Muis termenung di tepi kebunnya. Langit bersih dari awan, biru seluas mata memandang. Dan kebun itu, hanyalah hamparan tanah kering, menggumpal kecil, yang urat-urat tanahnya tak menyimpan air. Tanah yang tak berhumus. Gersang. Hanya hamparan padang ilalang yang diselingi pohon-pohon yang meranggas. Pohon tanpa daun, apalagi putik atau buah.
Barisan pohon pinang dan kulit manis membujur jauh, sampai batas tanah milik orang lain. Dimaksudkan sebagai batas tanah kepunyaan Muis, sebagaimana telah disepakati dengan pemilik lahan sebelah yang nasibnya tak lebih baik dari Muis sekarang.
Pohon tanpa daun dan buah itu, dulunya, adalah barisan pohon jeruk manis. Pada masanya dulu, jeruk manis telah membawa kesejahteraan lahir dan batin bagi penghidupan Muis dan keluarganya. Mendatangkan pundi-pundi uang, bukan hanya untuk Muis, tapi bagi seluruh orang-orang di kampung ini. Bau kulit jeruk hinggap di mana-mana. Bau uang yang membuat semua orang yang memiliki ladang padi berubah menjadi petani jeruk.
Kampung ini, mendadak, dikenal semua orang sebagai kampung jeruk manis. Semua orang, hingga di kota-kota besar, begitu bangga apabila sudah dapat membeli dan mengonsumsi jeruk manis kampung ini. Muis dan beberapa orang di kampung ini tiba-tiba mendapati dirinya jadi orang kaya.
Perubahan ekonomi itu juga mengubah setiap sendi kehidupan masyarakat. Kampung yang kini dianggap dapat menopang roda ekonomi daerah, membuat Bupati dengan gembira membangun jalan dari ibukota Kabupaten hingga ke kampung ini. Jalan yang lebih lebar, lebih baik, lebih permanen. Jembatan-jembatan pun direnovasi. Besi yang patah, retak, dicat, dipoles—semua diperbaharui. Listrik diperbaiki, daya dinaikkan, tiang-tiang miring diluruskan.
Malam pun kini terang benderang. Warung-warung kopi buka sampai pagi, suara televisi, hantaman batu domino, tawa riuh dan obrolan warga bersaing dengan bising knalpot motor. Muda-mudi bergerombol, nongkrong di sudut-sudut kampung, atau mengisi warung-warung makan yang semakin menjamur. Siang diisi aroma kulit jeruk manis; malam, aroma bakso, soto, nasi goreng, dan sate memenuhi udara.
Namun, semua itu kini tinggal kenangan dan bayangan.
Dengan gaya barbar, Muis mencangkul tanah. Dicengkeramnya pucuk pohon kecil itu—bibit durian dalam polibag. Direnggutnya tanaman mungil itu, tanah humus yang memeluk akar terburai. Dengan sepenuh tenaga, ia menanam batang dan akar ke dalam lubang galian. Peluhnya bercampur dengus napasnya. Kesal dalam hati. Dengan barbar ia menutup lubang itu, mengembalikan tanah ke tanah, air kepada air. Tapi kesalnya, semak otaknya kepada siapa lagi ia empaskan?
Ia menatap batang durian itu. Tangannya masih berdebu, rambutnya lengket oleh peluh. Ada rasa puas yang aneh, bercampur amarah dan kesal, seperti melemparkan semua kekecewaan ke tanah yang menampung benih itu. Namun, di dalam dadanya, hati kecilnya bergejolak.
“Ini… apakah ini jawaban yang tepat?” gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri daripada siapa pun. Nostalgia jeruk manis membayang, seperti kabut tipis yang menolak pergi. Bau kulit jeruk, tawa anak-anak yang berlarian, dan suara riuh tetangga yang membawa kabar baik—semua kini hanyalah bayang-bayang.
Tetangga sebelah, Pak Darmo, muncul dari rumahnya. “Muis, kau menanam durian di musim yang salah,” katanya, nada setengah heran, setengah mengejek. “Musim hujan belum datang. Tanah ini… gersang!”
Muis tidak menoleh. “Aku tahu. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Jeruk tak lagi memberi apa-apa. Mereka semua pergi. Bau uang itu sudah hilang,” jawabnya, suara serak menahan getar amarah yang hampir menetes.
Pak Darmo menghela napas panjang. “Dulu kita hidup berdampingan, saling bantu. Sekarang… kau sendirian. Kau mencoba sendiri?”
Muis menatap mata tetangganya. Ada cermin kekecewaan, tapi juga peringatan: “Aku harus mencoba. Kalau aku menunggu bantuan siapa pun, aku akan mati menatap tanah gersang ini tanpa hasil.”
Anak-anaknya, Sari dan Rudi, mengintip dari jendela. Mereka menatap ayah dengan rasa penasaran dan takut akan kemarahan yang tak tertahan. Muis menyadari mata mereka, dan rasa bersalah menyayat dadanya. Ia ingin menjelaskan, ingin minta maaf, tapi kata-kata seolah tersumbat di tenggorokan.
Malam menjelang. Angin kering menyapu kebun, menimbulkan suara lirih di antara batang durian muda. Muis duduk di atas tanah yang hangat, merasakan rasa sakit dan rindu sekaligus—rindu pada masa ketika setiap pohon jeruk adalah janji, dan sakit karena janji itu hancur begitu saja.
Di kejauhan, suara kendaraan pemerintah yang dulu membangun jalan dan jembatan kini hanya terdengar sebagai kenangan. Jalan yang lebar, listrik yang terang—semua itu tak mampu menghidupi kebun yang gersang. Kekayaan seperti pasir di tangan, hilang ketika tanah tak lagi subur.
Ia menunduk, menyentuh tanah di sekitar durian muda itu. Ada harapan yang samar, tapi juga ketidakpastian yang menekan. Ia sadar: menanam durian bukan sekadar untuk buah, tapi untuk mengubur kecewa, untuk memulai lagi. Namun, di balik tekad itu, pertanyaan terus mengganjal—apakah harapan ini cukup menghadapi kenyataan pahit yang menunggu?
Beberapa minggu kemudian, tunas durian mulai muncul. Tak meyakinkan, tetapi hidup. Senyum Muis tak sama lagi; setiap hari ia memeriksa batang itu, menyiram, menggemburkan tanah, tapi bayangan kegagalan selalu mengintai.
Suatu sore, seorang petugas pertanian datang. Wajah ramah, kata-kata menampar:
“Pak Muis, tanah ini terlalu kering, nutrisi tak mencukupi. Durian mungkin tumbuh, tapi… buahnya kecil, atau bahkan bisa mati.”
Muis menelan ludah. “Aku tahu,” jawabnya datar, tapi amarah dan putus asa berputar liar. Usaha yang bercampur nostalgia dan dendam bisa sia-sia begitu saja.
Tetangga mulai berspekulasi, mengejek, menertawakan. Muis merasa dunia menekan dari segala arah—tanah keras, janji pemerintah yang sirna, tetangga yang sinis, bahkan anak-anak yang ragu.
Sari pernah bertanya, “Ayah, kenapa kita tidak kembali menanam jeruk? Bukankah lebih mudah?”
Muis menatap anaknya. Mata kecil itu penuh keingintahuan dan ketakutan. “Karena… kadang, yang mudah bukanlah jalan yang benar,” jawabnya. Suaranya serak, tegas. Dalam hati ia tahu ini ujian—antara menyerah dan bertahan, antara nostalgia dan kenyataan.
Malam itu, Muis duduk di tepi kebun. Angin membawa aroma tanah kering dan harum daun durian muda. Ia menutup mata, membiarkan ingatan tentang jeruk manis dan malam-malam riuh kampung menembus pikirannya. Semua itu terasa jauh, seperti mimpi yang tak mungkin kembali.
Namun, ada sesuatu yang berubah. Di tengah kekecewaan, di tengah amarah yang ia tuang ke tanah, muncul rasa kecil tapi kuat: harapan. Harapan itu bukan gemericik uang atau kemuliaan, tetapi kemampuan untuk memulai lagi, meski semua orang meragukan.
Ia menyadari: pertaruhan ini bukan hanya soal durian atau keuntungan, tapi keberanian menatap tanah gersang dan mempertahankan mimpi. Muis tahu, mungkin ia akan gagal, tapi setidaknya ia mencoba. Dan mencoba—kadang—adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup di dunia yang terus berubah.
Malam itu ia berbicara pelan, seolah pada tanah dan tunas kecil itu:
“Kalau kau tumbuh, kau bukan hanya sekedar durian. Kau bukti bahwa kita bisa memulai lagi… meski semuanya dibangunkan dari harapan yang telah hancur.”
Hujan akhirnya turun. Tidak deras, tapi cukup membasahi tanah kering. Setiap tetes yang menyentuh tanah seperti simbol penghiburan, bisikan alam: “Cobalah lagi. Hidup selalu memberi kesempatan.”
Beberapa tahun kemudian, Muis kembali menapaki kebunnya. Durian yang dulu ia tanam kini tumbuh kokoh. Batang tegar, daun hijau, dan beberapa buah mulai menampakkan bulatan besar. Bau tanah basah menguar, menyapa hidungnya dengan aroma kehidupan yang lama ia rindukan.
Ia duduk di bawah salah satu pohon, menatap langit biru yang kini dipenuhi awan tipis. Angin membawa suara burung, aroma daun, dan sisa kenangan masa lalu—jeruk manis yang dulu berjaya, jalan dan listrik yang dulu megah, malam-malam kampung yang ramai. Semua itu kini bagian dari perjalanan yang mengajarkan Muis tentang kesabaran dan keberanian.
Anak-anaknya, Sari dan Rudi, bermain di antara pohon. Tawa mereka riang, tanpa beban. Muis tersenyum tipis. Ia tahu, hasil bukan hanya soal buah atau uang, tapi tentang menanam sesuatu—di tanah maupun dalam diri—dan membiarkannya tumbuh dengan caranya sendiri.
Muis menutup mata sejenak, membiarkan sinar matahari menembus daun, menerpa wajahnya. Ia mengerti: kegagalan dan kekecewaan adalah pupuk bagi harapan yang tulus. Pohon durian itu adalah simbol ketekunan, simbol hidup yang tak menyerah pada kerasnya kenyataan.
Dan kebunnya yang dulu gersang, kini hidup kembali. Di tanah yang pernah kering, tumbuh bukan hanya pohon, tetapi keyakinan. Muis tersenyum, tenang, menyadari satu hal, meski dunia terus berubah, meski janji manusia terus berjanji, alam dan usaha yang tulus selalu memberi kesempatan, untuk memulai lagi, dan menemukan arti hidup sampai tiba waktu untuk tuntas segalanya. []
*) Image by istockphoto.com







