KURUNGBUKA.com – (07/05/2024) Pengarang biasa menandai tahun-tahun penting dengan buku. Usaha untuk memberi makna ganda atau tambahan agar saat mengingat terus berkesan. Tahun dan buku itu diistimewakan. Yang memiliki alur hidup dramatis makin menjadikan tahun dan buku sebagai batas-batas untuk mengisahkan diri, keluarga, persahabatan, atau negara.

Para pembaca kadang mengikuti niat penulis tapi mudah melupakannya setelah tahun-tahun berlalu. Buku pun perlahan kehilangan latar saat ditulis atau diterbiktan jika tersaingi buku-buku lainnya.

Kita menyimak yang diterangkan James Robert Parish: “Pada 1977, tahun kelahiran putra mereka, Owen, sebuah novel berjudul Rage dipublikasikan. Dikarang oleh Richard Bachman, buku ini relatif tak terdengar di pasaran, hanya terjual sekitar 22.000 eksemplar.” Nama itu nama samaran Stephen King. Bertahun-tahun para pembaca novel tidak mengetahuinya.

Penjualan yang tidak laris tidak membuat Stephen King mundur atau jera. Yang dilakukannya adalah menerbitkan beberapa buku tetap menggunakan nama Richard Rachman. Ia sedang membuat “permainan” untuk mengetahui hubungan pengarang dan pembaca (penggemar).

Pada 1984-1985, “permainan” mulai terbongkar. Beberapa orang menemukan ada kekhasan dalam novel-novel atas nama Richard Bachman. Ada yang menebak itu ditulis Stephen King. Penyelidikan dilakukan dan menghasilkan kejutan. Para pembaca novel mulai mengetahui Richard Bachman itu Stephen King.

Buku-buku dicetak ulang dengan imbuhan halaman mengenai “permainan” pengarang. Kita paham bahwa buku-buku itu makin mengukuhkan pesona dan pengaruh Stephen King. Ia mengajari ulah berani dalam industri buku dan cara mendatangi penggemar dengan penasaran.

(James Robert Parish, Stephen King, 2006, Mizan Learning Center)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<