KURUNGBUKA.com – Sastra masih mengabarkan yang laris. Ingatan kita tentang 1998 tidak cuma Soeharto. Di sekitar krisis kuadrat, Indonesia dicengangkan oleh novel gubahan Ayu Utami, yang mula-mula memiliki nama samaran yang unik. Indonesia memiliki gairah sastra dengan Saman. Buku diterbitkan oleh KPG dan Kalam terpicu kemenangan Saman dalam sayembara sastra mentereng, sayembara cap DKJ. Konon, sayembara telah membesarkan banyak nama pengarang, dari masa ke masa.

Yang terjadi adalah novel berjudul Saman laris. Cepat dicetak ulang! Pada tahun dan selera yang berbeda, sampul buku mengalami perubahan. Yang ingat krisis justru ingat sastra yang laris. Dulu, Ayu Utami adalah nama jaminan buku laris.

Pada tahun-tahun yang berbeda, laris mengingatkan nama yang sudah terkenal sejak dirinya kecil atau remaja: Leila S Chudori. Pada awalnya, ia rajin menulis cerita-cerita di majalah anak dan remaja. Jadi, ia bertumbuh sebagai pengarang yang kelak disempurnakan dalam kerja pers. Leila S Chudori, nama yang telah tercantum dalam kesusastraan sejak lama, bukan tiba-tiba muncul berdasarkan peristiwa akbar atau melalui pertaruhan nasib dalam sayembara-sayembara.

Buku-buku yang ditulis Leila S Chudori sering laris. Maksudnya, novel-novel yang ditulis saat ia dewasa dan menuju tua. Dua novel yang terbukti laris: Pulang dan Laut Bercerita. Dolanlah ke toko buku! Bukalah dan bacalah keterangan dua novel sudah cetak ulang belasan kali! Jika malas membawa kaki ke toko buku mendingan membuka gawai. Percayalah dua novel itu masih dan selalu laris sampai sekarang! Dua buku yang diterbtikan KPG. Selingan saja: buku-buku sastra terbitan KPG keseringan laris, sejak Ayu Utami sampai Leila S Chudori.

Tiba saatnya kita kembali ke masa lalu. Kita menikmati halaman-halaman majalah Zaman, 20 Agustus 1983. Masa itu Leila S Chudori belum getol memasalahkan 1965 dan 1998 untuk ditulis menjadi novel. Yang ingat silam, Leila S Chudori memberi cerita pendek meski para penggemar mengetahui ia menulis novel-novel tipis.

Di majalah Zaman, termuat cerita berjudul Mencari Sebuah Jawab. Kita lekas mengutip saja penggalan cerita: “Tetapi, puncak dari segala kekhawatiran saya adalah hal yang lain lagi. Memang saya takut bila berhadapan dengan Munkar dan Nakir nanti karena selama di dunia, ternyata saya tidak pernah menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslim yang taat. Tetapi saya jauh lebih takut lagi jika saya bertemu dengan arwah ayah. Lebih baik saya langsung dikirim ke nerak daripada harus bertemu beliau. Terus terang, saya jauh lebih takut ketemu beliau daripada ketemu malaikat-malaikat penanya di akhirat.”

Yang membaca penggalan saja mungkin sempat tertawa. Pengarang tidak sedang mengajak pembaca melakukan kritik agama. Ia sedang memasalahkan diri selama di dunia, yang berkaitan dengan macam-macam. Tokoh yang bercerita mengaku sudah meninggal.

Kita mengutip lagi bagian yang bisa bikin tertawa: “Mungkin jika ada malaikat yang usil, yang ingin tahu siapakah pria yang sebetulnya ‘tercinta’ bagi saya, akan saya jawab terus terang. Tergantung bagaimana dekatnya saya dengan sang malaikat itu. Kalau ia cukup terpercaya akan saya katakan bahwa pria yang paling saya cintai adalah Navis. Biarlah, biarlah si malaikat terbelalak heran atau terpekik bingung mendengar jawaban saya. Saya tahu, dia akan terheran-heran karena mungkin dari langit sana dia tidak pernah melihat saya waktu di bumi berpacaran dengan Navis. Navis memang tidak pernah menjadi pacar saya. Tapi, apa salahnya jika ia adalah seseorang yang ‘tercinta’ bagi saya?”

Pembaca tidak usah keplikiran tokoh yang tercita itu AA Navis, yang kemarin diperingati seabad secara istimewa di Indonesia. AA Navis itu pengarang kondang. Sosok yang berbeda dari Navis yang ditulis Leila S Chudori. Yang terbaca dalam cerita adalah “pacaran”. Pembaca tidak harus repot-repot memasalahkan sejarah atau politik berlatar Indonesia seperti bermunculan dalam Pulang dan Laut Bercerita.

Pada saat buku-bukunya masih laris, kita tidak harus merasa bersalah saat terpanggil membaca cerita-cerita lamanya. Yang rajin membuka majalah-majalah lawas akan menemukannya dengan keterkejutan dan keinginan agar semua tulisan kelak dijadikan album (lengkap) masa lalu sebelum babak Pulang dan Laut Bercerita. Yang tidak terbantah, Leila S Chudori adalah pengarang melewati jalan sastra yang panjang, sejak ia kecil dan remaja.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<