dan kelelahan. Pembaca yang menikmati tak sadar telah menghabisakan ribuan menit. Yang lelah bisa menutup buku atau menutup mata.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<