surat buat Afifah Nahda & Syahidah Sumayyah Simanjuntak.

KURUNGBUKA.COM – Gambar, kata Sindoedarsono Sudjojono, adalah suatu karya yang berasal dari jiwa, bukan menjiplak kepunyaan orang lain. Sebab itu pula Bapak Seni Rupa Modern Indonesia itu percaya prinsip “jiwa ketok” (jiwa yang nampak). Gambar haruslah jujur, berperasaan & pergolakan batin sang seniman. Seniman akan jujur dengan apa yang mereka gambar—keseharian, benda-benda, tayangan atau apa-apa yang mereka lihat sehari-hari, apa-apa yang mereka sukai-benci, apa-apa yang mereka kira “pantas saya gambar” … perasaan seorang seniman pun rapuh seperti kaca yang gampang pecah: rawan. Rentan sedih atau bahagia atau mengalami keduanya sekaligus (dalam Bipolar Disorder kita mengenal fase maniak & fase depresif). Secara fisik seniman akan mengalami keseharian sebagaimana orang normal, tapi batinnya berkata lain: ada yang mereka simpan rapat-rapat, ada yang mereka keluarkan dengan sadar. Agaknya itulah yang dilakukan seniman dalam gambar-gambarnya.

            Mula-mula seorang seniman akan menggambarkan ekspresi “dirinya sendiri” dengan bentuk lain atau wajahnya sendiri—kita tahu bahwa hampir semua seniman di dunia menggambar self-portrait—gambar itu akan memunculkan objek “aku” dengan teknik yang mumpuni (seharusnya). Seni, memang pada mulanya, ialah ekspresi diri sang seniman: bagaimana perasaannya pada saat itu. Pada tingkat ini, seniman berusaha untuk “mengorek” jiwanya, keadaan batinnya. Tapi lama kelamaan seniman akan sadar atas sesuatu yang lain, bahwa seni bukan cuma soal “aku” & teknik yang mumpuni itu. Tapi seni juga soal mitos, sejarah, politik, manusia, ekonomi, lingkungan—hal-hal ini yang akan berkelindan dalam diri seniman sesuai dengan perkembangannya melihat dunia, membaca dunia. Sebab itu pula seorang seniman harus membaca ilmu-ilmu yang berada di sekitar dunia  gambar atau dunia lukis itu sendiri. Agar pemikirannya berkembang ke arah yang lebih luas, agar pemikirannya mampu menangkap hal-hal yang berada di luar dirinya.

            Kalian berdua senang menggambar, saya senang melihatnya. Lelaku menggambar semoga membuat kalian mengerti bahwa apa yang kalian lihat mampu ditangkap dengan baik & semua visual di dunia ini diciptakan dengan sangat indah oleh pelukis yang sebenarnya: Tuhan. Manusia apa mampu mencipta hal-hal di luar dirinya? Belum tentu. Tapi lelaku menggambar membuat kita sadar akan apa yang kita lakukan, membuat kita berhenti sejenak & menguji fokus perihal bagaimana garis ditarik dengan lembut & sabar, bagaimana anatomi tubuh diciptakan dengan tips & trik tertentu, bagaimana warna tak sekadar tumpah di atas kertas atau kanvas, tapi kita dengan baik memilihnya, bagaimana memajang lukisan yang telah selesai, bagaimana merawat lukisan yang telah lama kita simpan dan lainnya, dan lainnya … semua itu bukan lelaku menggambar, tapi seorang seniman harus mengerti, harus melakoninya.

            Hidup seorang seniman tak mudah, ia berjuang dengan “sesuatu” yang ada dalam dirinya. Van Gogh menembak dirinya sendiri (kita tahu ia berjuangan dengan penyakit mental yang dideritanya), Basuki Abdullah meninggal karena dirampok di rumahnya, Jean-Michel Basquiat  karena overdosis heroin. Para penulis pun sama mengerikannya, cerita-cerita mereka membuat kita bertanya: apa yang mereka alami? Sama seperti Van Gogh, Ernest Hemingway menembak dirinya sendiri, Sylvia Plath meninggal dengan keadaan kepala di dalam oven, Yukio Mishima melakukan seppuku (ritual bunuh diri). Sebab itulah mungkin seni dapat menyelamatkan mereka, healing (sebuah istilah yang ramai digunakan) bukan cuma pergi ke alam bebas, tapi juga “mengenal diri sendiri” lewat gambar, lewat puisi, lewat musik, lewat pertunjukan—lewat seni, yang paling penting adalah, kita mengenal diri kita sendiri & mengenal diri orang lain: bahwa kesedihan yang saya alami juga dialami orang lain, bahwa kebahagiaan yang saya alami juga dialami orang lain.

            Lelaku menggambar bukan cuma menatap & membuat sesuatu, tapi lebih dari itu: menciptakan apa-apa yang bisa kita lihat, apa-apa yang tak bisa kita lihat & apa-apa yang memang tak pernah bisa kita lihat.

            Medan, 2026

*) Image by Titan Sadewo bertajuk “Setengah”.