Orang-orang melihat kepulangan sebagai kegagalan. Akan tetapi, mereka tak pernah tahubetapa lelahnya berjuang untuk tetap bertahan di perantauan.

***

“Kereta akan tiba di stasiun Kota L, periksa barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal atau tertukar.”

Suara tersebut memecah lamunan Marlina, membuatnya sadar bahwa kereta telah tiba tepat pukul 16.17 WIB sesuai jadwal.Ia mengambil kaca kecil di tasnya dan melihat matanya yang sembab. Dengan helaan napas panjang, ia mematikan musik dan tetap membiarkan headphone bertengger di kepala.

Saat melangkah keluar stasiun, pandangannya tertumbuk pada wajah-wajah bahagia yang disambut keluarga masing-masing. Sesaat hatinya tercekat, sebab ia tahu tak ada yang menunggunya di sana. Namun, ia tetap berusaha bersyukurkarenatanah kelahirannya tetap menyambutnya dengan udara hangat.

Marlina memesan jasa antar melalui aplikasi, berharap segera ada kendaraan yang membawanya pulang. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan lingkaran yang berputar tanpa henti, seolah menertawakan kesabarannya. Rasa jengkel pun muncul, membuatnya tak sadar membandingkan betapa jauh lebih mudahnya mencari transportasi saat masih berada di Jakarta.

Hampir satu jam lamanya Marlina menunggu hingga akhirnya seorang driver menerima pesanan dan bersedia mengantarnya. Sepanjang perjalanan, Marlina kembali menangis. Keadaan telah membuatnya rindu dengan kehadiran sosok bapak. Dulu, setiap liburan sekolah, bapaknya selalu menjemputnya pulang dan mengajaknya makan di rumah makan terkenal di kabupaten.

Tangisnya semakin sesak saat mobil memasuki jalan desa. Sore itu, desanya menyambut kepulangan Marlina dengan keheningan yang khas. Langit mulai berwarna jingga, menyisakan cahaya lembut yang membias di hamparan sawah yang menguning. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan siang tadi, sepertinya. Suara jangkrik mulai terdengar dari semak-semak.

Jalan desa masih berupa aspal yang sudah mulai retak di beberapa bagian. Sesekali, sepeda motor lewat, dikendarai oleh anak-anak muda yang saling berseru. Marlina menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara desa memenuhi paru-parunya. Ada ketenangan yang dulu ia rindukan, tetapi kini terasa asing. Jalanan yang dulu sering ia lewati terasa lebih sunyi, atau mungkin justru dirinya yang kini lebih sepi.

Di kejauhan, rumahnya tampak berdiri kokoh. Halaman depan masih sama: tiga pohon mangga yang daunnya mulai meranggas.Sudah tiga tahun Marlina tidak melihat rumah itu. Kali ini, langkah Marlina begitu berat untuk memasuki rumah. Ia dihinggapi perasaan takut, cemas, dan sedih.

Langkahnya semakin berat karena ia harus mendorong dua koper dan membawa satu tas ransel besar di pundaknya. Mendengar suara dekap langkah, Bu Mawar, ibu Marlina keluar rumah. Ia kaget melihat anaknya pulang. Lebih kaget lagi saat melihat anaknya dalam kondisi menangis tersedu di depan rumah. Ia mendekati Marlina. Marlina pun memeluk ibunya sambil berkata, “Buk, aku pulang. Aku di rumah aja, ya.”

Bu Mawar hanya diam dan memeluk erat Marlina.

***

Kepulangan Marlina menjadi bahan perbincangan ibu-ibu di Warung Rujak Mbak Juli.

“Anaknya Bu Mawar katanya pulang kemarin, bawa barang banyak banget.”

“Iya, katanya sih udah enggak balik lagi ke Jakarta.”

“Waduh, sudah enak-enak kerja di Jakarta kok malah pulang. Kan enak di sana, gajinya besar. Bisa kirim uang ke ibuknya setiap bulan.”

“Iya, lagian kan masih muda. Harusnya di Jakarta saja nyari pengalaman yang banyak dulu.”

Suara-suara tersebut terdengar sampai telinga Bu Mawar dan tembok kamar Marlina. Menjadi bahan perbincangan atau tidak, Marlina memang sudah merencanakan untuk tidak keluar rumah terlebih dahulu setelah kepulangannya. Ia menolak bertemu sanak-keluarganya dan menarik diri dari orang-orang, kecuali ibunya. Marlina membiarkan orang-orang salah paham, bertanya-tanya, dan enggan menjelaskan.

Marlina hanya keluar satu minggu sekali untuk pergi ke rumah sakit yang letaknya di pusat kabupaten. Ia harus menempuh perjalanan satu jam setengah untuk mendapatkan akses kesehatan yang lengkap. Puskesmas di desanya tidak menyediakan layanan yang ia butuhkan.

Ia berangkat mengenderai motor seorang diri ke terminal bus dan menitipkan motornya. Perjalanan selanjutnya akan ia tempuh menggunakan bus jurusan Kota S. Bagi Marlina, naik bus ke pusat kabupaten jauh lebih aman karena jalan lintas provinsi yang masih dipenuhi lubang. Entahlah, meski Marlina sudah cukup lama merantau, tanah kelahirannya seolah berhenti di tempat. Jalan-jalan tetap menganga, menjadi jurang yang kerap merenggut nyawa. Jika ruas utama saja belum kunjung layak, maka jalan desa kondisinya jauh lebih parah—retak, berlubang, dan makin berbahaya ketika musim hujan tiba, berubah licin bak jebakan yang siap menjatuhkan siapa saja.

Setiap seminggu sekali, langkah kaki Marlina berjalan menuju ruangan psikolog. Langkahnya berat dan sepi. Tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya ia alami, dan Marlina memilih demikian—lebih baik menyimpan luka sendiri daripada harus menanggung vonis orang lain yang mudah berkata ia kurang beribadah atau jauh dari Tuhan.

Bahkan, ibunya pun tidak tahu. Bu Mawar hanya tahu bahwa sejak kepulangannya, Marlina sangat berubah. Bu Mawar mengenal anaknya sebagai anak yang suka main, suka bercerita, dan ceria. Namun, kini Marlina lebih banyak diam, tidak mau bercerita, matanya selalu sendu, dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Meski hatinya cemas, Bu Mawar memilih untuk tidak mendesak. Ia percaya, suatu saat nanti Marlina akan membuka suara, ketika hatinya sudah siap untuk bercerita.

***

Tepat satu bulan di rumah, Marlina merasakan kebosanan yang luar biasa di kamar. Di siang yang terik, ia memutuskan untuk duduk di teras rumah. Aktivitas yang belum pernah ia lakukan sejak kepulangannya. Ia mangamati daun-daun mangga yang jatuh berserakan; merasakan suasana desa yang  terasa lambat. Tidak ada orang yang tergesa-gesa. Tidak ada suara klakson atau hiruk-pikuk seperti di kota. Hanya ada siang yang panas, angin yang malas, dan kehidupan yang berjalan dalam ritme yang tetap.

Siang itu, ia melihat asap mulai memenuhi udara di sekiling rumahnya. Marlina kaget karena masih ada tetangganya yang ngobong[1]. Saat Marlina masih sekolah MI, setiap minggu ada orang ngobong di desanya. Dulu, mayoritas tetangga Marlina menggantungkan hidup dari membuat genteng dan pelak, sementara sebagian lainnya memilih merantau ke Malaysia atau berjualan pecel lele di Jakarta.

Letak desa yang dilintasi Sungai Bengawan Solo memberi kemudahan bagi para pembuat genteng untuk mengambil tanah liat dengangledekan[2]. Bagi yang tak sanggup mengambil sendiri, tanah liat itu bisa dibeli dari orang lain dengan harga sepuluh ribu rupiah per gledekan.

Ngobong menjadi momentum gotong royong antar tetangga. Mereka datang bergotong royong, saling membantu tanpa pamrih—mulai dari menjemur ratusan genteng hingga proses pembakaran selesai. Ketika masih kecil, Marlina kerap ikut-ikutan bersama teman-temannya, bukan untuk mendapat upah, melainkan sekadar menikmati jajanan pasar yang disediakan tuan rumah. Usai ngobong, biasanya tuan rumah akan berbagi bingkisan berisi mi, jajan, atau gula sebagai tanda terima kasih. Meski begitu, pemberian itu bukan kewajiban.

Saat ini, tidak banyak tetangga Marlina yang bertahan dengan membuat genteng. Mereka menganggap bahwa pekerjaan membuat genteng adalah pekerjaan melarat dan tidak banyak untung karena semakin tahun, harga genteng semakin turun dan peminatnya semakin berkurang. Sekarang orang lebih suka memakai genteng keramik atau membuat rumah tidak bergenteng.

Siang itu, Marlina terlintas keinginan membeli rujak di warung Mbak Juli. Ia yakin warung tersebut pasti sedang sepi sebab para ibu yang biasanya berkumpul di sana tentu tengah sibuk membantu ngobong. Dengan pikiran itu, ia pergi ke warung rujak kesukaannya.

“Marlina, akhire yo samean keluar rumah. Katanya udah berhenti kerja di Jakarta, ya? Kenapa? Anakku loh masih di sana. Kerja di BUMN, gajinya besar. Samean enak-enak di sana kok pulang?”

Suara itu muncul dari belakang. Saat menengok, ia mendapati Mbak Lisa berdiri dengan menggunakan caping di kepalanya, sepertinya baru selesai membantu ngobong.

Marlina terdiam. Seketika kaki dan tangannya bergetar, keringat dingin mulai merembes dari pori-porinya. Ia berusaha menampilkan wajah tenang, namun tubuhnya mengkhianati perasaan sebenarnya. Dengan sisa tenaga, ia menegakkan badan agar tidak ambruk, mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Sejak kejadian itu, Marlina makin menjauh. Bukan hanya dari tetangga atau keluarga, bahkan dari sahabat yang sejak kecil selalu menemaninya. Rose, dengan kesetiaan yang tak pernah surut, terus membombardirnya dengan telepon dan pesan, seakan ingin menembus dinding sunyi yang Marlina bangun.

“Kenapa enggak mau ketemu aku? Kenapa enggak mau cerita ke aku? Apakah aku bukan lagi sahabat yang membuatmu merasa aman?”

Marlina menarik napas panjang dan tetap berusaha membalas pesan Rose. “Bukan begitu, Rose. Kamu sahabat terbaikku. Tidak semua beban harus aku ceritakan padamu. Aku tahu, kamu punya beban tersendiri juga. Aku tidak ingin ceritaku hanya menambah beban yang kamu pikul.”

“Sebagai sahabat, aku tulus mencintaimu. Aku tidak pernah menganggap ceritamu sebagai beban. Dalam cinta yang tulus, kesedihan bukanlah kelemahan, melainkan bahasa jiwa yang pantas dipeluk. Kesedihan tidak dianggap mengganggu. Sebab, ketika cinta benar-benar ada, tidak ada kata merepotkan. Yang ada hanyalah kesediaan untuk tetap mendengarkan, menenangkan, dan menguatkan. Tell me when you’re ready.”

Marlina tersenyum getir. “Dengan tidak bercerita kepadamu, anggap saja aku berbaik hati padamu karena tidak merepotkanmu.”

***

Tidak mudah bagi Marlina buat memutuskan kembali ke kampung halaman. Tapi hari itu, keputusannya sudah sangat bulat. Ia merasa Jakarta sudah tidak amandan tidak ada siapapun lagi yang bisa menolongnya.

Bekerja di salah satu kantor pemerintahan memang membuat hidup berkecukupan di Jakarta. Marlina bisa makan dan membeli pakaian yang layak. Ia bisa membeli barang-barang yang diingkan dan mentransfer ibunya setiap bulan. Namun, beban pekerjaan yang ia pikul sangat banyak. Ditambah lagi dengan ekosistem Jakarta yang baginya tidak nyaman.

Hampir setiap hari, Marlina berangkat kerja pukul enam pagi. Jakarta selalu sibuk, terutama di pagi hari saat ribuan pekerja berbondong-bondong menuju kantor. Di stasiun, kereta commuter line datang dengan pintu yang nyaris tak sempat tertutup karena kepadatan penumpang. Begitu pintu terbuka, gelombang manusia bergerak dalam satu ritme yang sama—ada yang berusaha masuk, ada yang berusaha keluar. Desakan sudah jadi hal biasa, tubuh-tubuh saling bertabrakan, tangan-tangan mencari pegangan, dan napas terasa berat di udara yang pengap.

Jalan raya pun tak kalah padat. Bus Transjakarta penuh hingga penumpang berdiri rapat, ojek online berjejer menunggu penumpang yang terburu-buru, dan mobil-mobil merayap perlahan dalam kemacetan yang tak berujung. Klakson bersahutan, knalpot mengeluarkan asap pekat, orang-orang saling mengumpat. Marlina, anak desa yang dulunya sangat menjaga mulut dari kata-kata kasar, sekarang sudah terbiasa dengan umpatan kasar.

Begitu juga saat sore hari–pulang kerja–crowded. Banyak pekerja segera bergegas untuk pulang, melepas lelah.Hampir setiap hari, Marlina menghadapi rutinitas yang sama. Hiruk-pikuk yang melelahkan tapi harus terus ia dihadapi. Bagi Marlina, Jakarta bukan sekadar kota, melainkan medan tempur yang harus ia jalani setiap hari.

Bagi Marlina saat itu, kelelahan menghadapi kerasnya dunia kerja bukanlah sesuatu yang sulit ditanggung. Selama ia bisa bertemu pacarnya setiap malam Minggu, segala penat yang ia rasakan selama seminggu seolah lenyap. Bersama pacarnya, ia merasa hidupnya kembali bermakna, seakan ia bisa menjadi dirinya sendiri lagi. Pertemuan di hari Minggu selalu memberinya semangat baru untuk kembali bekerja di hari Senin. Selama tiga tahun, rutinitas itulah yang ia jalani.

Lalu, kehidupannya berubah. Marlina putus dengan pacarnya. Pacar yang berjanji akan menikahinya tahun depan. Energi cinta memang luar biasa. Kehadirannya mampu membuat langkah kaki Marlina terus berjalan meski terasa berat. Namun, ketika cinta itu hilang, lukanya begitu perih dan menyayat. Bagi Marlina yang sudah tidak mempunyai ayah, cinta bukan hanya perasaan, melainkan juga sandaran.

Senin yang biasanya ia hadapi dengan semangat kini terasa berat. Setiap sudut kota adalah kenangan bersama pacarnya. Setiap hari, Marlina hidup dalam bayang-bayang kenangan. Perpisahan dengan pacarnya sangat memengaruhi psikologis Marlina. Ia trauma melewati tempat-tempat yang dulu pernah dikunjungi bersama pacarnya. Ia rasanya ingin menyerah dan kembali pulang. Namun, keadaan tak semudah itu. Marlina dihantui rasa takut akan pandangan keluarga besar dan tetangganya. Kepulangannya tanpa membawa kisah sukses membuatnya cemas dianggap sebagai sarjana yang gagal. Hatinya makin gelisah karena ia sendiri belum tahu harus berbuat apa di desa, sementara seluruh jejaring sudah dibangun di Jakarta; seluruh kesempatan berada di sana.

Marlina berusaha bertahan, tapi ia tak bisa lagi meredam kelelahan. Di kantor, Marlina mulai kesulitan berkonsentrasi. Ia seringkehilangan fokus saat mengerjakan tugas, melakukan kesalahan kecil yang dulu jarang ia lakukan. Rekan-rekannya mulai memperhatikan perubahan ini, tetapi tidak ada yang benar-benar peduli. Di dunia kerja, kelemahan bukanlah sesuatu yang bisa ditunjukkan, apalagi dikeluhkan. Ia harus tetap terlihat profesional, meskipun dalam hati ia merasa hancur. Setiap pulang kerja, ia hanya mendapati kesepian di kamar kosnya. Tidak ada keluarga yang mampu mendekap segala lukanya.

Sesaknya Jakarta dan tuntutan pekerjaan yang terus menerus menghimpit membuatnya terjerat. Tidak ada lagi hal yang bisa ia jadikan alasan untuk bertahan. Perlahan, kesepian dan kelelahan mulai mengambil alih dirinya, membuatnya semakin kehilangan arah. Marlina hanya mampu bertahan empat bulan pasca perpisahannya dengan pacarnya. Setelah itu, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Mereka bilang, perantauan adalah tempat menempa diri, tempat mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi, apakah pulang berarti kegagalan? Apakah kembali ke rumah setelah lelah bertarung adalah sebuah kekalahan? Aku pulang, tapi bukan untuk bercerita tentang kemenangan. Aku pulang, tapi bukan karena rindu. Aku pulang karena tak lagi punya tempat untuk bertahan,” batin Marlina di dalam kereta.

Ciputat, 2025


[1]Proses membakar genteng

[2] Gerobak sederhana untuk mengangkut tanah liat

*) Image by istockphoto.com