Desa El-Raml adalah tempat di mana angin gurun membawa debu yang menutupi jejak sejarah, dan tradisi mengunci mulut perempuan serapat gerbang benteng tua. Di sini, matahari terbit bukan untuk membangunkan mimpi, melainkan untuk memulai rutinitas yang telah digariskan selama berabad-abad mengambil air, menumbuk gandum, dan melayani tanpa banyak tanya.
Di tengah kebisuan itu, hidup seorang wanita bernama Maryam. Selembar kain hitam menutupi wajahnya, menyisakan sepasang mata cokelat tua yang selalu tampak seperti telaga tenang yang menyimpan ribuan rahasia. Di balik cadarnya, Maryam bukan sekadar bayangan yang bergerak di antara tembok-tembok tanah liat. Ia adalah pemilik sebuah rahasia yang bisa menghanguskannya jika diketahui oleh para tetua desa.
Rumah Maryam berada di pinggiran desa, sebuah bangunan tua dengan ruang bawah tanah yang dulunya digunakan mendiang ayahnya untuk menyimpan kurma. Namun sekarang, ruangan lembap itu telah berubah menjadi sesuatu yang sakral. Di sana, di atas rak-rak kayu yang lapuk, berjejer puluhan buku yang sampulnya mulai mengelupas. Setiap Selasa malam, ketika para lelaki berkumpul di balai desa untuk membicarakan ternak dan politik, tiga atau empat gadis kecil akan menyelinap masuk melalui pintu belakang rumah Maryam.
“Hafsah, kemarilah,” bisik Maryam lembut. Suaranya di balik kain cadar terdengar seperti desir angin di sela daun palem.
Hafsah, seorang gadis berusia sembilan tahun dengan tangan yang kasar karena setiap hari memeras susu kambing, duduk bersila di atas tikar lusuh. Maryam membuka sebuah buku usang tentang geografi dunia.
“Lihat ini, Nduk. Di luar gurun ini, ada tempat bernama laut. Airnya biru sejauh mata memandang, lebih banyak dari seluruh sumur di desa kita digabungkan,” ujar Maryam.
Mata Hafsah membelalak. “Apakah perempuan di sana boleh melihat laut, Kak?”
Maryam tertegun. Ia merasakan sesak yang akrab di dadanya. “Di sana, perempuan bisa menjadi apa saja, Hafsah. Mereka bisa menjadi nakhoda kapal, dokter, bahkan pemimpin negara.”
Setiap kata yang diucapkan Maryam adalah gema yang memantul di dinding bawah tanah itu. Ia tidak hanya mengajar membaca; ia sedang menanam benih pemberontakan dalam bentuk harapan.
Perjuangan Maryam bukan tanpa alasan. Sepuluh tahun lalu, kakaknya, Sarah, meninggal dunia hanya karena sebuah infeksi sederhana saat melahirkan. Di El-Raml, hukum adat melarang dokter laki-laki menyentuh perempuan, sementara desa itu tidak memiliki bidan atau dokter perempuan. Sarah mati dalam sunyi, menggenggam tangan Maryam, dengan mata yang seolah bertanya: Mengapa kita tidak boleh selamat?
Sejak hari itu, Maryam bersumpah. Ia akan menggunakan sisa hidupnya untuk memastikan gadis-gadis di desanya bisa membaca, sehingga suatu hari salah satu dari mereka bisa menjadi dokter dan memutus rantai kematian yang sia-sia. Namun, di El-Raml, pengetahuan bagi perempuan dianggap sebagai racun. Suatu sore, Maryam sedang berjalan pulang dari pasar ketika ia berpapasan dengan Syekh Malik, pemimpin adat yang paling disegani. Malik adalah pria dengan janggut putih panjang dan mata yang tajam seperti elang.
“Maryam,” panggilnya dengan suara berat. “Aku mendengar desas-desus. Ada suara-suara aneh dari rumahmu setiap Selasa malam. Benarkah kau sedang menyimpan benda-benda terlarang?”
Maryam menunduk, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke pangkal leher. “Saya hanya hidup sendirian, Syekh. Suara itu mungkin hanya angin yang terjepit di lubang ventilasi.”
Malik menyipitkan mata. “Pastikan itu benar. Karena jika aku menemukan selembar pun kertas yang menyesatkan pikiran perempuan di desa ini, api akan menjadi satu-satunya jawaban.”
Suatu malam yang dingin, saat Maryam sedang membacakan puisi tentang kebebasan kepada anak-anak, pintu belakang rumahnya didobrak keras. Cahaya obor tiba-tiba membanjiri ruang bawah tanah yang remang-remang itu. Itu adalah para pemuda desa, dipimpin oleh anak buah Syekh Malik. Hafsah dan gadis-gadis lain menjerit ketakutan.
“Ini dia! Sarang iblis!” teriak salah satu pemuda sambil merenggut buku dari tangan Maryam.
Buku-buku itu dilempar ke atas tanah. Maryam mencoba melindungi tumpukan buku itu dengan tubuhnya, namun ia didorong hingga terjerembap. Cadarnya tersangkut dan robek, menampakkan wajah yang selama ini ia sembunyikan wajah yang penuh dengan bekas luka bakar lama, sebuah pengingat akan kecelakaan masa kecil yang membuatnya sering dikasihani sekaligus dikucilkan.
“Lihat! Bahkan wajahnya pun sudah dikutuk Tuhan!” ejek mereka.
Buku-buku itu dikumpulkan di tengah alun-alun desa. Syekh Malik berdiri di sana, memegang obor yang menyala-nyala. Penduduk desa berkumpul dalam lingkaran besar, menciptakan pemandangan yang menyayat hati. “Ilmu ini bukan untuk kalian!” seru Malik kepada kerumunan perempuan yang berdiri di barisan belakang. “Ilmu ini hanya akan membuat kalian membangkang pada suami dan meninggalkan rumah!”
Api menyentuh tumpukan buku itu. Maryam bersimpuh di atas pasir, melihat lembaran-lembaran kertas itu berubah menjadi abu. Setiap lembar yang terbakar adalah mimpi Hafsah tentang laut, mimpi Fatimah tentang bintang-bintang, dan mimpi Maryam tentang keadilan. Ia menangis tanpa suara. Air matanya membasahi pasir El-Raml, hilang seketika ditelan kekeringan gurun.
Malam itu, Maryam diseret ke tengah desa dan dihukum cambuk di depan umum sebagai peringatan bagi wanita lain. Setiap lecutan yang mengenai punggungnya terasa seperti api, namun Maryam tidak berteriak. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa tubuhnya bisa disakiti, tapi semangat yang ia bagikan tidak bisa dihancurkan. Setelah malam yang mengerikan itu, Maryam dikurung di dalam rumahnya sendiri. Pintu dan jendelanya dipaku dari luar. Ia dibiarkan dalam kegelapan, hanya diberikan air dan sedikit roti setiap dua hari sekali. Seminggu berlalu. Maryam merasa ajalnya sudah dekat. Tubuhnya demam hebat akibat infeksi luka cambuk. Namun, di tengah kesunyian malam yang mematikan, ia mendengar sesuatu.
Sebuah bisikan.
Ia merangkak menuju celah kecil di bawah pintu.
“Kak Maryam…” itu suara Hafsah.
“Hafsah? Pergilah, Nduk. Nanti kau tertangkap,” bisik Maryam lemah.
“Tidak, Kak. Kami tidak takut lagi. Semalam, saya mengajar adik saya alfabet yang Kakak ajarkan. Saya menulisnya di atas pasir di belakang kandang kambing. Fatimah juga mengajar sepupunya.”
Maryam tertegun. Jantungnya yang lemah seolah mendapat asupan darah baru.
“Mereka membakar kertasnya, Kak. Tapi mereka tidak bisa membakar apa yang sudah ada di kepala kami,” lanjut Hafsah dengan suara yang gemetar namun tegas.
Di balik cadar yang kini kotor dan robek, Maryam tersenyum. Air matanya jatuh, namun kali ini bukan karena sedih. Ia menyadari bahwa misinya telah berhasil. Ia telah mengubah ‘suara’ menjadi ‘gema’. Suara bisa diredam dengan kekerasan, tapi gema akan terus memantul dari satu hati ke hati yang lain, tak terbatas oleh tembok maupun ketakutan. Kesehatan Maryam terus merosot. El-Raml dilanda wabah demam gurun yang menyerang banyak anak kecil, termasuk anak-anak dari para pria yang menghukum Maryam. Karena tidak ada yang tahu cara mengobati dengan benar, kepanikan melanda.
Syekh Malik pun tampak putus asa ketika cucu laki-lakinya mulai membiru karena sesak napas. Dalam ingatannya yang kabur, Malik teringat bahwa di antara buku-buku yang ia bakar, ada satu buku besar tentang tanaman obat yang sempat ia lihat di tangan Maryam. Dengan rasa malu yang tertahan, Malik memerintahkan pintu rumah Maryam dibuka. Ketika pintu terbuka, udara busuk keluar dari sana. Maryam tergeletak di pojok ruangan, sangat kurus, hampir menyerupai kerangka.
“Maryam… tolong cucuku,” bisik Malik, suaranya tidak lagi menggelegar.
Maryam membuka matanya yang layu. Ia tidak membalas dendam. Dengan sisa tenaganya, ia memberikan instruksi. “Ambil akar pohon Sidr… rebus dengan air sumur bagian utara… campurkan dengan madu liar…”
“Bagaimana kau tahu itu?” tanya Malik gemetar.
“Karena saya membaca, Syekh. Sesuatu yang Anda anggap racun, ternyata adalah satu-satunya obat bagi keturunan Anda.”
Maryam memberikan instruksi terakhirnya sebelum napasnya menjadi pendek-pendek. Ia meminta satu hal agar ruang bawah tanahnya tidak pernah ditutup lagi, dan agar Hafsah diberikan akses ke perpustakaan kota di provinsi. Maryam meninggal dunia sore itu, tepat saat matahari terbenam dengan warna merah yang menyayat hati seolah langit ikut berdarah meratapi kepergiannya. Ia dimakamkan di pinggir desa tanpa nisan yang megah. Namun, pemakamannya dihadiri oleh seluruh perempuan di desa El-Raml. Mereka berdiri berjejer, mengenakan cadar hitam mereka. Tidak ada suara tangisan yang keras, hanya keheningan yang mencekam.
Beberapa tahun kemudian, sebuah pemandangan aneh terlihat di desa El-Raml. Seorang wanita muda turun dari mobil jeep dengan tas medis di pundaknya. Ia mengenakan pakaian tertutup yang rapi, dengan kerudung yang bersahaja. Wanita itu adalah Hafsah. Ia telah kembali sebagai dokter pertama dari El-Raml. Hal pertama yang dilakukan Hafsah bukan menuju balai desa, melainkan menuju makam kecil di pinggir gurun. Ia meletakkan sebuah buku baru di atas pusara yang hanya ditandai batu karang itu.
Hafsah berlutut dan berbisik, “Gema itu sekarang sudah menjadi badai, Kak. Dan tak ada satu pun obor yang bisa memadamkannya lagi.”
Di bawah hembusan angin gurun, seolah-olah terdengar suara Maryam dari balik waktu, berbisik lembut bahwa perjuangan seorang wanita tidak pernah sia-sia, selama ada satu orang saja yang berani mengingatnya.
*) Image by istockphoto.com











