“Sekarang hari Senin. Toko resmi tutup. Sebab, Senin adalah hari keheningan, hari biji mung putih yang suci bagi bulan. Di hari Senin, aku pergi ke ruang tengah dan duduk dalam posisi asana lotus – sikap duduk Teratai. Bila kupejamkan mata, Pulau muncul di hadapanku. Pohon-pohon kelapa bergoyang, matahari lembut mengambang di atas lautan senja, wangi honeysucklr di udara manis yang berat, begitu nyata sampai aku bisa menangis karenanya. Kudengar teriakan burung-burung osprey ketika mereka menukik menyambar ikan laut. Suara mereka seperti biola.”

(Chitra Banerjee Divakaruni, Penguasa Rempah-Rempah, Gramedia, 2003)

KURUNGBUKA.com – Minggu tidak selamanya jeda, libur, atau istirahat. Yang menunaikan kerja kadang menjadi Minggu adalah perayaan untuk mengelak dari kerja, membuat jeda rutinitas. Namun, Minggu yang dialami kadang tidak memberi keberkahan gara-gara penciptaan kesibukan-kesibukan yang lain. Bagi orang-orang yang bekerja, Minggu seperti hari pengharapan. Ada yang menganggapnya hari memulihkan atau menghibur. Mengapa anggapan itu bisa saja salah?

Yang berpikiran Minggu sudah banyak. Akhirnya, serbuan makna menjadikan Minggu tidak istimewa lagi. Minggu boleh berlalu seperti hari-hari yang lain. Minggu hanya nama bila orang memang tidak mendapat berkah, sesuai yang diinginkan atau tiba-tiba terjadi keajaiban yang menggirangkan.

Ingat, yang terpilih tidak cuma hari Minggu. Pembaca novel gubahan Chitra Banerjee Divakaruni menemukan tokohnya memilih Senin. Yang istimewa adalah Senin. Pada saat orang-orang lungkrah dan merana mengalami Senin, ada tokoh yang mengartikannya istimewa. Senin bukan kesibukan. Senin tidak masalah-masalah yang menggumpal dalam pekerjaan. Senin jauh dari kutukan dan keluhan orang-orang yang sering gagal menolak urutan dan penamaan hari-hari.

Mengapa ia memilih Senin? Yang disampaikan kepada pembaca: “Senin adalah hari keheningan.” Kita susah mempercayainya. Sejak dulu sampai sekarang, Senin biasanya adalah kekacauan, ketergesaan, kemalasan, ketakutan, dan kemuakan. Kita terdampak dari membesarnya kapitalisme. Pengertian yang ikut membuat Senin terkutuk adalah birokrasi dan agenda pendidikan. Artinya, Senin tetap ada dan datang tapi kita menginginkan penolakan sekaligus penghapusan walau tidak bisa terjadi.

Keheningan yang dirasakan adalah penglihatan pemandangan yang lain, yang berbeda dari keseharian. Yang dilihat tokoh dalam novel Penguasa Rempah-Rempah, menggampangkan kita ikut berada di samping atau belakangnya. Posisi raganya tak lagi dalam kebiasaan bekerja. Tubuh yang menerima keheningan, yang menghadirkan pemandangan membenarkan kehadiran.

Melihat bukan saat mata terbuka tapi mata yang terpejam. Bagaimana kita bisa menerimanya sebagai kenyataan? Raga dan keheningan adalah peristiwa yang hanya dialami oleh orang yang ikhlas, konsentrasi, dan mau. Senin yang dialaminya adalah Senin yang “melawan” segala opini umum. Senin justru keheningan, yang diperoleh dan dirasakan dengan tata cara ketubuhan dan kejiwaan. Maka, yang dilihat saat mata terpejam adalah berkah keheningan.

Namun, keheningan itu penyebutan yang berbeda pengertian saat kita ikut dalam menikmati pemandangan. Ia mendengar teriakan burung-burung. Pada laut, ia mendengar suara air. Pada pohon dan angin, ia mendengar kelembutan. Keheningan yang akhirnya kita alami dengan pengalaman dengaran. Apakah tokoh itu berdusta dalam percaya keheningan?

Hal yang terpenting adalah Senin. Di novel, kita tetap mengetahui waktu-waktu yang dialami para tokohnya terjadi pada hari-hari yang berbeda. Pemuliaan untuk Senin adalah sakral. Kita yang telanjur memiliki kumpulan pengertian Senin tiba saatnya percaya keheningan. Senin yang tidak mengharuskan raga bekerja. Senin yang masih ada dalam kalender tapi memungkinkan kita meragu atas pembakuan yang sudah terjadi sejak lama. Pada biografi yang mengandung fiksi, Senin bisa keheningan.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<