KURUNGBUKA.com – Saya termasuk yang telat menonton film animasi Lilo & Stitch (2002). Padahal, poster film ini sudah sering lewat di depan mata—baik saat scrolling aplikasi streaming maupun ketika melihat referensi film klasik Disney. Entah kenapa, saya belum juga tergugah. Sampai akhirnya, saat melihat trailer versi live action-nya yang sedang tayang di bioskop bulan ini, rasa penasaran itu muncul. Sebelum memutuskan menonton versi live action-nya, saya merasa perlu menyaksikan versi orisinalnya terlebih dahulu. Dan ternyata, saya jatuh hati.
Salah satu yang membuat film ini terasa beda adalah karakternya. Lilo dan Stitch tidak digambarkan sebagai karakter yang loveable sejak awal, seperti tokoh utama film anak pada umumnya. Mereka justru urakan, bar-bar, bahkan cenderung menyebalkan. Tapi justru karena itu, mereka terasa nyata. Watak mereka pun saling berpantulan, seperti cermin yang retak tapi menciptakan bayangan yang serupa—mungkin karena mereka sama-sama tidak punya cukup waktu untuk mengenal siapa orang tua mereka.
Lilo hidup hanya berdua dengan kakaknya, Nani, yang juga terlihat bingung harus bersikap sebagai kakak, sekaligus menggantikan peran orang tua. Di awal film, empati saya belum tumbuh sepenuhnya. Tapi pelan-pelan, ketika cerita mulai menanjak menuju konflik, kepedulian itu hadir. Rasanya seperti melihat anak kecil yang sering kita labeli “bermasalah” atau “beda sendiri”, padahal sebenarnya mereka hanya ingin dimengerti. Mereka tetap anak-anak, dengan kebutuhan untuk dipeluk, didengar, dan dicintai—meski caranya tidak sama dengan kebanyakan anak lain.
Menariknya, Lilo & Stitch adalah salah satu dari sedikit film animasi Disney yang sebagian besar proses produksinya dilakukan di luar studio pusat di California. Tepatnya, ini adalah film animasi kedua dari tiga yang dikerjakan mayoritas di Walt Disney Feature Animation Florida, yang berbasis di Disney-MGM Studios, Orlando. Mungkin karena itu juga, film ini punya nuansa yang sedikit berbeda dibandingkan film-film Disney pada umumnya di masanya—lebih intim, lebih liar, tapi juga lebih personal.
Cerita film ini juga menarik karena dibingkai dari sudut pandang alien. Justru dari perspektif luar itulah, nilai-nilai kemanusiaan manusia disampaikan dengan sangat manis dan membekas. Salah satu kutipan yang menancap di ingatan saya datang dari budaya Hawaii yang menjadi latar film ini:
“Ohana” berarti keluarga, dan keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan atau dilupakan.
Konsep ohana menjadi napas utama film ini, mengikat hubungan Lilo, Nani, dan Stitch—meskipun mereka bukan keluarga yang terikat oleh darah, melainkan oleh kasih sayang dan pilihan untuk saling menjaga.
Tak heran jika film ini sempat masuk nominasi Academy Awards 2002 untuk kategori Film Animasi Terbaik. Meski pada akhirnya kalah oleh Spirited Away karya Hayao Miyazaki—yang juga didistribusikan oleh Disney—Lilo & Stitch tetap meninggalkan kesan yang kuat dan bertahan lama di ingatan banyak penontonnya.
Setelah menonton film animasi orisinal yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Sanders dan Dean DeBlois ini, saya merasa lebih siap dan tertarik untuk menonton versi live action-nya, serta mengeksplorasi dunia Lilo & Stitch lebih jauh lewat serial-serial lanjutan. Film ini memberi rasa hangat yang khas, dan mengingatkan saya bahwa keluarga, kadang hadir dalam bentuk yang paling tidak kita duga.
Skor: 8,5/10.
*) Image by IMDb.com











