KURUNGBUKA.com – Masa lalu itu seru. Yang mengatakan seru itu kaum remaja. Mereka yang “terperintah” oleh Soeharto masih bisa mendapatkan seru. Apakah mereka mendapat seru dari hiburan-hiburan yang biasa dituduh merusak moral oleh kaum tua? Bukan! Kaum remaja menumbuhkan seru dengan buku. Jangan pernah ragu bahwa Orde Baru pernah menjadi latar bagi kaum remaja yang ketagihan buku. Pastinya mereka tidak kecanduan buku pelajaran kimia, fisika, biologi, antropologi, atau matematika.
Buku-buku pelajaran justru membuat mereka sebel dan ngambek. Hari-hari rasanya apes bila harus ditentukan oleh buku pelajaran, yang ujung-ujungnya untuk angka (nilai). Di tangan kaum remaja, buku adalah sumber seru, bukan sumber ilmu. Mereka telanjur dipaksa berilmu oleh orang tua dan pemerintah dengan belajar di sekilah. Enam hari masuk sekolah itu kebiasaan yang menyusahkan.
Beruntunglah kaum remaja berani mencipta seru untuk mengurangi derita harian atau mingguan dengan membaca buku. Mereka adalah pembaca buku melalui pembelian, peminjaman, atau “pencurian”. Yang beli tentu terhormat. Yang kebiasaannya meminjam mudah mendapat omelan teman. Yang “mencuri” berarti fanatik sulit disembuhkan.
Mereka membaca buku-buku yang ditulis Hilman H. Ingat Hilman, ingat Lupus. Benar! Ia yang menulis banyak cerita bertokoh Lupus. Dulu, Soeharto mungkin sedikit mengetahui bahwa para remaja mengidolakan Lupus ketimbang presiden, menteri, dan gubernur. Apakah ada buktinya? Kita sembarangan saja memberi penjelasan bahwa tokoh dalam fiksi sangat digandrungi para remaja. Lupus itu cowok lucu, cerdik, dan sial. Para remaja mendingan mengingat dan memikirkan Lupus ketimbang menghapal profil Soeharto, Sudomo, Harmoko, dan lain-lain. Padahal, Lupus itu bukan remaja idaman bangsa dan negara.
Yang mengomersialkan seru itu Gramedia. Pada mulanya, cerita-cerita dimuat dalam majalah Hai yang diasuh Arswendo Atmowiloto. Selanjutnya, terbit puluhan buku Lupus oleh Gramedia. Bayangkan kehebatan para remaja masa lalu yang membaca majalah dan buku. Uang saku dikumpulkan untuk beli buku itu hebat. Orangtua memberi anggaran untuk beli buku tentu bijak. Ingatlah bahwa masa lalu para remaja Indonesia doyan buku, tidak hanya nongkrong, pacaran, dan bikin onar di rumah. Jadi, kita boleh tidak percaya omongan para pejabat bahwa terjadi kenakalan remaja. Yang omong itu tidak pernah mengetahui para remaja kecanduan buku Lupus, bukan buku PMP.
Di majalah Hai, 24 Februari 1987, kita terpesona iklan yang warna-warni. Mata membuktikan iklan tidak cuma hitam dan putih. Ada warna merah, biru, hijau, dan lain-lain. Yang diiklankan adalag seri buku Lupus yang berjudul Cinta Olimpiade. Janji yang disampaikan tentang Lupus: “Tetap dengan seabrek kekocakannya. Tetap berduet ria dengan si Boim yang amit-amit itu. Tetap bikin kami mesem-mesem. Tetap suka permen karet dan ngeledek.” Indonesia tanpa lupus maka para remaja mudah ngamuk dan sendu. Lupus yang menghibur, yang membuat Indonesia seru.
Yang wajib dikenali adalah pengarangnya. Iklan yang cukup lucu dalam “mengultuskan” pengarang: “Makhluk yang dengan noraknya mejeng di samping ini adalah Hilman. Dia yang nulis lupus. Umurnya belum banyak kok. Baru sekitar 20-an tahun. Itu pun masih boleh ditawar kalau mau. Tapi tulisannya sudah lumayan banyak. Bayangin aja, dia sudah nulis sejak esempe….” Hilman terkenal dengan tulisan-tulisan berupa cerita pendek, novelet, dan artikel. Foto Hilman yang dipasang dalam iklan mengenakan kaos bertuliskan Lupus. Rambutnya agak panjang bermodel aneh. Lengan baju digulung.
Pada masa lalu, para remaja sempat mengoleksi foto Hilman atau memasang poster Hilman di dinding kamar. Sosok yang menjadi panutan, bukan pejabat atau pengusaha. Para remaja tidak harus jauh-jauh mencari idola sampai India, Amerika Serikat, Vietnam, Afghanistan, Chili, atau Korea Utara.
Iklan itu seru yang mengesahkan bahwa buku selalu seru. Siapa masih menyimpan buku-buku Lupus? Yang disimpan edisi cetakan pertama atau cetak ulang yang tampilannya norak? Bagi orang-orang sudah berumur 40 atau 50 tahun mungkin ingin mencari Lupus edisi lama. Mereka rela mengeluarkan duit yang banyak dan keliling kota demi menemukan Lupus. Ada yang cuma mengoleksi untuk mengingat masa remaja atau membacanya kembali agar bisa tertawa.
Mereka mengaku Indonesia sulit tertawa dengan beragam kebijakan Prabowo-Gibran. Lupus mungkin masih menyisakan seru saat para remaja masa sekarang sudah menemukan tokoh-tokoh baru: Tere Liye dan Boy Candra.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











