KURUNGBUKA.com – Ada yang menarik sekaligus mengganggu dari film ini. Perayaan Mati Rasa membuka dirinya dengan niat yang besar, tapi terasa terlalu lama menahan napas. Bridging dan setup-nya kepanjangan—kita seperti diajak keliling dalam lorong yang belum jelas ke mana arahnya. Baru di pertengahan film, ketika kabar kematian Kapten Satya Antono (Dwi Sasono) datang, barulah cerita ini benar-benar mulai hidup. Emosi mulai menetas, konflik terasa lebih konkret, dan penonton mulai peduli pada Ian Antono (Iqbaal Ramadhan), karakter utama yang sejak awal digambarkan dingin dan tenggelam dalam tekanan.
Baru di titik itulah saya merasa hadir sebagai penonton yang peduli. Sebelumnya, jujur, saya seperti ditahan di luar pagar, tak diberi cukup alasan untuk masuk dan peduli. Saya rasa ini terjadi karena inciting incident-nya terlalu jauh ke tengah cerita—penundaan ini membuat kita kehilangan momentum emosional di awal.
Premisnya sebenarnya kuat dan dekat dengan banyak dari kita: Ian, si anak sulung yang memikul ekspektasi dan berjuang dalam dunia musik, terus hidup dalam bayang-bayang adiknya, Uta Antono (Umay Shahab), yang lebih sukses sebagai konten kreator. Konflik keluarga, kehilangan orang tua, dan tekanan sosial yang menumpuk membuat Ian mati rasa—bukan hanya secara emosional, tapi juga spiritual. Sampai akhirnya, dia dan Uta saling membuka diri dan menemukan kembali arti keluarga. Di sini film ini menemukan nadinya.
Yang patut diapresiasi tentu akting Umay Shahab yang semakin matang, apalagi saat tahu bahwa dia tidak hanya bermain, tapi juga menyutradarai film ini. Umay berhasil menampilkan Uta dengan gestur dan perasaan yang terasa tulus—ada aura adik yang benar-benar mengagumi dan sekaligus kecewa pada kakaknya. Unique Priscilla yang berperan sebagai ibu juga patut diapresiasi karena menambahkan kompleksitas emosi di film. Sayangnya, justru Iqbaal, di beberapa scene emosional, terasa menahan atau malah tidak sampai—ada ruang yang seharusnya bisa lebih dalam tapi dibiarkan kosong.
Satu hal yang cukup mengganggu adalah cara narasi dibangun lewat sudut pandang Ian, yang membagi film ini dalam empat babak berdasarkan zona laut: Litoral, Neritik, Batial, dan Abisal. Saya bisa menangkap maksudnya—sebuah metafora perjalanan ke kedalaman emosi, ke titik paling gelap seorang manusia. Tapi sayangnya, istilah ini tidak sepenuhnya melebur dalam alur. Ia muncul sebagai penjelasan, bukan pengalaman. Terasa seperti ditempel, bukan dijahit.
Lalu, seperti beberapa film Umay sebelumnya, ada bagian penting yang malah dilompati. Misalnya saat mereka dapat kabar tentang kematian ayahnya—proses pencariannya tak pernah diperlihatkan tahu-tahu wartawan ramai dan menjadi berita nasional, di awal tidak pernah diinfokan seberapa besar atau terkenal nama Kapten Satya. Kita dipaksa percaya begitu saja. Padahal, itu bisa jadi momen emosional paling berharga jika diberi ruang. Ini membuat beberapa titik konflik terasa kurang menggigit karena perjalanan menuju resolusinya diceritakan alih-alih ditunjukkan.
Meski demikian, film ini punya jiwa. Di seperempat akhir cerita, saya merasa terhubung. Ketika luka mulai dibicarakan, ketika ego pelan-pelan diluruhkan, ketika dua saudara duduk dan saling menatap tanpa perlu banyak kata—di situ film ini menemukan kemanusiaannya. Judul film ini diambil dari lagu Natania Karin dan Umay Shahab, dan dalam film dieksekusi dengan sangat baik, sebagai bagian penting dari penggerak alur ceritanya. Layak tonton, apalagi jika kamu sedang mencari cerita tentang keluarga, luka yang tak terlihat, dan cara-cara sederhana untuk kembali pulih.
Skor: 7/10.
NB: Di film ini ada Gusti Irwan Wibowo atau biasa dikenal sebagai @gustiwiw yang muncul sebagai Cameo. Hari ini dapat kabar beliau meninggal dunia ketika kariernya sedang bagus-bagusnya. Alfatihah untuk beliau. Seniman sejati yang pernah dimiliki Indonesia telah berpulang. Surga untukmu. 🥀
*) Image by IMDb.com













Trackback/Pingback