“Awalnya, dia tidak memiliki cukup keinginan untuk memberi nama bagi bayi perempuannya, yang kelahirannya hanya beberapa minggu setelah Perjanjian Aneksasi membayangi kekalahan Korea. Lalu, seiring anak itu tumbuh, pendudukan Jepang juga ikut membesar. Semakin banyak tradisi mereka yang tumbang karena modernisasi, yang semuanya dia bebankan kesalahan terhadap Jepang. Namun, semakin dia menyadari bahwa putrinya menyerap perubahan itu sehingga anak itu menjadi semacam perwakilan dari kegagalan Korea.”

(Eugenia Kim, The Calligrapher’s Daughter, Gagas Media, 2012)

KURUNGBUKA.com – Novel yang memuat sejarah, novel yang mengundang pembacanya masuk ke lorong tidak terang atau menempuhi jalan yang tidak lurus. Yang membaca cerita sering bertanya mengenai bibliografi agar tidak terpeleset atau tersesat saat membuka ratusan halaman novel. Yang disajikan Eugenia Kim memang memikat meski kita belum akrab dengan sejarah Korea. Yang terjadi, sejak beberapa tahun lalu, orang-orang di Indonesia terlalu memuja industri hiburan dari Korea Selatan, yang tanpa kewajiban mengerti sejarahnya.

Sejarah dilihat dari keluarga. Jepang yang berkuasa atau memerintah menimbulkan gejolak dalam keluarga-keluarga. Yang sangat terasa adalah tekanan-tekanan mengakibatkan perubahan atau kepunahan tradisi-tradisi. Konsekuensi politik menciptkan sengsara, yang sulit ditebus dan ditanggulangi.

Pada mulanya, otoritas ayah dan pemaknaan keluarga. Pada lakon penjajahan, keluarga-keluarga sering hancur akibat kematian atau luka. Perang bisanya mengisahkan para lelaki yang berperang atau melakukan perlawanan. Keluarga jarang utuh dan bahagia. Yang rumit memang keluarga, yang anak-anaknya lelaki atau perempuan.

Perubahan besar mudah terjadi akibat pendidikan dan gaya hidup kota yang bertajuk modernisasi. Ayah dan ibu yang mudah dimasukkan dalam golongan lama akan mendapatkan kejutan yang sulit dipahami atau dimaklumi dengan anak-anaknya yang memasuki babak baru. Perang adalah petaka, yang sangat berdampak dalam tatanan keluarga. Yang dimunculkan dalam novel awalnya adalah perkara nama untuk anak dan kemauan melakukan perlawanan. Kita mengartikannya petaka perang bertumpu keluarga.

Penjajah adalah pihak yang paling bersalah. Kita menerima kebenaran, yang kadang mendapat ralat atau dipelintir untuk kemunculan pengertian yang sebaliknya. Penjajahan itu kejam sekaligus mendesakkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, yang kadang memunculkan perubahan-perubahan yang cerah sekaligus menggerakkan sejarah.

Tokoh ayah merasa ada yang remuk dalam keluarga. Ia tidak selamanya berani dan berhasil menghindari kegagalan. Di bawah penjajahan, kalah dan gagal itu keniscayaan. Yang membuatnya masih bisa memiliki kehormatan adalah masalah nama, pengasuhan, dan pembayangan masa depan. Namun, kekuasaan dan arus modernitas bisa meminta tumbal dari keluarga. Artinya, kolonialisme menyerbu keluarga dengan seribu tanda seru, yang menyebalkan dan menjebak.

Anak yang dibebani banyak harapan orangtua kadang memiliki alur yang berbeda. Maka, kepatuhan tidak selamanya pada anak. Yang terjadi adalah gejolak-gejolak yang membuat keluarga jarang harmonis akibat penjajahan dan kepentingan-kepentingan sebagai risiko modernitas awal abad XX. Anak bakal menyusun biografi dan menghadapi perkara-perkara baru yang jawaban-jawabannya bisa membahaagiakan atau menghancurkan.

Yang menikmati cerita diajak menuju keluarga dalam babak sejarah kelam di Korea saat dikuasai Jepang. Kita sekadar membayangkan konflik-konflik tercipta melibatkan banyak pihak, yang alurnya ruwet sekaligus menghasilkan pemahaman-pemahaman yang ganjil.

Pada keluarga dan kolonialisme, kita membaca masa lalu yang tidak semuanya terbaca. Ada halaman-halaman yang gagal terbaca dan terbiarkan samar, yang memungkinkan adanya imajinasi sembarangan tanpa menuntut kebenaran dan fakta-fakta sejarah. Novel telah sedikit memberi belokan imajinasi saat masuk dalam sejarah.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<