KURUNGBUKA.com, YOGYAKARTA – Dalam rangka menyambut bulan Ramadan, sebuah karya penting dalam khazanah sastra religius Indonesia kembali dihadirkan kepada pembaca: Para Utusan Lain sebelum Dia Telah Lahir dan 90 Rangkuman bagi Ali Audah karya Sapardi Djoko Damono.

Buku ini merupakan salah satu jejak reflektif Sapardi dalam merespons proses panjang penerjemahan The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali, sekaligus bentuk penghormatan mendalam kepada maestro penerjemah Indonesia, Ali Audah.

Di dalamnya, Sapardi merekam pengalaman ketika diminta oleh Ali Audah—melalui perantara Amak Baldjun—untuk menerjemahkan 300 rangkuman tafsir Abdullah Yusuf Ali. Berangkat dari kekaguman terhadap keluasan bahasa Ali Audah dan kekuatan kelisanan Yusuf Ali dalam menafsirkan Al-Qur’an, buku ini menghadirkan renungan puitik tentang batas-batas penerjemahan: apa yang bisa dialihkan secara kata demi kata, dan apa yang hanya dapat didekati melalui kepekaan batin.

Ali Audah pernah berpesan agar rangkuman tersebut diperlakukan sebagai puisi yang kebetulan memiliki kaitan dengan tafsir ulama besar asal Pakistan itu. Sikap ini menjadi landasan penting: menjaga kejernihan antara terjemahan dan puisi, sekaligus memberi ruang bagi tanggung jawab estetik dan spiritual. Dari kehati-hatian itulah lahir puisi-puisi yang bersifat meditatif—membicarakan kesetiaan, batas, dan amanah seorang penerjemah dalam mengolah pesan suci.

Pertama kali terbit pada 2014 sebagai penghormatan ulang tahun ke-90 Ali Audah, buku ini memuat 90 rangkuman terpilih. Lebih dari sekadar karya sastra, ia menjadi monumen persahabatan intelektual antara Abdullah Yusuf Ali, Ali Audah, dan Sapardi Djoko Damono—tiga nama besar yang terhubung oleh kesungguhan dalam merawat teks dan makna. Kini Shira Media, mendapat kehormatan untuk menerbitkannya kembali.

Momentum Ramadan menghadirkan kembali buku ini sebagai bacaan religius-kontemplatif yang relevan bagi pembaca sastra, penikmat puisi, maupun siapa pun yang mencari ruang refleksi spiritual. Kejujuran estetik dan kedalaman perenungan di dalamnya menjadikan buku ini tetap aktual lintas generasi.

Secara visual, edisi ini diperkaya dengan ilustrasi dan desain sampul karya seniman muda Mohammad Zuki (@_zukkk), menghadirkan dialog antara tradisi sastra besar dan sensibilitas visual generasi baru. Karya ini diharapkan bisa menjadi jembatan visual yang merefleksikan isi buku ini dengan sederhana.

Para Utusan Lain sebelum Dia Telah Lahir dan 90 Rangkuman bagi Ali Audah adalah undangan untuk merayakan warisan intelektual dan spiritual—sebuah karya yang menemukan maknanya kembali di bulan yang penuh perenungan. (rls.dhe)