KURUNGBUKA.com – Ada momen ketika ngomong blak-blakan dianggap kasar. Muncullah istilah eufemisme untuk mengatakannya dengan cara halus. Untuk menyebut keluarga miskin misalnya ada kata prasejahtera. Dalam tulisannya di Kompas pada 27 Juli 2021, K. Bartens telah memperingatkan bahaya penggunaan eufemisme yang terlalu sering.
Eufemisme lebih berbahaya ketika ia digunakan untuk menyamarkan kerusakan alam. Ia tidak memberikan kita kesempatan untuk menelaah bahwa pembangunan berkelanjutan adalah eksploitasi sumber daya alam, reklamasi pantai adalah pengerukan laut, dan limbah sebenarnya adalah sampah beracun.
Riset yang dilakukan Shi dkk.(2020) dan Grolleau dkk.(2022) membuktikan bagaimana sebuah kata, termasuk eufemisme, mampu memengaruhi cara kita berpikir, bertindak dan mengatasi masalah. Banjir Sumatra dinarasikan sebagai dampak cuaca ekstrem, ada siklon tropis dan curah hujan yang tinggi (bukan karena pembalakan hutan). Kita diarahkan untuk menerima takdir, dan bersiap beradaptasi ketika kelak bencana yang sama terjadi lagi. Saat pemanasan global berganti menjadi perubahan iklim, kita semakin dijauhkan dari beragam krisis ekologis yang sedang terjadi di sekeliling. Media menyebutkan kata-kata asing high frequency dan high impact dari ancaman siklon tropis tanpa benar-benar memahami apa maknanya.
Perubahan iklim merupakan satu eufemisme lain yang tampaknya berhasil mengubah cara pandang kita. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menerakannya sebagai peralihan cuaca yang mencolok yang terjadi di antara dua periode tertentu dari suatu wilayah iklim. Istilah yang mulai digunakan Intergovernmental Panel on Climate Change pada kurun waktu 1980 sampai dengan 1990-an itu sekilas hanyalah peristiwa cuaca, tak ada yang berbahaya. Kita lupa ‘peralihan cuaca yang mencolok’ itu dapat menyebabkan gagal panen, kenaikan permukaan air laut, banjir, penyakit, dan bencana sosial lain.
Bandingkan dengan arti pemanasan global yang juga tertera di dalam KBBI Daring berikut: naiknya temperatur atmosfer bumi yang disebabkan oleh bertambahnya gas polutan seperti karbon dioksida.
Mana yang membuat Anda cemas?
Eufemisme adalah kegemaran para politisi. Mereka memakai eufemisme untuk mengaburkan kinerja dan segala bentuk penyelewengan sekaligus mengarahkan kita untuk memandang krisis lingkungan sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan. Kita dipaksa menelan mentah-mentah istilah alih fungsi lahan padahal itu menggunduli hutan, atau penurunan kualitas air padahal ada sungai yang tercemar. Di sinilah kita melihat, bahasa dibengkokkan untuk menyamarkan fakta.
Lama-kelamaan, kita pun merasa tidak perlu bertindak karena alam baik-baik saja, sampai bencana datang tanpa peringatan dan menghanyutkan semua yang kita punya. Beban hidup tidak memberikan kita kesempatan untuk mengkritisi bahwa isu lingkungan yang kita pahami hanyalah versi yang sudah dipoles pemerintah.
Istilah perubahan iklim memang pernah diusulkan Frank Luntz, ahli lobi Partai Republik. Luntz membisiki George Bush, presiden Amerika Serikat saat itu dan anggota partai untuk berhenti menggunakan istilah pemanasan global. Ia beralasan kata ‘pemanasan’ mengisyaratkan adanya subjek, seseorang atau sesuatu yang melakukan pemanasan, seorang yang bertanggung jawab. Sementara itu, perubahan mengisyaratkan sesuatu yang tidak selalu dikendalikan oleh siapa pun, dan tidak selalu baik atau buruk.
Maka benarlah temuan Shi dkk. Kata-kata dapat membuat orang menjadi apatis, membuat masyarakat bersikap pasif, atau sebaliknya, dapat mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab dan ikut bertindak. Ketika berbicara soal bencana, istilah krisis iklim dan darurat iklim terasa lebih mengancam. Saya ingat kata-kata Antonio Guterres, Sekjen PBB saat KTT Iklim pada 2023 di New York, “Umat manusia telah membuka pintu neraka.” Guterres menyinggung emisi gas rumah kaca terus meningkat dan bahan bakar fosil tetap disubsidi sebesar $7 triliun setiap tahunnya. Istilah anomali cuaca pun muncul, melenakan. Kita hanya bisa mengeluh panas dan gerah luar biasa meski penyejuk udara menyala karena telanjur percaya, iklim sedang berubah.
*) Image by dokumentasi pribadi penulis
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







