Di Atas Bangku Itu
kau yang terduduk lesu di atas bangku itu
yang menyenderkan kepalanya pada lengan
dan menumpangkan lengannya pada lutut
dengan tatap mata yang kosong
memandang ke dalam diri sendiri
dengan wajah yang bersedih.
bukanlah seorang pria tua bertubuh kurus
dengan rambut ikal
yang melewati hari hanya dengan mengais
rezeki dari tong-tong sampah
dari satu tempat ke tempat yang lainnya.
kau bukanlah seorang pria yang tak pernah
pulang, yang tak pernah berteduh, dan yang
tak pernah dinanti.
kau juga bukanlah seorang pria dengan suara
kesakitan di heningnya malam,
di riuh jalanan, serta debu-debu.
yang asing akan dadu kopyor, ular tangga,
catur, togel, gelas-gelas kaca dan meja kedai.
kau adalah nyawa yang rapuh dan sementara
seperti sebatang ranting pohon
yang menanti patah oleh deru angin
tapi dipaksa tegar, remuk oleh
lumut dan waktu.
Medan, 2024
***
Sesaat Sebelum Berlalu
Malam larut, jalanan sunyi, dan pohon-pohon cemara
bergemeresik di tepi jalan
Di kedai kopi, volume televisi hampir tak terdengar
Pintunya yang tak tertutup rapat
menyisakan sedikit sinar lampu yang terpancar keluar
Seorang teman berkata,
“esok pagi adalah pagi yang baik untuk menjadi lebih baik,”
Dan kami hanya tertawa mendengarnya
Hujan pun turun menderu penjuru kota
Malam semakin larut
Langit kelam menyelimuti kota
Satu per satu lampu jalanan padam
Meninggalkan bayang-bayang yang panjang
Dalam kesunyian ini,
satu per satu teman pun pulang
Setiap detik, setiap rintik
mengalir bersama arus kenangan
yang tak akan pernah kembali
Malam dan hujan bersekutu
Menyampaikan pesan tanpa kata
Tentang hidup, tentang ruang
Tentang waktu yang berlalu tanpa suara
Esok pagi kami terima kabar
Seorang pengendara tergelincir, menabrak seseorang,
lalu jatuh dan kepalanya membentur trotoar
Pada malam itu
sekujur darah menyatu dengan hujan
sepasang mata keperakan di bawah rembulan
Medan, 2024
***
Sesaat Setelah Berlalu
malam terlentang
bulannya terang
bintangnya bergaris-garis.
dengan impian
dan sesal yang bersahutan
di tempat yang jauh di sana
ia merasa berpulang.
maka terkenang
layar pun terbentang
cahaya yang menyilaukan
menyapa di hadapan.
air mata yang jatuh
menyentuh bumi
menjadi melodi nada-nada serunai.
suara hati dalam deru,
denyut perlahan
lalu kencang
menjadi irama-irama gendang.
doa-doa terbang,
menuju ke langit
berdentuman dari kejauhan
bagai gong, gema harapan.
riuh pun menjadi sunyi
sunyi pun kan kembali riuh
semuanya bermuara
pada samudra yang sama.
untuk salam
kulihat malam dari bola matanya.
malam yang terlentang
bulannya terang
bintangnya bergaris-garis.
di tempat yang jauh di sana
ia merasa berpulang.
Medan, 2024
***
Air Pancur, Sungai dan Kenangannya
Aku duduk di sini,
memandang keluar jendela,
merasakan angin sepoi-sepoi
mengenang setiap menit, jam, hari, minggu,
bulan, dan tahun
yang berlalu seperti kemarin.
Di kejauhan, di tepi sawah yang hijau,
air pancuran mengalir dari pegunungan,
menuju sungai-sungai,
menghanyutkan bukan hanya ranting, daun, atau batu kerikil,
tetapi juga kenangan di dalamnya.
Membasuh setiap wajah yang telah lama,
wajah-wajah kami,
setelah lumpur lekat di tubuh
atau basah oleh keringat,
menceburkan membersihkan diri.
Sungai juga hidup, kata mereka,
sungai juga punya perasaan,
yang senang bercanda.
dan aku teringat sebuah kisah,
ketika popok bayi terbawa arus
dari pegunungan menuju sungai-sungai,
mengalir dengan deras
hingga menimpa seorang teman,
membuat tai lumer di atas kepalanya.
Dan menjadi alasan,
mengapa suara ricik air yang tak pernah diam
terdengar lebih sunyi.
Mengapa sungai yang selalu mengalir
tak menghanyutkan cerita.
Tak ada lagi wanita yang mengibaskan rambut basahnya,
tak ada lagi yang menceburkan diri untuk membersihkan diri,
wajah-wajah baru sibuk mencebur ke sungai dalam handphonenya,
sungai yang jernih dan dingin.
Berastagi, 2024
***
Tentang Seorang Teman
sore itu ia kehilangan
cahaya jingga yang terpancar ke jendela
serta rintik-rintik hujan
yang menyertainya
sementara azan berkumandang
wajah-wajah yang letih masih bergulir juga
di terpa debu-debu
yang beterbangan di sapu kendaraan
kuingin sekedar singgah
bercakap atau sekedar lepas lelah
tapi pintumu yang sedikit terbuka
memperlihatkan wajah musim gugur
dalam lampu yang padam
kau bersimpuh menghadap ke arah barat daya
hanyut dalam alunan gondang sabangunan
mengenakan ulos di bahu kanan
dalam khusyuk mata terpejam
menyeru kepada siapa saja yang mendengar
berbicara dengan bahasa yang tak terdengar
menumpahkan berkeluh-kesah yang gersang
apakah tentang ladang jagung di kampung halaman?
atau mimpi yang kian tak berharga?
entahlah, keputusan untuk tak bertanya
Berastagi, 2024
Keterangan:
Ulos: adalah salah satu jenis kain khas masyarakat Batak Toba, Sumatera Utara. Dari bahasa asalnya, “ulos” berarti kain, yang di buat dengan cara di tenun.
Gondang Sabangunan: adalah ansambel musik tradisi masyarakat Batak Toba Sumatera Utara, yang digunakan untuk pelbagai ritual adat, baik upacara daur hidup maupun kesuburan.
*) Image by istockphoto.com











