“Idrisi ingin tahu, apakah pelarangan tertawa hanya terdapat di kota-kota atau aturan yang sama berlaku di desa-desa. Para penyair zaman silam tak merahasiakan fakta bahwa di perkemahan-perkemahan gurun pasir, suku-suku tua para perempuan tertawa, bernyanyi, berkelahi, bermain cinta, dan berdagang, sama seperti kaum lelaki. Penaklukkan kota-kota telah mengubah semua itu. Semuanya dikendalikan dengan hati-hati. Termasuk gelak tawa? Mungkin saja. Hasrat untuk mengendalikan kaum perempuan dengan jelas berarti mengendalikan tawa mereka. Bukan hanya kaum perempuan. Para budak, pelayan, petani, tentara, tak satu pun di antara mereka tertawa secara terang-terangan di depan majikan mereka. Gelak tawa juga merupakan pertanda kesetaraan dan keakraban. Hanya orang-orang yang setara bisa tertawa bersama.”
(Tariq Ali, Seorang Sultan di Palermo, Serambi, 2007)
KURUNGBUKA.com – Yang sedang kita baca adalah biografi ilmuwan. Di novel, ia bernama Idrisi. Kita masih bisa melacak pelbagai keterangan sejarah bila ingin menyingkap ilmuwan dalam arus peradaban Islam. Idrisi adalah peta dan pengetahuan dunia meski ia memiliki beragam lakon, yang belum semuanya terungkap. Tariq Ali menaruhnya dalam novel, yang mengenalkan kepada pembaca sekaligus mengajukan sejarah. Kita membaca dalam selera imajinasi. Artinya, sejarah yang tidak tergelar berpedoman yang (paling) benar.
Di halaman-halaman novel, kita diingatkan tentang kota dan tertawa. Yang pasti, pengarang memberi daftar sosok-sosok yang bermasalah dengan tertawa. Di novel, pengisahan atau keterangan yang diberikan Tariq Ali itu mencengangkan. Kita diajak membuka sejarah bertema tawa. Mengapa terjadi pelarangan tertawa? Yang kita imajinasikan adalah tempat-tempat dalam album sejarah beberapa abad silam. Kita belum perlu berdebat membara untuk masalah kebenarannya.
Dulu, tawa memiliki tempat. Jadi, di beberapa tempat, tertawa itu lumrah. Namun, di beberapa tempat yang lain, tertawa itu pelanggaran atau dianggap merusak tatanan hidup. Apakah yang membedakan itu sekadar tempat? Pengarang mengajukan kota dan desa. Kita membayangkan orang-orang yang menghuni kota dan desa, berpikir patokan tata krama yang diwujudkan selama beberapa generasi. Tertawa dijadikan tanda seru yang diskriminatif.
Desa dan kota itu berada di benua yang jauh dari Indonesia. Kita yang membaca kadang ingin mencari bandingannya. Apakah tertawa pernah masalah yang besar di seantero Nusantara, dari abad ke abad? Kita menanti saja temuan jawaban. Yang membuat kita berpikir dipicu novel gubahan Tariq Ali adalah perempuan dan tertawa. Ingat, masalahnya tidak hanya tempat.
Pada suatu tempat dan komunitas, perempuan boleh tertawa. Kita mengartikan bahwa tertawa itu hak. Persoalan muncul gara-gara jenis kelamin, kelas sosial, atau pekerjaan. Tertawa yang hak justru mengalami pemaknaan yang rumit gara-gara pengaruh politik, ekonomi, agama, pendidikan, dan lain-lain. Yang ditulis Tariq Ali bukan sejarah tertawa tapi kita telanjur digoda memikirkan tertawa dalam arus peradaban manusia, di pelbagai benua.
Orang-orang yang ditaruh dalam golongan bawah mendapat pelarangan tertawa. Apakah itu aturan hidup yang tidak masuk akal. Kita menduga kegagalan tertawa digantikan tangisan gara-gara golongan bawah sering menanggung penderitaan. Bagi yang enggan berairmata, mereka memilih diam atau menunjukkan ungkapan yang berbeda.
Anehnya, hanya orang-orang tertentu atau “elite” yang memiliki perayaan tawa. Mereka berada di posisi yang diuntungkan dalam menanggapi hidupnya. Tertawa yang mengandung sombong, hiburan, kekuasaan, dan isen menjadi milik mereka, yang membuktikan sejarah selalu berisi “ketidakadilan”. Tertawa sangat bermasalah dalam sejarah, yang kita jarang membaca dan membuat pembahasan sampai dibandingkan dengan tertawa pada abad XXI. Kini, tertawa telah menjadi industri dan kebodohan yang parah.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<













