Hujan baru saja berhenti, tapi langit masih menggantung seperti kalimat yang belum selesai. Halte TransJakarta di perbatasan Ciledug itu basah, lengket oleh udara dan sisa asap knalpot yang menempel di papan reklame Kopi Susu: Sensasi Lembutnya Malam. Di bangku panjang aluminium, seorang perempuan duduk memeluk tote bag berisi buku tebal, rambutnya separuh basah, separuh acak, seolah ia baru keluar dari halaman kata-kata yang terlalu berat untuk dibawa sendiri.

“Mas, jam berapa bus ke Blok M lewat?” suaranya jernih tapi tanpa titik.

Yamal menoleh dari layar ponselnya, dari dunia algoritma dan teks yang bergeser-geser tanpa arah. Ia melihatnya—Niki—yang menatap papan jadwal digital yang rusak. Huruf-hurufnya berganti antara error dan harap bersabar. Ia menjawab seadanya, “Nggak tahu. Tapi katanya sistemnya baru di-reset. Bahasa mesin juga kadang capek, ya.”

Ia tertawa pelan. “Kayak manusia aja, bisa kelelahan ngomong.”

Hening sesaat. Dari seberang jalan, penjual jas hujan murahan menyalakan rokok, mengembuskan asap seperti tanda baca yang melayang di udara.

“Mas kerja di mana?”

“Di kampus. Ngajar linguistik. Struktur kalimat, semantik, sintaksis—hal-hal yang bikin orang normal ngantuk.”

“Ah, Chomsky?” katanya, cepat sekali. Bibirnya terangkat seperti baru mengingat seseorang yang pernah membuatnya kesal tapi juga kagum.

“Kenapa? Kamu kenal?”

“Dulu pernah diajar dosen yang terobsesi sama universal grammar. Katanya, kalau manusia bener-bener ngerti satu bahasa sampai ke tulangnya, dia bisa ngerti segalanya. Tapi nggak pernah jelas, ‘segalanya’ itu apa.”

Bus datang dengan derit panjang. Pintu geser terbuka seperti mulut yang siap menelan penumpang. Yamal menatap Niki yang sudah berdiri duluan, menatap hujan yang mulai turun lagi tipis-tipis.

“Kalau semua bahasa punya struktur yang sama,” katanya perlahan, “mungkin kita semua sedang berusaha bilang hal yang sama juga, cuma beda caranya.”

Niki menatapnya sejenak — matanya penuh tanda baca yang tidak terucap.

Lalu ia naik. Pintu menutup. Hujan turun lebih deras. Di kursinya, Yamal baru sadar: tote bag Niki tertinggal di bangku. Di dalamnya, terlihat secarik kertas robek dari buku linguistik— dengan tulisan tangan yang aneh:

“Kamu cuma belum dengar kalimat terakhirku.”

***

Tiga hari setelah kejadian di halte itu, tote bag Niki masih tergeletak di meja kerja Yamal — di antara tumpukan kertas ujian mahasiswa yang penuh kalimat tak selesai dan teori sintaksis yang bahkan Newton pun takkan sanggup menurunkannya ke rumus. Ia sudah membuka isinya: satu buku Syntactic Structures, dua tiket TransJakarta bekas, dan selembar surat kecil bertuliskan:

“Kalimat yang hilang selalu menuntut maknanya sendiri.”

Kalimat itu menghantui Yamal. Ia tidak tahu apakah itu pesan, atau semacam peringatan linguistik yang disamarkan sebagai puisi. Namun, setiap kali ia mencoba tidur, otaknya bekerja seperti parser yang rusak: membongkar ulang struktur kalimat yang tak semestinya dibongkar.

Ia mencari Niki. Di kampusnya—tak ada nama seperti itu di daftar mahasiswa atau dosen tamu. Di Google—hasilnya ratusan profil tak relevan, seolah nama itu baru saja diciptakan oleh semesta tanpa niat untuk ditemukan lagi.

Malam itu, Yamal kembali ke halte Ciledug. Hujan deras seperti adegan yang diulang. Ia berdiri di tempat yang sama—bangku logam dingin, lampu neon bergetar, dan papan reklame baru bertuliskan: “Kata-kata bisa menyesatkan.”

Lalu, suara: “Masih menunggu kalimat yang sama?”

Yamal menoleh cepat. Niki berdiri di sana, rambutnya basah kuyup, tapi senyumnya tak berubah. Seolah ia baru keluar dari jeda antara tanda koma dan titik dua.

“Kamu ninggalin tasmu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

“Karena kadang, kalau mau ngerti arti sebenarnya, kita harus biarkan kata-kata nyasar dulu.”

Ia mengucapkannya datar, tapi di bawah lampu yang bergetar, matanya memantulkan sesuatu—bukan sekadar hujan, tapi seperti bahasa asing yang belum diterjemahkan.

Bus lewat dengan bunyi gesekan besi. Mereka berdiri berhadapan, tak bergerak, sementara di luar, dunia berjalan seperti paragraf tanpa jeda.

“Yamal,” katanya pelan. “Kamu pernah dengar istilah linguistic determinism?”

“Bahasa membentuk realitas?”

Ia tersenyum tipis. “Mungkin malam ini kita akan buktikan itu.”

Hujan berhenti tiba-tiba, tapi angin dingin bertiup seperti tanda petik yang membuka sesuatu yang belum siap dibaca.

***

Bus terakhir sudah lewat, tapi mereka tetap berdiri di halte, dunia di luar seperti jeda panjang tanpa tanda baca. Niki bersandar di tiang, matanya memandangi jalan licin, sementara Yamal masih menatap bayangan mereka di kaca peneduh yang buram. Bayangan itu seperti dua kata dalam bahasa yang sama, tapi tanpa struktur yang bisa menyatukannya.

“Coba bayangin,” kata Niki perlahan, “kalau setiap bahasa menciptakan realitasnya sendiri, berarti kita berdua hidup di dua dunia yang nggak sepenuhnya sama. Kamu hidup di kalimat yang lengkap. Aku di kalimat yang belum selesai.”

Nada suaranya datar tapi hangat, seperti seseorang yang mengucapkan rahasia sambil menahan napas. Yamal ingin menjawab, tapi yang keluar hanya gumaman: “Kita bisa saling menerjemahkan.”

Niki tertawa pelan. “Masalahnya, nggak semua kata punya padanan.”

Dia kemudian duduk di bangku halte, membuka buku Syntactic Structures dan membalik beberapa halaman yang basah. Di sana, pada bagian yang seharusnya berisi diagram pohon sintaksis, ada coretan tangan: “Every grammar hides a wound.”

Yamal mendekat, lututnya hampir menyentuh ujung tas kain yang sama ia simpan berhari-hari. Ia ingin bertanya, tapi Niki lebih dulu bicara.

“Dulu aku pengajar bahasa di pesantren kecil dekat Ciputat. Sampai satu hari, aku salah menafsir ayat. Cuma satu kata, satu struktur. Tapi dari kesalahan itu, semua runtuh. Aku diusir, katanya aku sesat.”

Ia berhenti, menggigit bibir. “Sejak itu aku nggak percaya lagi pada makna yang tunggal. Aku cuma percaya pada… resonansi. Kalau kamu ngerti yang aku maksud.”

Yamal menarik napas panjang. Ia menatap wajahnya yang tak sepenuhnya bisa didefinisikan—antara lembut dan tegas, antara luka dan tenang.

“Aku ngerti,” katanya pelan. “Bahasa bukan cuma alat buat menjelaskan dunia. Kadang dia… jadi tempat kita nyembunyiin yang nggak bisa dijelasin.”

Niki menutup bukunya, menatap langsung ke mata Yamal. “Kalau begitu,” katanya, “kamu siap kehilangan makna?”

Dari kejauhan, terdengar sirene panjang—entah ambulans atau tanda dimulainya sesuatu yang lain.

***

Hujan mulai turun lagi, rintiknya seperti tanda baca yang jatuh satu-satu di atas kalimat malam. Lampu halte memantulkan cahaya kuning ke wajah mereka, membuat semuanya tampak seperti adegan yang belum disunting. Niki berdiri perlahan, lalu berkata dengan nada nyaris main-main, “Kita coba, yuk, bikin kalimat tanpa subjek. Lihat apa yang terjadi.”

Yamal tersenyum ragu. “Kamu maksud… metafora atau eksperimen linguistik?”

“Dua-duanya,” jawabnya cepat. “Kita hapus dulu ‘aku’ dan ‘kamu’. Kita biarkan tindakan berdiri sendiri.”

Niki melangkah ke arahnya. Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya, menghapus embun dari kaca halte seolah sedang menghapus satu kata kerja yang salah tempat. Yamal membiarkannya. Lalu, dalam jeda yang aneh itu, udara di antara mereka seperti menegang— bukan karena dingin, tapi karena adanya sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dalam struktur kalimat mana pun.

“Kalau Chomsky benar,” bisik Niki, “maka di otak kita udah tertanam pola bahasa yang sama. Artinya… kalau aku bilang sesuatu tanpa kata, kamu tetep bisa ngerti.”

Ia mendekat, suaranya turun menjadi hampir tak terdengar. “Contohnya… ini.”

Jarak di antara mereka lenyap. Sebuah frasa tak berhuruf terbentuk di udara, sesuatu antara pernyataan dan permintaan. Yamal memejamkan mata, tubuhnya menegangkan bahasa sendiri. Ia tahu ini bukan ciuman. Ini—entah bagaimana—sebuah bentuk sintaksis baru.

Tapi tiba-tiba Niki mundur, cepat, seolah menemukan kesalahan tata bahasa yang fatal. “Nggak,” katanya lirih, “kalimat ini salah. Subjeknya masih ada. Aku masih di sini.”

Yamal bingung. “Kenapa harus dihapus?”

Niki menatapnya, matanya basah oleh refleksi lampu jalan. “Karena kalau aku ada, kamu nggak bebas. Dan kalau kamu bebas, aku… hilang.”

Suara busway mendekat dari arah Blok M, remnya berdecit panjang. Yamal menoleh, tapi ketika ia kembali menatap Niki—bangku halte itu kosong. Buku Syntactic Structures tergeletak terbuka, halaman terakhirnya robek, hanya tersisa potongan kalimat:

“All meaning is a shadow of structure.”

Dan dari balik kaca buram, suara perempuan terdengar samar:
“Sekarang giliranku menerjemahkanmu.”

***

Hujan menggila malam itu, menulis kalimat-kalimat tanpa jeda di atas jalanan Ciledug yang banjir. Yamal masih duduk di halte, menggigil di antara pantulan air dan lampu. Buku Syntactic Structures yang ditinggalkan Niki ia peluk seperti kitab doa, lembarnya basah, tintanya mulai pecah seperti kalimat yang ditarik ke dua arah.

Ia mencoba menalar: mungkin ini permainan semantik. Mungkin Niki hanya sedang menguji batas bahasa — seperti yang ia selalu lakukan di kelas linguistik: mengacak kata, menghapus subjek, mengganti makna dengan tatapan. Tapi tatapan terakhir itu terlalu nyata, terlalu dingin, seperti seseorang yang baru saja menghapus dirinya dari tata bahasa dunia.

“Kalimat tanpa subjek…” gumamnya. “Berarti… tanpa pengucap.”

Dari ujung halte, angin membawa suara samar—bukan langkah, bukan mesin. Lebih seperti bisikan yang berulang-ulang menyebut bentuk kata kerja yang hilang. Ia menoleh. Di kaca yang berembun, muncul tulisan jari: move α. Ia menghapusnya, tapi muncul lagi, lebih tebal.

Tiba-tiba lampu halte mati. Semua jadi abu-abu.

Yamal berdiri, napasnya berat, dan dalam kegelapan ia melihat sesuatu bergerak di luar— bayangan perempuan, basah, kepalanya menunduk, rambutnya menutupi wajah. Ia memanggil, “Niki?” Tapi suaranya hilang dalam gemuruh. Bayangan itu mendekat pelan, menembus genangan air tanpa menimbulkan riak sedikit pun.

Saat ia menyadari itu bukan manusia, sudah terlambat. Bayangan itu mengangkat wajahnya, dan Yamal melihat matanya— kosong, reflektif, seperti dua tanda kutip tanpa isi. Bibirnya bergerak, mengulang kalimat yang mereka ucapkan dulu di kampus:
“Semua bahasa hanyalah struktur. Semua struktur butuh objek.”

Dan Yamal, mendadak, tidak bisa bergerak. Tangannya kaku. Napasnya berhenti di tenggorokan. Ia merasakan lidahnya terbakar, seperti ada sesuatu yang sedang menulis dari dalam tubuhnya.

Ketika lampu halte menyala kembali, hanya ada genangan air yang perlahan mengering, dan di atas bangku logam, buku itu terbuka di halaman kosong.

Tinta merah samar muncul perlahan di tengah lembar basah itu—bukan huruf, bukan kata—tapi bentuk kalimat yang tak selesai, dengan satu kata yang menetes seperti darah:

“Kau.”

*) Image by istockphoto.com