SEKUTU PUAN
1.1. Pesawat yang Mengangkut Suara
“Aku tak mau lagi pakai hati, apalagi memasang ekspektasi.”
Semoga bukan suara-suara kami [sendiri] yang memantul
di lengkung usianya
Erika merasa jera
tak lagi ia bayangkan kawin
ia lelah ditinggalkan
dipaksa legowo
ketika hubungannya berakhir
ia [dipaksa] kembali
pada ketidakpastian
dan perpisahan.
kawin
dirasa menghindarkan kekerasan
ia butuh KK,
kepemilikan rumah,
hak perwalian, dan waris
ia dianggap lelaki cacat
kesetiaan
mendatangkan kesusahan
kekerasan
karena mengenali
jauh lebih mudah daripada menggulai
agama
adalah polisi
kemacetan yang paling kubenci
sejarah
suka menggerayang tubuh
menggeneralisasi subjek
kawin bukanlah satu-satunya maskapai
Suleeman pun menolak gereja
satu-satunya suara
yang mengangkut keselamatan.
***
1.2. Ibu Air Mata
Bilo membuka celah:
“Sekalipun aku dapat berkata-kata
aku sama seperti gong
yang hanya berdengung”
yang tak peduli
terhadap yang lemah dan miskin
penolakan adalah alasan
kultural yang diperkuat
siasat Bapa gereja.
teks-teks menghakimi
yang minoritas
sebagai makhluk pendosa
teror tesktual Sepuluh Perintah
Sang Anak tunggal
Musa di pembuangannya
meringankan kesal khotbah pendeta
tumbuh dari
mempertanyakan akar penindasan Orang Samaria
teologi berabadabad
mendorong perempuan pada peran domestik
Gereja menjadi lembaga ayah yang diskriminatif
lalu
kesadaran para ibu
mendekonstruksi dewa para teolog
Mata Baru
keadilan adalah kehendak Allah
“Hai kamu yang tengah kasmaran terhadap Aku!”
kembalikan perempuan
kepada sejarah
dan sejarah kepada perempuan.
***
3.3. Ia yang Tak Mau Disebut Namanya
Seksualitas menggodaku
492 kali persenggamaan
kota tidaklah seromantis
langit Jakarta yang muram
yang Memberi Suara Pada yang Bisu*)
aku sembunyi
dari jangkauan temanteman kuliah dan kos.
di kemudi yang kemudian
aku menyumbang tahuntahun royalti
pada trasnpuan yang menyitas pandemi
pada kusutnya sekuritas impian
menggengam spiritualitas
kelompok sekutu,
dan relasi non-heteroseksual
prosesnya,
seorang sekutu memblokir
Hukum Kasih
komunikasi identitas seksualnya yang redup
di sana aku mulai belajar
tak perlu bertanya pada
guruh yang keburu menyambar.
*) buku kumpulan artikel karya Dede Oetomo
*) Image by istockphoto.com







