KURUNGBUKA.com – Hal pertama yang ingin saya ucapkan adalah selamat kepada Aco Tenriyagelli atas debut film panjang pertamanya yang ia sutradarai dan tulis bersama Indriani Agustina. Saya merasa cukup beruntung bisa mengenal karya-karyanya lebih awal; dari film pendek, music video, hingga serial yang hampir semuanya membekas dan meninggalkan kekaguman. Karena pengalaman itulah, saya menaruh ekspektasi setinggi-tingginya saat akan menonton Suka Duka Tawa, film produksi Bion Studios, Spasi Moving Images, dan Visinema Pictures ini. Saya bahkan mengajak emak saya ke bioskop, berharap bisa tertawa bersama, berhaha-huhu, dan mungkin pulang dengan hati yang lebih ringan.

Film ini berkisah tentang Tawa (Rachel Amanda), seorang komika yang terjun ke dunia stand up comedy. Kariernya justru melejit setelah ia menjadikan kisah hidupnya sebagai materi—tentang dirinya yang menyebut diri sebagai yatim pasif, istilah untuk anak yang masih memiliki ayah, tetapi merasa ayah tersebut “tidak berfungsi” dalam hidupnya. Ayah Tawa, Pak Keset (Teuku Rifnu), adalah pelawak sketsa televisi yang kariernya hancur setelah aib masa lalunya terungkap: ia menelantarkan istrinya, Bu Cantik (Marissa Anita), dan Tawa, anak semata wayangnya.

Aco memang punya keahlian khas dalam meramu drama keluarga yang melankolis dan menguras emosi. Ia kembali bekerja dengan aktor-aktor yang sebagian besar pernah terlibat di proyek-proyek sebelumnya, sehingga terasa ada kedekatan emosional yang kuat di layar. Cerita ini juga terasa sangat personal. Aca, Ayah Aco adalah seorang sutradara sinetron, sementara ia sendiri memilih jalan sebagai sutradara film—meski pernah juga berada di dunia sinetron yang sama. Jejak relasi ayah–anak itu terasa hadir, samar tapi nyata, di sepanjang film.

Isu fatherless—ketiadaan peran ayah—disampaikan Rachel Amanda dengan performa yang matang dan meyakinkan. Bukan hanya lewat dialog, tetapi juga melalui gestur-gestur kecil. Salah satu detail yang paling saya suka adalah cara Tawa mengelola emosinya: setiap kali marah, gelisah, atau tidak mampu menyalurkan perasaan, ia memilih mencuci piring. Sebuah coping mechanism yang sederhana, domestik, dan terasa sangat manusiawi—seolah ia menenangkan pikirannya lewat gerak berulang, bukan kata-kata.

Deretan karakter pendukung seperti Adin (Enzy Storia), Iyas (Bintang Emon), Fachri (Gilang Bhaskara), dan Nasi (Arif Brata) membentuk assembly character yang cukup solid. Sejujurnya, Enzy Storia dan Arif Brata menjadi scene stealer di antara jajaran aktor ternama lainnya. Jokes yang dititipkan pada karakter mereka dimainkan dengan timing yang pas—lucu, cair, dan tidak terasa dipaksakan.

Dari sisi visual, film ini terasa hidup. Wardrobe setiap karakter dibuat sangat khas, nyaris seperti perpanjangan kepribadian mereka. Busana Tawa yang kasual dan fungsional memperkuat citra dirinya sebagai komika yang tumbuh dari luka, bukan dari kemapanan. Pak Keset dengan pilihan busana yang seolah tertinggal zaman memberi kesan lelaki yang hidup di masa lalu dan sulit berdamai dengan hari ini. Detail-detail ini membuat karakter tidak terasa tempelan, melainkan hadir sebagai manusia utuh.

Keunggulan Aco lainnya adalah kemampuannya memadukan adegan dramatis dengan humor. Ada momen-momen ketika saya dan emak menangis, lalu tiba-tiba tertawa di adegan berikutnya, nyaris dalam satu tarikan napas yang sama. Saya benar-benar tak berhenti mengagumi akting Teuku Rifnu. Bahkan emak saya pun ikut terpesona. Banyak adegan yang sebenarnya tidak “memaksa” untuk ditangisi, tetapi begitu ekspresi Pak Keset muncul di layar, air mata mengalir begitu saja.

Soal musikalitas, Aco kembali menunjukkan kepekaannya dalam “mengawinkan” lagu dengan adegan. Soundtrack film ini diisi oleh musisi dan band Indonesia lintas generasi, yang bukan sekadar tempelan, tetapi hadir sebagai penguat emosi dan memori. Lagu-lagu yang digunakan antara lain: “Bunga Maaf” dari The Lantis, “KKEB” dari Andre Hehanussa, “Masa Sepi” dari Bernadya, “Timur” dari The Adams, dan “Kampiun” dari Rimba feat. Bilal Indrajaya.

Pilihan lagu-lagu ini memberi warna emosional yang intim—kadang nostalgik, kadang sunyi—sejalan dengan perjalanan batin Tawa dan ayahnya. Tone warna visual yang dipakai pun berani: cerah, full colour, dan seperti sengaja “ditabrakkan” untuk menegaskan kontras antara tawa di permukaan dan luka di dalam.

Detail kecil lain yang membekas bagi saya adalah adegan Tawa dan Keset berbincang di warteg, sementara dari toa masjid terdengar lantunan Surah Ar-Rahman—“maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”. Kalimat itu terasa seperti pengiring reflektif bagi dua manusia yang perlahan kembali menemukan jalan pulang satu sama lain—juga adegan karaokean. Di sini, bintangnya justru Myesha Lin yang menjadi Tawa kecil. Adegan yang minim tetapi berhasil merangkum kerinduan ayahnya selama mereka berpisah, dan bagi orang tua sedewasa apa pun kita akan tetap anak-anak di mata mereka.

Namun, mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi sejak awal, saya merasa film ini belum sepenuhnya memuaskan. Aco, dalam bayangan saya, bisa membuat film yang lebih kuat dari ini. Beberapa alur terasa dragging, dengan sejumlah filler yang sebenarnya bisa dipangkas. Pembuka film terasa menjanjikan—iklan Viral Living (yang dugaan saya musiknya diracik oleh Refo dan Fauna) itu terlihat sangat niat—tetapi setelah selesai menonton, film ini tidak meninggalkan bekas sekuat karya-karya Aco sebelumnya.

Bisa jadi karena ceritanya begitu personal, Aco terlalu menitipkan dirinya pada sosok Tawa, hingga muncul bias. Tawa tidak benar-benar “dihukum” atau diberi pelajaran atas keegoisannya—meski sikapnya membuat ia dijauhi teman-teman dan bahkan ibunya. Penyelesaian konflik terasa terlalu memanjakan karakter utama, seolah semua luka bisa sembuh tanpa konsekuensi yang setara. Poni palsu Tawa yang di set-up sejak awal juga saya kira akan dijadikan kunci, misal, ada satu materi yang membahas soal itu dan menjadi materi terpecahnya, namun sayang hanya dijadikan simbol yang dibiarkan menguap begitu saja.

Tentu saja, ini sangat wajar untuk film panjang pertama. Aco mungkin masih meraba bentuk idealnya—berbeda dengan medium film pendek, music video, atau serial. Jumlah karakter yang cukup banyak—karena temen Aco sebanyak itu—juga membuat beberapa di antaranya terasa kurang mendapat porsi yang pas. Bahkan ada karakter yang menimbulkan pertanyaan: mengapa ia hadir, apa motivasinya, dan seberapa urgensinya dalam cerita.

Terlepas dari segala catatan tersebut, Suka Duka Tawa tetaplah film yang layak ditonton—terutama bersama keluarga, atau bagi kalian penikmat seni stand up comedy yang belakangan ini kembali ramai dibicarakan karena stand up special Pandji, dan beliau hadir di film ini sebagai dirinya sendiri. Saya berharap film ini ditonton di hari-hari awal penayangan agar bisa bertahan lebih lama di bioskop, dan memberi ruang bagi Aco Tenri untuk segera melangkah ke film panjang berikutnya.

Skor: 7,5/10