KURUNGBUKA.com – Kita mengaku telat mempelajari warisan sastra peranakan Tionghoa. Keseriusan pernah dilakukan Claudine Salmon untuk menguak sejarah kesusastraan di Indonesia. Hasil risetnya mengejutkan, yang membuat umat sastra di Indonesia melek sejarah. Pada babak awal pembentukan dan pertumbuhan sastra “modern” di Indonesia, peran peranakan Tionghoa terbukti besar dalam urusan pengarang, penerbit, pers, toko buku, dan lain-lain.
Pada ketekunan yang berbeda, kita membaca kajian-kajian yang dilakukan oleh Nio Joe Lan, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, Remy Sylado, dan Jakob Sumardjo makin mengukuhkan peran yang besar sudah diwujudkan sejak awal abad XX.
Anehnya, peran itu jarang masuk dalam pengajaran sastra di sekolah dan universitas masa Orde Baru. Apakah malapetaka 1965 ikut menentukan penulisan sejarah sastra Indonesia dan “penghilangan” gara-gara politik? Kita dibuat mengerti sedikitnya pengajaran sastra peranakan Tionghoa setelah membaca hasil penelitian Claudine Salmon, yang terjemahannya diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Penerbitan ulang teks-teks sastra peranakan Tionghoa oleh KPG berjilid-jilid cukup merangsang perhatian yang bertumbuh meski membutuhkan referensi yang banyak. Usaha menyusun biografi pengarang mendekatkan kita dengan babak-babak perkembangan sastra di Indonesia, yang disokong gairah kaum peranakan Tionghoa. Yang ditilik dalam sejarah berbeda dengan keseringan menyebut sastra masa 1920-an (Bali Pustaka) dan gerakan yang dinamakan Pujangga Baru.
Di majalah Basis edisi November 1962, kita membaca pertimbangan buku yang ditulis ABR. Buku yang dibahas berjudul Sastera Indonesia Tionghoa susunan Nio Joe Lan, yang diterbtikan Gunung Agung, Jakarta, 1962. Kita membaca pujian atas ketekunan Nio Joe Lan: “Setidak-tidaknja sudah sedjak tahun 1932 telah menaruh minat… Djadi buku ini dikarang oleh seorang ahli dan merupakan hasil pemikiran sastera jang paling sedikit sudah mengental selama 30 tahun.”
Yang agak merepotkan adalah pemberian sebutan. Nio Joe Lan mencatat beberapa sebutan: “sastera Indonesia-Tionghoa”, “sastera Melaju-Tionghoa”, “sastera Tionghoa peranakan”. Bagaimana kita meyakini sebutan yang benar dengan penjelasan yang memadai? Sejarah dan perkembangan sastra memang kadang memuat debat-debat untuk sebutan-sebutan yang tepat.
Pembahasa buku Nio Joe Lan mengaku sering kebingungan dna banyak tanya. Kita maklumi memang masalah sastra peranakan Tionghoa masih banyak samar dan misterinya: “Bukankah thema suatu karja sastra, latar belakang kemasjarakatannja dan pandangan atau filsafah-hidup seorang pengarang merupakan unsur-unsur penting dalam menentukan sastera Indonesia-Tionghoa itu?”
Yang paling menyulitkan adalah penggunaan bahasa. Kemunculan sastra itu berbarengan perkembangan bahasa Melayu yang menimbulkan ketegangan antara kepentingan pemerintah kolonial, pers, perdagangan, dan lain-lain. Bahasa yang digunakan para pengarang peranakan Tionghoa berbeda yang digunakan dalam gerakan dan penerbitan sastra yang dulu besar di Balai Pustaka. Bahasa terbukti masalah penting dalam kemajuan sastra, yang berkaitan masalah politik dan identitas-kultural.
Buku yang disusun Nio Joe Lan cukup menyita perhatian bagi yang bersaing pendapat. Kita mengutip lagi yang terdapat dalam pertimbangan buku: “Bukankah hampir semua orang Tionghoa-peranakan sudah berubaha mendjadi orang Indonesia dan hanja sebahagian ketjil orang Tionghoa-peranakan mendjadi orang Tionghoa? Penentuan sikap jang tepat dalam hal ini sangatlah berguna mendjawab pertanjaan: adakah sastera Indonesia-Tionghoa ini termasuk sastera Indonesia atau tidak?” Kita tidak punya kewajiban menjawab. Bila ada beberapa pengamat dan ahli yang menjawab, kita bisa pilih-pilih sesuai argumentasi yang bermutu.
Pada masa yang berbeda, perkembangan sastra setelah 1965 tidak lagi terlalu kolot menggunakan beragam sebutan. Yang mengejutkan adalah perbedaan-perbedaan yang muncul dalam sastra. Pada masa Orde Baru, kita mengenali pengarang-pengarang terkenal yang merupakan peranakan Tionghoa dan mengukuhkan identitas sebagai manusia Indonesia. Yang suka membaca novel-novel terbitan Gramedia segera ingat Marga T. Yang suka cerita silat menyebut nama pending: Kho Ping Hoo.
Pada masa sekarang, mencetak ulang buku Nio Joe Lan cukup memberi asupan bagi kita yang ingin terus mencari sisi-sisi sejarah sastra di Indonesia. Yang ditulis memang belum tentu lengkap tapi setidaknya mengajak umat sastra Indonesia memberi tempat atau halaman dalam keseriusan mendokumentasi dan membahasa warisan sastra peranakan Tionghoa, dari masa ke masa.
Namun, nama itu sudah lama menghilang dari ingatan umat sastra Indonesia. Padahal, Nio Joe Lan menulis beberapa buku yang diterbitkan Gunung Agung. Ia juga menulis banyak artikel di majalah Intisari meski memakai nama yang berbeda. Ia memilih nama yang “khas” Indonesia gara-gara desakan politik.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







