“Dia suka duduk di samping jendela kereta api dan menyaksikan hutan-hutan lebat meluncur lewat, dataran berumput membentang, sapi-sapi mengayunkan ekor saat digembala oleh para pengembara bertelanjang dada. Ketika sampai di Kano, sekali lagi, dia tersadar betapa berbedanya kota ini dari Lagos, Nsukka, dan kota asalnya, Umunnachi. Di sini, pasirnya halus, berwarna abu-abu, dan terbakar matahari, sama sekali tidak seperti tanah merah bergumpal di rumah. Pepohonan tampak jinak, tidak seperti ledakan warna hijau yang muncul dan menimbulkan bayang-bayang di jalan raya menuju Umunnachi. Di sini, bermil-mil tanah datar terhampar tanpa akhir, menggoda mata untuk menjangkau lebih jauh, sampai akhirnya bertemu langit yang berwarna putih-perak.”
(Chimamanda Ngozi Adichie, Half of a Yellow Sun, Hikmah, 2008)
KURUNGBUKA.com – Kita sedang berada di Sudan. Negeri yang sangat jauh dari Indonesia. Kita mendatanginya melalui halaman-halaman novel. Sudan yang terbaca adalah cerita yang menggelisahkan. Kita melihat negeri yang berbeda, yang sulit mendapat persamaannya dengan kesuburan atau keindahan di Nusantara. Sekali lagi, yang diceritakan Chimamanda adalah tokoh-tokoh yang bernafas di Sudan.
Tokoh yang menolak naik pesawat terbang dalam bepergian yang jauh. Pilihannya adalah kereta api. Ia memiliki argumentasi untuk perjalanan yang lama. Yang terpenting adalah mata. Tokoh yang ingin melihat segalanya. Maka, posisi yang terbaik adalah di dekat jendela. Duduk di gerbong tapi matanya melihat melalui jendela. Yang dilihatnya adalah Sudan yang menampilkan dirinya secara beragam.
Kereta api yang cepat menjadi “lambat” bagi penumpang yang mau sejenak merenung. Cepat memang fakta meski keinginan merenung senantiasa berakibat berlalunya pemandangan-pemandangan. Melihat dalam cepat memerlukan ketulusan. Ia yang melihat Sudan di daratan. Pilihan yang akan berbeda dampak bila ia naik pesawat terbang. Kecepatan dan ketinggian dianggap kurang memberinya definisi sekaligus imajinasi Sudan.
Yang dilihatnya adalah hutan. Namun, ia tidak mampu menikmatinya dalam waktu lama. Sekilas terlihat disusul renungan yang tidak utuh. Pada pergantian pemandangan, ia mengetahui binatang-binatang. Di gerbong, yang dilihatnya bukan film. Peristiwa adalah melihat, yang tidak memungkinkannya mendekat atau hadir bersama yang dipandang. Melihat dengan cepat tetap membuatnya dapat menyusun cerita: sederhana dan selang-seling.
Perjalanan yang semestinya melelahkan dan menjenuhkan malah menjadi sejenis petualangan ilmu bumi. Ia bukan orang yang ingin menang dan pintar dalam geografi. Namun, pengalaman naik kereta api dengan mata terbuka sebenarnya mirip belajar ilmu bumi, yang memberi kejutan dan menyisakan penasaran.
Pada akhirnya, ia sampai pada perbandingan: tempat asal, tempat yang dilewati, dan tempat tujuan. Di kereta api, ia melakukan perjalanan dari kota ke kota. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki dibahasakan, yang membuat pembaca ikut mengenali Sudan. Novel yang sengaja memberi deskripsi-deskripsi agar para pembaca di luar Sudan tidak terlalu asing. Para pembaca bisa ikut menjadi penumpang di kereta api, yang melihat dan mengartikan.
Kondisi alam yang dibahasakan sesuai fakta tapi kita membacanya puitis. Pohon, tanah, langit, dan lain-lain menjadi pemandangan yang saling berkaitan. Perbedaan-perbedaan yang dilihat memunculkan keistimewaan kota-kota. Pengalaman sebagai penumpang yang menghasilkan deretan kalimat ketimbang bila dirinya naik pesawat terbang. Yang ada di luar adalah godaan. Yang duduk di gerbong tidak bisa keluar. Ia tetap di situ tapi penglihatannya jauh. Pembaca bukan penumpang kereta api tapi sah sebagai “penumpang” yang melintasi halaman demi halaman dalam novel, yang membuatnya berada di Sudan. Pembaca tidak lagi berada di jarak yang jauh.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







