“Menyeberangi lautan bergolak yang berombak besar bernama Kaspia. Di seberang laut, dia melihat pancaran minyak hitam keluar dari dalam tanah, dan menara-menara logam yang berdiri di air seperti prajurit kerajaan setan. Buih-buih api memenuhi angkasa, seperti gerbang api. Dari sana, dia menjelajahi pegunungan dan lembah, memasuki sebuah tempat yang paling indah yang pernah dia lihat sepanjang perjalanannya.”

(Abdulrazak Gurnah, Paradise, Hikmah, 2007)

Cerita-cerita dari masa lalu sering perjalanan atau pengembaraan, Yang membuat orang betah dengan dongeng atau cerita silam memang ketegangan dan ketakjuban yang terjadi saat tokoh-tokoh melakukan perjalanan yang jauh. Maka, cerita bisa memanjang dan tidak membosankan bila diulangi. Konon, dunia terbentuk dari ceirta-cerita petualangan. Cerita menjadi sejenis peta. Pada cerita-cerita yang terus diwariskan, orang-orang memiliki dunia yang tanpa batas. Mereka selalu ikut bergerak. Imajinasi terus mengalir, “menghimpun” waktu dan peristiwa.

Di penulisan novel-novel modern, perjalanan atau pengembaraan masih keutamaan. Para pengarang besar di Eropa yang getol menulis novel-novel mengenai pelbagai negeri. Yang diceritakan adalah petualang, pengembara, pahlawan, ksatria, dan lain-lain. Mereka melakukan perjalanan yang sulit. Perjalanan di darat dan laut. Yang mengisahkan bisa menghabiskan ratusan atau ribuan halaman. Pembaca diajak turut bergerak. Cerita menjadi “milik” pembaca saat mengikuti rute atau menyatakan cerita itu peta.

Para pembaca mengetahui dan “menguasai” dunia melalui novel-novel. Apakah pengarang melakukan perjalanan-perjalanan untuk penulisan novel? Beberapa pengarang besar tidak pernah mengembar ke negeri-negeri yang diceritakannya. Mereka berimajinasi atau berbekal bacaan dan lukisan, yang memungkinkan pembaca seolah menemukan “kebenaran.”

Di novel gubahan Abdulrazak Gurnah, perjalanan tetap yang terpenting. Yang semula terbaca adalah perdagangan, disusul perkara-perkara lain yang mengikat pembaca agar menyelesaikan cerita sampai tanda baca terakhi. Novel itu memang menegangkan bila pembaca mengandaikan sebagai tokoh yang melakukan perjalanan.

Pengalaman melintasi laut makin memukau saat melihat “pertambangan”. Pengisahan memang memerlukan ibarat. Namun, pembaca mudah mengerti bahwa tokoh melihat upaya dalam pertambangan, yang menghasilkan untung sangat besar. Di lakon dunia, tambang biasa terjadi dengan persekongkolan kolonialisme dan kapitalisme. Pemandangan tentang tambang itu bukan fantasi. Pemandangan yang “melawan” keindahan.

Kesan berbeda diperoleh saat terus bergerak. Perjalanan menuju pegunungan dan lembah mirip dongeng-dongeng kuno. Yang melakukan perjalanan biasa menyadari raga lelah mulai dipulihkan. Ada yang meyakini perjalanan itu “pencarian” yang berpatokan jiwa atau batin. Perjalanan tidak mutlak hanya masalah ragawi saja. Yang terbaca dalam Paradise justru ajakan kepada pembaca memahami lelah dan berkah untuk orang-orang yang terus berjalan.

Peristiwa melihat pemandangan indah itu membahagiakan. Pengalaman yang mungkin menetap dalam diri pengembara saat ia melihat tempat-tempat yang lain. Patokan keindagan terperoleh tanpa harus ditandingi tempat-tempat lain. Pembaca mengira pemandangan yang indah itu melawan penglihatan tentang pertambangan.

Jadi, orang yang mengembara menginsafi tempat-tempat yang dilalui. Ia tidak bisa “memesan” agar semua tempat indah.Yang ia lewati atau datangai memiliki beragam kesan, tidak harus selalu ditentukan oleh pandangan mata. Pada setiap persinggahan dan kemauan terus berjalan, tempat-tempat itu memberi pesan dan kesan, yang semestinya diterjemahkan agar perjalanan bermakna.

Yang memiliki beragam pamrih pun wajib selalu membuat pertimbangan atas tempat-tempat yang dilewati dan teringat menjadi “peta”. Kita tidak melihat peta tapi kata-kata kadang menggantikan peta yang memicu imajinasi mengerti dunia. Yang berjalan, yang mengingat. Perjalanan berarti pembuatan proyek ingatan untuk segalanya yang fana.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<