Genap tujuh menit tujuh belas detik, ia bak kupu-kupu yang mengepakkan sayap ke sana kemari. Merendah-meninggi, lalu hinggap di pangkal hati. Dulu di mata saya, Ainun tak ubahnya kepompong yang berdiam diri dan miskin ekspresi. Belakangan saya jadi menyadari, berkawan dengannya, yang melekat selalu tentang sosok ibunya. Mungkin karena perempuan yang Ainun sebut ‘ibu’ itulah, kini dia bermetamorfosa menjadi pribadi yang luar biasa.
***
Setelah bertahun-tahun tak bersua, hingga Ainun menyandang status ibu beranak dua, tiba-tiba perempuan yang pernah duduk sebangku dengan saya semasa berseragam putih-abu-abu itu menghubungi saya; dia meminta dukungan atas videonya di YouTube. Tentu saja saya langsung menyanggupinya. Lewat layar ponsel, saya pun menyaksikan penampilan Ainun.
Saya melihat raga Ainun seolah berdiri di musim semi Negeri Ratu Elizabeth. Latar yang dipenuhi bunga berwarna-warni itu menambah kesan cerah wajahnya yang tampil semringah. Lincah jemarinya berloncatan menggoreskan angka dan rumus di papan tulis putih. Mata sipitnya menyala-meredup, seirama intonasi bicara yang mirip logat penduduk sana. Saya heran, secepat itu English melekati dirinya?
Blazer merah bata dengan aksen pita penghubung dua sisi kancing membalut tubuhnya yang ramping. Seketika saya teringat kotak penanya dulu terlapisi kain yang dibubuhi motif pita serupa.
“Ibu bersusah payah membuatkannya untukku,” kata Ainun. Matanya berbinar memancarkan sinar kemilauan. Saat itu, rasanya saya ingin meminjam sinarnya. Sinar yang akan saya gunakan untuk menerangi mata saya ketika membicarakan Ibu saya. Tapi saya memilih untuk tetap tenang mendengarkannya.
“Karena itu kau selalu semangat belajar?” tanya saya.
Ainun mengangguk dengan memamerkan gigi bawahnya yang renggang.
“Aku tak mau mengecewakan Ibu. Doanya selalu menyertai pergerakan penaku.”
Menyadari kalimat yang dikatakannya saat itu, kini saya pun memaknai sama tatkala menjumpai motif pita itu di bajunya. Tanpa ragu, saya menekan like dan memberikan komentar pada videonya di YouTube.
“Aku mengajar Matematika di kelas bilingual,” jelasnya kemudian. Lantas saya mengangguk-angguk. Meski saya sadar tanggapan itu sia-sia lantaran dia tidak mungkin bisa mengetahui reaksi saya yang sesungguhnya. Perubahan yang terjadi pada Ainun pastilah tidak terlepas dari peran serta seorang ibu. Bahkan, kata Ainun, ibunya rela menjaga kedua cucunya agar Ainun bisa melejitkan karir.
Entah kenapa setiap mengingat Ainun dan ibunya saya jadi tercenung. Saya hanya bisa bercengkerama dengan Ibu saya di kala gelap menyapa. Ia berangkat ketika lampu jalan depan rumah masih menyala, dan tiba ke rumah lagi di waktu lampu itu akan dinyalakan. Sedangkan Bapak, kedatangannya sebulan sekali saya kenali dari suara kegaduhan di ruang tamu dan kala itu saya memilih berbaring di kamar menghitung lubang-lubang dinding yang semakin lama kian membengkak. Selama ini Bi Jum yang mengurusi kebutuhan saya.
Sepertinya menyenangkan memiliki ibu yang selalu ada untuk anaknya, begitulah yang saya pikirkan dan pemikiran demikian yang membuat saya–ketika sudah menikah dan memiliki putra–memilih mengikuti jejak Ibu Ainun. Meski saya tahu Ibu saya akan kecewa melihat putri semata-wayangnya memilih untuk di rumah saja.
“Kamu itu disekolahkan sampai S2 biar jadi wanita karir yang hebat. Bukan cuma momong anak. Semua kebutuhanmu selama ini juga sudah tercukupi. Tapi, kenapa seperti itu balasanmu pada kami?” Sebuah kilat menyambar dari mata Ibu saat saya, suami, dan anak kami berkunjung ke rumahnya. Mulutnya yang masih terpoles gincu merah muda seakan-akan menyemburkan percikan api.
Saya sudah berulang kali melewatkan panggilan wawancara kerja, bahkan dengan terang-terangan saya juga menolak tawaran posisi yang menggiurkan di sebuah perusahaan milik rekan Ibu saya.
“Setiap orang punya pilihan. Saya berharap Ibu bisa menghargai keputusan saya,” ujar saya mantap.
“Pilihan? Jadi, ini yang kau sebut pilihan?” serunya dengan napas terengah-engah seolah dia baru saja selesai senam aerobik sebagaimana yang sering dilakukan di akhir pekan bersama rekan-rekannya, “Oke! Kalau begitu aku mau lihat bagaimana kalian bertahan!” lanjutnya sebelum berlalu dari kami kemudian membanting pintu kamar.
Suami saya menggenggam kuat jemari saya yang gemetaran sambil menggendong anak kami yang sudah terlelap. Sejenak bayi berumur dua tahun itu menggeliat, namun kembali tertidur ketika dielus-elus punggungnya. Saya menghela napas panjang. Kami memandang pintu itu bagaikan menyaksikan layar bioskop yang mempertunjukkan film horor dengan suara keras dan menggelegar. Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sehari setelah kejadian itu, Ibu tak pernah lagi berkirim pesan sebagaimana perangai sebelumnya yang kerap menanyakan kabar cucunya. Ibu juga tak menanggapi pesan dan panggilan saya. Setiap kami datang ke rumah pun, pintu selalu tertutup rapat.
“Maafkan saya, Bu!” gumam saya lirih.
Saya tahu seharusnya saya berbicara sopan pada Ibu waktu itu, tapi saya tidak tahu harus berbicara apa. Saya hanya ingin dia tahu, bahwa setiap ibu punya alasan untuk sebuah keputusan.
“Semua itu butuh waktu,” kata suami saya yang membuat saya akhirnya menunggu waktu, sebagaimana yang disebut suami saya, tiba. Namun ternyata yang datang justru kabar buruk yang disampaikan Bi Jum pagi itu. Saat itu pagi sedikit berkabut dan menjatuhkan gerimis pelan-pelan.
“Ibu hipertensi dan masuk rumah sakit,” kata perempuan enam puluhan tahun itu dengan suara yang sama pelan.
Gerimis masih turun tanpa petir, namun hati saya serasa disambar petir. Gegas saya minta tolong suami untuk menjaga anak kami. Beruntung saat itu suami saya mendapat jatah shift malam di perusahaan jadi paginya bisa di rumah. Maka saya pun langsung meluncur ke rumah sakit.
Andai Ibu mengerti betapa berarti waktu seorang perempuan untuk keluarganya. Jika saya juga pekerja laiknya mereka, lalu siapa yang selalu ada untuk keluarganya?
***
Satu jam yang lalu Ibu membiarkan saya masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti hotel bintang lima yang baru saja diresmikan. Saat itu dia menguap panjang dan tampak baik-baik saja di atas ranjang besi selebar satu meter.
Meski selang infus menjalar panjang dari lengan kirinya, namun wajahnya memancarkan riasan yang lebat. Kini sudah satu jam saya berada di kamar ini dan saya tengah duduk di atas sofa lipat sambil kembali menyaksikan video Ainun. Ainun terpilih sebagai guru teladan untuk lomba mewakili sekolahannya.
“Apa semua barang sudah kautata dengan benar?” tanya Ibu.
“Sudah, Bu.”
“Oh!” sahutnya, “siapa yang kaulihat?”
“Ainun, teman SMA.”
Jawaban itu hampir diabaikan. Selama ini Ibu memang tidak peduli dengan teman-teman saya, atau bisa dibilang dia tak pernah mengenal Ainun. Dan tampaknya, baginya yang terpenting adalah kebekuan hati kami yang mulai mencair setelah sebelumnya rasa kikuk menguasai diri kami masing-masing.
“Perawat tadi bilang kalau kau diminta ke kasir untuk menebus obat.”
Seketika jantung saya berdegup kencang. Seingat saya, hanya ada tiga lembar uang kertas merah yang lecek di tas. Saya tidak menyangka jika hari ini dokter sudah mengizinkan Ibu pulang.
Di tengah kegugupan yang mendadak menyerang diri, Ibu lantas menyodorkan dompet kulit bercorak merah pekat. Saya menunduk, berpikir sesaat apakah akan menerimanya atau tidak. Batin saya bergejolak, mengingat belum lama ini tabungan suami saya terkuras untuk membayar perumahan yang baru kami tempati sebulan lalu.
Akhirnya dengan terpaksa saya menerima dompet itu. Ketika saya hendak beranjak ke luar, di ambang pintu langkah saya terhenti ketika tiba-tiba Ibu berkata, “Itulah mengapa seorang ibu harus bekerja. Mereka tak ingin membebani siapa-siapa.” (*)
*) Image by istockphoto.com












