“Aku menghormati orang-orang gembel, munafik, orang jahat, dan penipu. Lantas, bagaimana mungkin aku tidak menghormati kesedihan seorang wanita yang telah mengajariku cara memuja kesedihan dengan rasa prihatin padanya? Yang benar saja! Jauhi kesedihan! Menyerahlah pada takdirmu, berkubanglah dalam lumpur dari apa yang tersisa dalam hidupmu… Aku tidak punya tempat lagi untuk pergi! Ke mana lagi aku akan pergi? Di sini, paling tidak, aku bisa menemukan sebuah khayalan yang gila, sebuah ilusi yang sesekali menawarkan harapan sama.”

(Najib Mahfudz, Karnak Kafe, Alvabet, 2008)

KURUNGBUKA.com – Pengalaman menjadi manusia, pengalaman yang beragam: terbuka dan tertutup. Pada orang-orang yang telanjur dalam pengalaman macam-macam, yang saling bertentangan, upaya bertahan dengan hidup dilakukan dengan memberi rasa hormat kepada sesama. Yang dilakukannya adalah perwujudan kesetaraan, berusaha mengelak dari diskriminasi. Maka, orang yang dihajar pengalaman-pengalaman memiliki hak menghormati tanpa mudah memberi tuduhan dan pembakuan.

Ia mengerti kehormatan orang-orang yang berkuasa, tampil bijak, dan tebar kebaikan. Namun, dirinya mengerti bahwa ada manusia-manusia yang sebaliknya. Wajarlah, ia tetap memberi kehormatan kepada orang-orang yang “dimusuhi”, “dicemooh”, dan “disingkiri” kaum beradab. Yang dikatakannya tidak sepenuhnya benar tapi kemauan menghormati gembel, penipu, munafik, dan jahat adalah perwujudan penerimaan hakikat manusia.

Yang berusaha memberi kehormatan bukan sedang mabuk filsafat. Ia justru berada dalam kancah yang nyata. Di dunia, keberadaan orang-orang yang biasanya dicap “negatif” membuatnya sadar atas takdir dan permainan peran, yang tidak memperkenankan kemutlakkan. Penghormatan itu bukan pembelaan atau pemihakan yang membenarkan keburukan, kejahatan, dan kebohongan. Ia sekadar meneguhkan kepantasan menjadi manusia.

Kita bisa menduganya adalah bualan. Yang dikatakannya di hadapan perempuan yang bertambah tua, yang memiliki masa lalu gemilang. Perempuan yang akhirnya mengalami hari-hari dalam kesedihan. Apakah kesedihan itu merusak dan menyiksa? Perempuan itu mampu “memelihara” sekaligus mencipta filsafat-kesedihan, yang kadang diajarkan kepada para pengunjung kafe.

Pada kepemilikan dan tafsir kesedihan, para pembaca novel gubahan Najib Mahfudz menemukan gejala-gejala humanisme. Yang bersedih bukanlah orang yang habis. Ia masih memiliki jalan untuk mengubah kesedihan bukan seutuhnya petaka. Kesedihan itu sumber dalam olah hikmah, yang menimbulkan jalinan tafsir saat menjadi perayaan bersama. Sedih bisa menjadi titik temu dalam pengembalian kehormatan manusia.

Yang menghormati manusia menanggung masalah-masalah yang berat. Ia menyadari tidak mampu sendiri atau terpisah. Berada di kafe memungkinkannya masih terhubung dengan sesama manusia meski berbeda takdir. Di kafe, ia sebenarnya menaruh diri yang ingin “selamat”, tidak selalu dikutuk oleh diskriminasi dan alienasi.

Keinginan bisa menjadi penghuni kafe seperti permintaan agar kesedihan bukan membunuh melainkan menguak ketulusan menjadi manusia. Pembaca menyadari bahwa tokoh-tokoh yang dibuat Najib Mahfudz sedang memiliki konflik-konflik rumit. Kafe adalah sedikit jawaban tapi mengharuskan tokoh-tokoh itu bertukar cerita agar terjadi tenggang rasa.

Kafe memberi hiburan sekaligus pesan agar tetap betah menjadi manusia dengan segala kegagalan dan kesengsaraan. Berkumpul di kafe setidaknya mengurangi hasrat mati atau habis. Adanya orang lain memampukan lakon hidup terus bergerak meski tanpa kepastian. Yang masih mampu berkhayal membuktikan kekuatan bertahan dalam terpuruk. Kafe itu tempat dan durasi agar yang ditanggungkan bukan siksa terburuk. Bersama di kafe membuka hak-hak “tersenyum” atau bersekutu sejenak atas takdir yang berat. Jadi, Najib Mahfudz sengaja mencipta kafe itu referensi menjadi manusia tanpa jebakan hitam dan putih.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<