Jika umumnya seseorang takut pada keangkeran malam Jumat Kliwon, berbeda hal dengan warga Gang Sembilan yang takut mendengar suara pisau dan batu yang dilaga keras seperti tengah malam ini. Tepatnya di rumah gelap milik seorang pembunuh bayaran, di mana para tetangga akan terbangun, mengusap tengkuknya yang bergidik, dan paham bakal ada berita kematian esok harinya.

“Kali ini siapa yang akan dia bunuh?” Salah satu tetangga paling dekat berbisik ke arah suaminya. Padahal mereka baru saja dibanjiri ombak bercinta.

“Entahlah, mana kutahu. Tapi, kamu tidak berbuat macam-macam kan sama dia? Tidak menyinggung apa-apa, kan?”

Si istri cemberut dan menyikut pelan. “Lah, boro-boro… ngobrol saja tidak pernah!”

“Ya sudah, mending lanjut tidur. Semoga korbannya bukan teman atau orang-orang kesayangan kita.”

Pria itu meringkuk dan merapatkan tubuh istrinya kembali. Tetapi, di sisi lain, pembunuh berdarah dingin menghentikan gerakannya sekilas hanya demi menangkap gelombang-gelombang ketakutan tersebut di telinganya. Ia mengangkat sebilah pisau ke depan wajahnya, memutar dengan gerakan hati-hati penuh perhitungan sambil menatap mata pisau yang berkilat seolah meminta tumbal.

Gang Sembilan diliputi oleh atmosfer yang mencekam keesokan paginya. Ujung jalan tempat biasa para ibu berkumpul dan bergunjing tampak lengang. Setiap individu menerka-nerka siapa nama yang akan berkumandang di toa masjid seumpama sasaran si pembunuh adalah warganya sendiri. Kendati demikian, hal itu disimpan erat di lubuk hati masing-masing orang. Mereka enggan keluar rumah, takut apabila ternyata dirinyalah korban berikutnya dan bertemu pembunuh itu di jalan.

Dan, seperti biasa pula, si pembunuh dingin bayaran tak pernah mewujud di sekitar lingkungan rumahnya. Ia hanya berdiam di rumah untuk kepentingan tidur atau mengasah pisau malamnya. Itu pun jarang dilakukan mengingat banyaknya kesempatan membunuh justru dilakukan pada petang hari.

Pria yang ditakuti orang-orang itu kenyataannya mempunyai nama. Mempunyai kehidupan juga seperti manusia umumnya. Trisula, atau dipanggil Sula, adalah sosok yang tak akan kamu sangka sebagai pembunuh berdarah dingin seumpama tak sengaja bertemu di jalan ataupun berbicara dengannya di tempat umum. Pria itu berperawakan kurus kering dan botak. Di sekitar lengannya tak ada otot yang mencuat dan tak ada tato permanen rumit bak seorang kriminal seperti stereotipe di tengah masyarakat.

Jangan salah tangkap juga mengenai julukan “bayaran” yang terselip di akhir sebab ia tak hanya membunuh berdasarkan suatu perintah. Ia membunuh karena ingin membunuh. Sula sama sekali tak kekurangan jumlah orang untuk dibunuh setiap harinya.

Pagi ini, di tengah hiruk-pikuk kegelisahan warga Gang Sembilan, pria itu justru duduk santai di sebuah kafe kota sebelah dan memesan kopi. Sesekali ia memandangi asap nikotin yang meliuk-liuk begitu menyergap udara. Beberapa pengunjung terganggu akan asap itu, namun Sula tak pernah peduli. Malahan matanya lebih banyak tertancap pada seorang barista muda yang sedang meracik kopi.

Kali ini permintaan datang dari salah satu klien yang meminta pemuda barista itu mati. Alasannya, sasarannya sekarang adalah perundung sewaktu sekolah, dan kliennya merupakan korban. Sula sudah terbiasa menelan kenyataan bahwa korban akan cepat berbalik sebagai pelaku antagonis oleh karena dendam. Tepat seperti dendamnya sendiri yang masih bergemuruh di tiap sendi tubuhnya, di tiap kubik sel darah merah yang dibawa ke sekujur organ, sampai mengilukan tulang-tulangnya. Kliennya lebih beruntung sebab mereka telah menemukan objek dari dendam yang menghantui mereka dan dapat dengan segera melampiaskannya.

Sementara itu, manusia yang mengecewakan Sula masih ia kejar sampai sekarang. Sosok yang dulunya sedekat nadi, sahabat separuh jiwanya, bahkan melebihi sosok “sahabat” itu sendiri telah merekahkan sayapnya menjadi seorang pengkhianat yang membolak-balikkan hidup Sula sedemikian hebat, dan menghilang bagai tertelan perut bumi. Atau barangkali tersedot ke sistem gelap antariksa hingga menjadi partikel debu. Entahlah, ia sendiri tak yakin. Satu-satunya keyakinan adalah ia harus pergi ke mana pun sampai kedua tangannya sendiri meremukkan tubuh orang itu.

Sayup-sayup alunan lagu keroncong mengisi seluruh ruang kafe, menggusur secara tiba-tiba “musik western” yang berdentam harmonis. Sula menghentikan ketukan pada telunjuknya; ini memang saatnya. Usai pengunjung menyusut hingga titik terendah, Sula mulai bangkit dan berderap menuju meja barista itu.

Si barista entah kenapa merasakan semilir angin ganjil berembus pelan di tengkuknya. Ketika ia mengangkat sebelah tangan hendak mengusap leher, Sula sudah menjulang di depannya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya buru-buru usai menurunkan tangan.

“Ya, Americano tambah satu,” Sula menyahut tenang.

Tatkala pemuda itu mulai lengah disibukkan oleh mesin kopi dan lain-lain, Sula dengan cepat menghunus pisau dan menghunjamkannya tepat di jantung. Ia kemudian melenggang pergi tanpa meninggalkan jejak. Baru beberapa menit berlalu, seorang pengunjung berteriak histeris menemukan si barista mati dalam posisi berdiri dan memunggungi meja.

Begitulah kinerja pembunuh bayaran dengan jam terbang tinggi. Bahkan aroma kejahatannya tak dapat terendus oleh siapa pun, kecuali oleh warga Gang Sembilan yang otomatis takut berurusan dengan Sula dan memilih untuk pura-pura tidak tahu-menahu jika ditanya polisi. Baru saja Sula berhenti di terminal, dengung rendah notifikasi masuk ke ponselnya. Pesanan berikutnya bertempat tak jauh dari posisinya berdiri.

Tanpa membuang waktu ia lekas menuju lokasi; sebuah hotel bintang lima tersohor. Karena di tempat ini berbaur manusia-manusia penting, Sula tak mau mengambil risiko dengan membunuh menggunakan pisaunya yang tidak memiliki jangkauan jarak jauh. Namun, itu bukan berarti ia mengalami kesulitan dalam mencabut nyawa. Alat pembunuh seperti pistol selalu siap sedia di saku celana yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga tak tampil mencolok.

Begitu masuk lobi, mata Sula sudah mengunci target: seorang pria paruh baya yang mempunyai perut buncit dan sedang bertelepon di sudut ruang sambil ditemani satu wanita seksi. Sekali lihat, klien yang ini pasti memiliki keluhan sama dengan sederet klien-klien sebelumnya. Ia langsung mengerti jika pria yang menjadi sasarannya adalah seorang magistrat yang hobi melakukan korupsi.

Ujung bibir Sula terangkat tajam. Politik memang selicik itu kalau menyangkut urusan persaingan, dendam, dan dominansi. Bahkan ia merasa tak lebih licik dari mereka. Tangannya sudah meraih pistol dan siap menarik pelatuk tepat saat seorang perempuan cantik berlalu dan menyentak jantungnya hingga ritmenya berdenyut tak normal. Aroma kekalahan masa lalu yang amat familier tiba-tiba terendus di indra penciumannya.

Tetapi, sampai musik keroncong mulai membelai telinga, Sula masih termenung menatap wujud dendam yang ia cari selama ini. Ia mengalami krisis diri; buncah antara mendahulukan kepentingan klien atau ego sendiri, sementara kesempatan hanya datang sekali. Kemudian, dalam hati ia sudah bertekad untuk mengalihkan bidikan mata pistolnya ke arah Waktu, ke arah perempuan itu, dan mengabaikan transaksi mahal berikut kredibilitas yang ia miliki sebagai pembunuh bayaran profesional selama ini.

“Kamu tidak bisa bunuh Waktu, maafkan saja dia. Mungkin, memang begitulah perannya dalam hidupmu, dan kepada semua orang yang pernah dia dekati.” Mula-mula terngiang suatu saran yang menurutnya tak praktis dari mulut salah satu temannya dulu.

Peran? Salah satu mata Sula berkedut. Bagaimana bisa seseorang memerankan diri sebagai dua karakter sekaligus?

Waktu telah merebut hati dan kepercayaannya sebelum akhirnya merampas ibu, adik, serta anjing kesayangannya satu per satu, dan hanya meninggalkan ingatan yang tak dapat diulang kembali. Ia sangat membenci ketidakpedulian Waktu yang terus menekannya dengan berbagai kenangan masa lalu, membuatnya menyesal kenapa Waktu cepat berlalu sebelum ia menggapai semua mimpinya, semua rancangan yang ia cita-citakan secara telaten. Ia sudah muak terhadap Waktu. Perempuan itu telah melahap kehidupannya tanpa memberi kesempatan untuk menunda atau sekadar melonggarkan sedikit demi dirinya.

Waktu memang kelewatan. Ia tak bisa dimaafkan.

Waktu tiba-tiba menoleh tepat sebelum jemari Sula sempat menarik pelatuk pistol. Seringaian tipis timbul dari bibirnya yang ranum, yang sontak mengingatkan Sula pada manisnya kedekatan mereka dulu. Tanpa mendebat waktu, perempuan itu mengangkat sebelah tangannya dan dengan cepat meluncurkan sebuah bidikan tak terduga mendarat ke kepala Sula hingga pria itu melotot, lantas roboh ke lantai.

Dalam sekaratnya yang sakral, Sula mengaku kalah dari Waktu. Kali ini ia bukan hanya kehilangan keluarga, kesempatan, dan harapan. Sosok anak kecil yang mendiami tubuhnya turut terenggut bersama bayangannya yang mulai raib dari dunia.

*) Image by istockphoto.com