Sekuntum Dusta, Sekelopak Rindu
sekuntum dusta kupersembahkan
padamu yang menyimpan semesta cinta
aromanya kau kenali sebagai luka-lukaku
yang terus meratapi ketiadaan cumbumu
sekelopak rinduku menahan tangis
yang mulai bermekaran di malam-malammu
padamu yang selalu menyimpan air mataku
benarkah aku telah membakar cemburumu?
setangkai kasihmu berderet duri-duri
dengannya kucur darahku adalah sungai
yang membawa riak-riak rindu penantian
padamu yang telah menungguku di muara
benarkah rinduku telah sampai pada cintamu?
Ungaran, Agustus 2024
***
Nisan Waktu
tunas-tunas waktu
menumbuh pohon usia
pada batang-batangnya
kisah merupa dedaunan
berjejal lebat di tangkai takdir
akar-akar membaringkan musim
pada tanah-tanah basah
tempat kelak bunga ditaburkan
di antara nisan-nisan waktu
yang tak pernah kembali
Ungaran, Juni 2024
***
Mata Hati di Peralihan Musim
matamu sejuk hujan
hatiku kering kemarau
matamu menghangat unggun
hatiku mengembun dingin
mata hati kita
merupa peralihan musim
Ungaran, Juli 2024
***
Air Mata yang Meruap Duka
di matamu yang lelap
air mataku meluap
membanjiri dukamu
yang telah lama mukim
di luka-lukamu
yang tak kenal musim
di matamu yang rendam
air mataku meruap
melangitkan rupa doa
yang telah lama tergantung
di takdir-takdirmu
yang tak kenal ingkar
Ungaran, Agustus 2024
***
Konsesi Tarik Tambang
tugas rakyat: mengingatkan
tugas negara: melupakan
negara asyik bermain konsesi tambang
dengan makelar dan cukong
di rumah pejabat yang lapang
rakyat dibuat asyik bermain tarik tambang
di tanah-tanah adat yang lapang
: kelak disingkirkan
rakyat pernah mengingatkan
dan negara (lagi-lagi) melupakan
Ungaran, Juni 2024
*) Image by istockphoto.com












