“Melihat si Prancis menyeringai sinis menanggapi jawabanku, aku melanjutkan bahwa pendapatku punya dasar yang jelas karena ketika membicarakan orang Rusia sebagai penjudi, aku lebih cenderung mencela daripada memuji, maka pernyataanku lebih bisa dipercaya… Dasarnya, kenyataan bahwa kemampuan untuk mengumpulkan kekayaan sejak zaman dulu tercantum salam pedoman mendasar kebajikan dan keutamaan yang dianut manusia Barat yang beradab, dan hampir selalu menjadi poin utama. Sementara, orang Rusia bukan hanya tidak mampu mengumpulkan kekayaan, tetapi malah menghamburkannya dengan sia-sia dan sembrono. Meski, orang Rusia juga butuh uang.”

(Fyodor Dostoevsky, Sang Penjudi, Kakatua, 2023)

KURUNGBUKA.com – Sejak puluhan tahun lalu, buku-buku sastra Rusia berdatangan ke Indonesia. Fyodor Dostoevsky, nama yang sangat diakrabi para pembaca. Yang dibaca adalah edisi terjemahan bahasa Indonesia, yang dulu diusahakan oleh Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir. Pada masa lalu, para pengarang dan pembaca di Indonesia terpesona dengan sastra Rusia. Ada yang menganggapnya berkaitan ideologi. Konon, sastra Rusia itu menjadi bab besar dari gegeran sastra dan politik di Indonesia, masa 1950-an dan 1960-an.

Para pembaca banyak yang menyimak mutu sastranya, tidak ingin mudah terseret dalam sengketa ideologis. Di hadapan novel-novel atau cerita pendek gubahan para pengarang Rusia, orang-orang malah bergumul filsafat. Suguhan cerita dari Fyodor Dostoevsky sering menjadi rujukan untuk olah filsafat, yang menghubungkan para pembaca di Indonesia dengan situasi dunia.

Yang pasti, banyak pengarang Indonesia yang meniru atau terpengaruh Dostoevsky. Maka, lumrah banyak bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tulisan atau buku filsafat berbahasa Indonesia pun biasa mengutip dari novel-novel gubahan Fyodor Dostoevsky. Apakah kita akan berfilsafat judi jika membaca novelnya yang diterjemahkan berjudul Sang Penjudi? Banyak yang sering merujuk ke Catatan Bahwa Tanah ketimbang Sang Penjudi. Namun, kita berlagak saja ingin berfilsafat uang, yang kaitannya dengan lakon para penjudi.

Tokoh-tokoh dalam novelnya berdebat tentang uang. Debat yang menentukan garis batas (identitas atau negara), yang terbaca melalui pernyataan-pernyataan saling menyerang dan menjatuhkan. Mengapa yang dianggap paling paham uang adalah Barat? Kita sedang menyimak yang emosional. Artinya, pembahasan uang melibatkan perbedaan-perbedaan yang telanjur dianggap kebenaran mutlak.

Di Barat, uang itu menyita perhatian yang sangat besar dalam usaha kesuksesan atau kemakmuran. Yang diceritakan adalah pekerjaan dan kemampuan pengelolaan anggaran. Kita mungkin rela terkecoh bila filsafat uang di sana membuat orang-orangnya beradab. Jadi, beradab ditentukaan kekuasaan atas uang atau kekuatan yang dihimpun berdasarkan uang.

Pengarang sebenarnya membuat kritik dan ledekan yang keras untuk kebiasaan berjudi di Rusia. Judi yang lazim dianggap mengubah nasib. Yang bernafsu menang ingin berlimpangan uang dan mencapai kehormatan tertinggi. Berjudi menuntut orang seperti memenangi perang. Di situ, penjudi percaya siasat dan berharap mendapat peruntungan yang setara mukjizat. Apakah masih mengharuskan logika agar kekalahan tidak terlalu menghancurkan?

Yang biasa dikecam adalah berjudi berarti membuang-buang uang. Kemenangan hanya ilusi. Kekalahan dan kekalahan adalah kutukan yang tidak bisa dihindari. Yang kalah akan tersiksa tapi berjudi adalah capaian terbesar dalam hidupnya. Bagi yang menang, judi itu pertaruhan filsafat yang tidak memerlukan seribu kalimat untuk tumpukan uang.

Di Indonesia, novel itu belum perlu digunakan untuk menceramahi para penjudi. Novel jangan diharuskan untuk penyadaran. Yang membaca novel justru makin mengenali dan mendalami manusia, tidak terbujuk untuk membawa kutipan-kutipannya untuk pelarangan judi atau menghujat para penjudi. Novel memberi petunjuk bahwa Rusia peranh sangat bermasalah dengan judi, tidak sekadar ideologi.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<