KURUNGBUKA.com – Sejak remaja, ia menulis sastra. Sosok mahir menggubah puisi, serius dalam menggarap novel. Ia bernama Ajip Rosidi. Siapa yang mengikuti sejarah dan perkembangan sastra di Indonesia “diharuskan” mengenalinya? Kenal saja, tidak usah mewajibkan menggemari buku-bukunya. Yang pasti buku yang diterbitkan banyak banget. Kita belum bisa membuat data lengkap buku-buku yang terbit sejak masa remaja sampai tua. Yang jelas, Ajip Rosidi sudah menjadi perhatian dalam sastra Indonesia masa 1950-an.

Ia rajin menulis esai-esai. Dirinya tampil dalam pelbagai seminar. Tokoh yang berani omong mengandung kritik dan gugatan. Pengarang yang tidak lulus SMA tapi memiliki pengetahuan yang mumpuni. Semua terbukti dalam arus sastra Indonesia, tak lupa sastra Sunda.

Bagi yang menggemari buku-buku Ajip Rosidi dijamin bakal memiliki bejibun pengetahuan. Buku-bukunya pernah diterbtikan Pembangnnan, Pustaka Jaya, Gramedia, dan lain-lain. Manusia yang tidak punya gelar akademik tapi terhormat dalam sastra. Ia pun tenar dalam perbukuan di Indonesia. Yang teringat adalah Ajip Rosidi mendirikan penerbit bernama Pustaka Jaya. Sejak masa 1970-an, penerbit itu ikut memajukan sastra Indonesia dengan buku-bukunya yang bermutu.

Kita mengingat Ajip Rosidi sebagai novelis. Yang terlihat adalah iklan untuk novel yang berjudul Anak Tanahair. Mengapa ia menulisnya gabung, bukan dipisah menjadi “tanah air”? Kita belum mau mengoreksi. Ajip Rosidi itu redaktur majalah sekaligus keranjingan menulis esai-esai kebahasaan. Indonesia beruntung mendapatkan Ajip Rosidi meski dalam waktu lama ia tinggal dan mengajar di Jepang.

Iklan novel Anak Tanahair dimuat dalam majalah Hai, 4 Juni 1985. Novel terbitan Gramedia, yang makin mendapat pengakuan pada masa 1980-an. Dulu, penerbit itu sudah ketahuan mau menguasai pasar sastra. Penerbitan novel yang ditulis Ajip Rosidi itu keseriusan meski tidak selaris novel-novel gubahan Ashadi Siregar dan Ahmad Tohari.

Yang terbaca dalam iklan: “Terbitnya roman hasil karya penulis tenar Ajip Rosidi ini merupakan hasil nyata dari usaha kami memuaskan kebutuhan Anda akan bacaan serius.” Penerbit tampak gagah dan paling mengerti selera sastra di Indonesia. Padahal, penerbit itu mendapat untung besar dalam industri novel terjemahan.

Yang selalu mengingat Ajip Rosidi dan Pustaka Jaya mendapat selingan. Ada buku yang pernah diterbitkan oleh Gramedia, yang sulit mengelak dari tuduhan komersialitas. Sejak terbit, pembahasan Anak Tanahair tidak banyak. Ajip Rosidi tetap diperhitungkan dalam kancah sastra tapi novel itu bukan puncak. Novel yang tebal meski tidak terlalu diminati pembaca pada masa yang berbeda.

Sinopsis yang diberikan penerbit: “Ardi yang pada mulanya rajin bersembahyang, kemudian menjauhi agama sama sekali karena menyaksikan praktek-praktek yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, untuk akhirnya masuk dalam sebuah organisasi kebudayaan yang berpengaruh pada saat itu dan yang memberinya banyak fasilitas.” Satu kalimat yang panjang dan melelahkan. Kita tidak bermaksud menilainya sebagai kalimat yang tidak bermutu.

Kita mengira Ajip Rosidi malu bila mengetahui iklan untuk novelnya? Ia pasti bisa membuat kalimat-kalimat memikat, yang berakibat orang-orang terbujuk untuk membeli dan membacanya. Yang penting iklan dan sastra turut tampil dalam majalah laris, yang biasa dibaca kaum remaja.

Apakah para remaja mau membaca Anak Tanahair? Mereka membaca asal ada penugasan dari guru. Nasib buku di Indonesia kadang ditentukan kurikulum dan kebijakan para guru saat mengajar di kelas. Kita belum mau mencibir atau menggugatnya.

Yang dicantumkan dalam iklan: “Dalam roman ini Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi tahun 1950-an sampai 1965, sekaligus mengungkapkan kehidupan seniman… “ Pengarang merekam zaman. Namun, novel itu jarang teringat bila kita kisruh pendapat mengenai seni dan politik berlatar 1965. Di buku autobiografi atau surat-surat, Ajip Rosidi biasa memasalahkan 1965 meski bukan referensi terpenting bagi orang-orang yang meriset kesusastraan masa lalu.

Apakah novel itu bakal terbaca lagi setelah pemerintah berhasil merampungkan penulisan buku sejarah (resmi) nasional yang direstui Prabowo Subianto? Novel itu mungkin pilihan belakangan dan tidak berdekatan dengan imajinasi sejarah sedang dibutuhkan publik.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<