“Tetapi, rempah-rempahlah yang paling kusukai. Aku tahu asal-usulnya, makna warnanya, dan baunya. Aku kenal nama asli masing-masing yang diberikan sat awal mula, ketika bumi merekah Bagai kulit dan melontarkannya ke angkasa. Panas rempah-rempah mengalir dalam darahku. Dari anchur hingga zafran, rempah-rempah tunduk pada perintahku. Cukup dengan bisikan, mereka menyerahkan kekuatan tersembunyi mereka, daya gaib mereka, kepadaku.”
(Chitra Banerjee Divakaruni, Penguasa Rempah-Rempah, Gramedia, 2003)
KURUNGBUKA.com – Yang mengubah dunia adalah rempah-rempah. Beberapa abad yang lalu, rempah menimbulkan nasfsu terbesar di dunia. Yang tidak ketinggalan adalah pengeramatan hidup. Rempah-rempah melampaui kenikmatan dalam makanan. Ia telah memberi pikat yang sering melampaui batas. Artinya, yang menginginkan dan menikmati rempah-rempah berharap segalanya.
Di tanah-tanah yang subur dan berlimpahan berkah, rempah-rempah mengundang orang-orang dari pelbagai negeri. Mereka berdatangan dengan kapal, melawan badai dan mengharapkan ombak membawanya ke alamat yang dituju. Di pulau-pulau pilihan Tuhan, rempah-rempah terlihat menggiurkan. Yang berjumpa rempah-rempah meninggikan impian-impiannya.
Maka, dunia benar-benar berubah saat rempah-rempah adalah rebutan selama berabad-abad. Pada rempah-rempah, kita mendapat cerita petualangan, nafsu uang, germerlap kota, puja asmara, politik picik, seruan iman, dan lain-lain. Di tempat-tempat yang mempersembahkan rempah-rempah, dunia mulai bergolak yang memberi kepuasan sekaligus penderitaan yang keterlaluan. Konon, kolonialisme dan kapitalisme berurusan rempah-rempah.
Di novel yang digubah Chitra Banerjee Divakaruni, kita tidak harus membalik halaman-halaman lama. Yang diceritakannya adalah rempah-rempah yang mengandung rahasia, yang berada dalam kepatuhan terhadap kemauan-kemauan manusia. Rempah-rempah beragam bentuk diajak bersekutu dalam mencipta kenikmatan. Nama-nama dimiliki yang mengesankan rasa dan khasiat. Rempah-rempah yang memuat rahasia-rahasia, yang membuat dunia selalu menginginkan dengan pertaruhan nyawa dan harta. Pada abad-abad kenikmatan, rempah-rempah adalah pokok.
Rempah-rempah yang bernama biasa membawa sejarah, adat, dan keajaiban. Orang-orang yang percaya dengan nama-namanya akan mendapat pengisahan yang sering panjang, tidak utuh, atau tertunda. Nama yang dimiliki kadang berganti saat rempah-rempah itu bergerak ke pelbagai pulau atau benua.
Di novel berjudul Penguasa Rempah-Rempah, kita membaca ketakjuban yang tidak pernah usai, sejak halaman awal sampai akhir. Bayangkan bahwa keyakinan rempah-rempah yang mengalir dalam darah. Kita mengerti ada sejenis upacara dan tatacara yang memuliakan rempah-rempah. Kenikmatan terjadi dengan kemanunggalan atau meresap, yang bermula dari kehendak dan ketulusan. Rempah-rempah tidak cuma komoditas tapi membentuk keampuhan jiwa-raga. Pada suatu saat, rempah-rempah yang mengesahkan identitas.
Yang berurusan dengan rempah-rempah belum selesai dalam perwujudan makanan, minuman, kecantikan, dan lain-lain. Pada rempah-rempah, ada yang ingin meraih kesempurnaan-kesempurnaan. Maka, pembuatan ritual bersama rempah-rempah menciptakan jalinan-jalinan yang magis. Rempah-rempah itu kekuatan. Namun, rempah-rempah justru menjadi sasaran dari perintah dalam mengolah kesempurnaan. Derajat kepatuhan atas perintah mengesankan kebenaran-kebenaran yang mau dibakukan.
Pada yang tampak di rempah-rempah, ada yang merayakan keinginan untuk memiliki segala yang utuh. Yang tidak mata dari rempah-rempah dikuasai dengan cara-cara yang mirip ibadah kenikmatan. Kita yang diajak hadir Bersama rempah-rempah merasakan kesilaman yang dikukuhkan dengan kepentingan-kepentingan membuat olahan. Rempah-rempah yang sangat dibutuhkan sekaligus dipatuhkan.
Novel yang tidak bermaksud sepenuhnya cerita. Kita yang membaca penggalan-penggalannya merasa mendapat panggilan sejarah dan bumi yang belum selesai berputar dengan rempah-rempah. Yang membaca novel, yang ikut menikmati rempah-rempah secara berjarak: dekat atau jauh. Yang lahir dan tumbuh di negeri (pernah) berlimpahan rempah-rempah bakal “dekat” ketimbang yang berperan sebagai penikmat dan pencari untung besar.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







