KURUNGBUKA.com – Aku baru saja selesai membaca novel Almond karya Sohn Won-Pyung (Grasindo, 2022—cetakan kesembilan). Mungkin ini adalah karya sastra pertama dari Korea yang aku baca.
Novel yang meraih penghargaan 10th The Changbi Young Adult Literature Prize ini adalah novel remaja yang menceritakan persahabatan dua “monster”. Monster di sini bukan berarti monster yang berpenampilan seperti makhluk aneh berukuran sebesar gedung pencakar langit, melainkan dua anak remaja laki-laki yang masih belajar di sekolah menengah yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda dari orang kebanyakan.
Ini adalah kisah tokoh utama Yoonjae, seorang anak remaja yang mengidap penyakit alexithymia, ketidakmampuan mengungkapkan suatu emosi, yang salah satu penyebabnya adalah ia dilahirkan dengan amigdala yang berukuran kecil.
Amigdala sendiri terletak di antara belakang telinga hingga kepala. Bentuk dan ukurannya sama seperti almond atau disebut juga sebagai “almond”. Sinar merah akan masuk ke “almond” jika mendapat rangsangan dari luar. Kau dapat merasakan rasa takut, kesal, senang atau benci berdasarkan sifat rangsangan (halaman 17).
Penyakit Yoonjae nampaknya tidak hanya sebatas tidak mampu mengungkapkan perasaan, melainkan tidak dapat merasakan perasaan apa pun. Ia tak bisa merasa sedih, senang, takut, kecewa ataupun yang lainnya.
Saking mati rasanya dia, saat melihat ibunya dan neneknya (neneknya meninggal) ditikam seseorang yang tak dikenal di sebuah restoran, Yoonjae tidak menampakkan perubahan mimik pada wajahnya sedikit pun. Dari situlah orang-orang tahu penyakitnya dan mencap ia sebagai monster.
Monster yang lainnya ialah Gon. Gon tak memiliki kelainan apa pun pada otak atau tubuhnya. Jika pun harus disebut penyakit, yang menyebabkan ia disebut sebagai monster, adalah tingkah lakunya, sisi psikologisnya.
Suatu hari, saat ia masih kanak-kanak, ia hilang diculik dan terpisah dari keluarganya sampai ia remaja. Hingga saat itu ia hidup di lingkungan yang tidak sehat secara sosial, yang menyebabkannya menjadi anak remaja yang bermasalah di sekolah maupun di lingkungan sosial secara lebih luas. Hal itu menyebabkan ibunya jatuh sakit parah.
Menjelang kematian ibunya, tanpa diketahui oleh Gon, ayahnya meminta bantuan Yoonjae untuk berpura-pura menjadi Gon. Setelah bertemu Gon palsu, ibu Gon meninggal dengan tenang. Setelah itu, Yoonjae dan Gon asli pun bertemu. Gon juga bertemu dengan ayahnya dan mengetahui skenario tentang Gon palsu itu. Sejak itulah “persahabatan” Yoonjae dan Gon dimulai.
Mereka berdua pun bersekolah di tempat yang sama. Namun karena insiden Gon palsu itu, Gon jadi berang kepada Yoonjae dan sering menghajar Yoonjae. Kendati demikian, Yoonjae tidak merasakan emosi apa pun, karena penyakitnya yang menyebabkan ia begitu. Tapi hal itu malah semakin membuat Gon jadi lebih penasaran terhadapnya, dan sebaliknya.
Empati
Hal menarik dari novel ini adalah bagaimana seseorang belajar empati terhadap orang lain. Hal ini malah terjadi pada Yoonjae. Kendati ia punya penyakit tak mampu merasakan apa pun, namun ia malah berhasil memupuk kepedulian yang tinggi terhadap orang lain, terhadap Gon terutama, saat Gon semakin terjerumus ke dalam kehidupan yang kelam. Dan akhirnya hal itu mengubah Gon yang pembangkang menjadi sadar betapa ada orang yang peduli terhadap dirinya sampai sejauh itu, bahkan hampir mengorbankan nyawanya.
Di sini kita bisa melihat bahwasanya kepedulian yang tinggi terhadap seseorang atau sesuatu bisa membalikkan sesuatu yang nampaknya tak mungkin menjadi mungkin, mengetuk kembali hati pembaca bahwasanya rasa cinta dan kasih yang tulus bisa memperbaiki apa pun yang kelihatannya sudah hampir ambruk. Itulah yang sedang kita alami dalam kehidupan dan realitas sosial saat ini.
Rumah Baca Bojonegara, 12 Februari 2026 01:01 WIB













