“Lihat, bulir-bulirnya sungguh bernas. Menjamahnya saja sudah senang. Berbeda sekali dengan padi tahun lalu. Setelah itu ia menyipitkan matanya seperti ingin meresapi sentuhan. Sekawanan burung pipit terbang rendah di atas kepalanya.”

(Yasunari Kawabata, Daerah Salju, Gagas Media, 2009)

KURUNGBUKA.com – Jepang sering diingat sebagai negara-teknologi. Kita mengetahuinya melalui capaian-capaian dalam industri otomotif dan elektronik. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Jepang tampil sebagai negara yang tidak hanya bangkit. Jepang adalah negara besar yang ikut menentukan dunia. Pada 1945, Jepang yang hancur tetap menemukan jalan untuk kemajuan. Tahun demi tahun, Jepang mengubah sengsara menjadi “kemakmuran”. Teknologi mulai tampak sebagai penentu meski Jepang tetap bercerita tanah yang subur.

Sejak dulu, Jepang itu negara-padi. Artinya, Jepang memiliki alur panjang dalam pengisahan pangan. Padi adalah pangan yang membuat Jepang terhormat di mata dunia. Padi yang ikut membentuk peradaban. Padi tak sekadar bercerita makanan tapi mengikutkan hal-hal yang menggerakkan sejarah. Artinya, padi selalu ada dalam halaman-halaman suka dan duka Jepang, dari masa ke masa.

Yasunari Kawabata ikut mengisahkan padi. Di novel berjudul Daerah Salju, padi mendapatkan halaman-halaman yang membuat pembaca berimajinasi pertanian di “negeri matahari terbit.” Pertanian yang tampak anggun bila kita pernah melihat gambar atau foto. Kondisi sawah dan para petani di Jepang memperlihatkan kerja keras sekaligus estetis. Negara yang besar, negara yang percaya tanahnya adalah sumber pangan, tidak mengharuskan mendatangkan pangan dari negara-negara lain. Padi itu pokok.

Pengalaman bersama padi di masa setelah panen mengungkapkan keindahan. Untingan-untingan padi yang dijemur memberi pemandangan yang yang mengikat mata memasuki jagat imajinasi kemakmuran, keharmonisan, dan kemuliaan. Padi tidak lekas dimengerti bakal terolah sebagai nasi, yang disantap dengan tata cara Jepang. Di sepanjang jalan, padi yang dijemur mengisahkan kehendak hidup.

Yang memegang atau menyentuh padi merasakan kegirangan. Kita membayangkan senang yang istimewa. Tubuh manusia yang membutuhkan makanan mula-mula membentuk hubungan yang sekejap tapi maknanya terus mengalir. Tangan dan padi dalam peristiwa yang memuat waktu. Kesenangan itu terbandingkan dengan hasil panen tahun lalu. Padi yang berbeda. Yang diharapkan adalah padi yang memenuhi keinginan petani saat bekerja di bawah matahari. Kerja yang mencipta senyum meski memberi lelah, berhari-hari.

Yang memandang dan menyentuh padi seperti merangkum waktu dan peristiwa yang tergelar di persawahan. Pengalaman yang mengantarkan pada penghormatan kepada petani. Di sawah, mereka sedang membuat berkah yang bisa dinikmati bersama dalam keunggulan-keunggulan Jepang yang makin menguasai dunia. Jadi, Jepang tidak hanya pesona teknologi. Jepang mengadakan “roman padi”, yang membuat dunia kagum.

Di novel, yang kita perhatikan adalah pengalaman tokoh yang terbahasakan secara sederhana oleh Yasunari Kawabata. Pemandangan yang hampir sempurna: manusia, padi, dan burung. Kita melihat yang bersukacita. Adanya sekawanan burung pipit mengesahkan dunia yang bahagia. Burung-burung yang seperti bersenandung kehidupan mengandung janji-janji kebaikan. Yang kita lihat dan ikut rasakan adalah Jepang sebagai negara-padi yang berlatar abad XX. Abad yang belum terlalu berisik dengan konflik pangan global atau industri makanan yang seolah “mengejek” nasi.

Pada padi yang diceritakan Yasunari Kawabata, kita berjumpa Jepang yang subur dan makmur, setelah terlalu lama mengakrabinya dengan teknologi yang sangat sulit disaingi. Jepang yang maju tetap tak bisa ingkar dari padi, yang telah membentuk peradaban besar.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<