Memasuki era New Normal pada saat wabah corona masih merebak di tanah air, tidak menjamin hidup kita telah bebas sepenuhnya. Kebijakan pemerintah melonggarkan isolasi wilayah dengan alasan kita harus hidup berdampingan bersama virus mematikan ini tidak sepenuhnya itu adalah solusi tepat. Ditambah lagi situasi politik-ekonomi negara yang kian hari kian terpuruk dengan berbagai persoalan di dalamnya.

Pusat-pusat perbelanjaan modern mulai dibuka kembali seusai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dihentikan. Orang-orang mulai kembali lagi masuk kantor karena kebijakan untuk bekerja dari rumah (work from home) pun harus berakhir. Namun, masa transisi dari PSBB ke era New Normal yang dilakukan daerah-daerah tidak membuat grafik kasus infeksi virus corona melandai, justru sebaliknya merangkak naik setiap harinya dengan banyaknya penambahan kasus baru. Tentu ini bukan kabar baik bagi kita dalam menjaga diri sendiri dan menjaga orang-orang yang kita sayangi dari virus mematikan itu. Bahkan bisa dikatakan kita sedang mengalami kemunduran.

BACA JUGA:
Swab, Swab, Swab, Bikin Degdegan!

Prediksi pemerintah bahwa virus ini akan selesai di akhir tahun masih sebuah teka-teki yang tidak pasti. Bahkan bisa jadi wabah pandemi corona ini akan terus memanjang waktunya selama vaksinnya belum ditemukan. Selain itu, New Normal yang kita sambut sukacita sebagai jalan keluar dari kejenuhan dan kebosanan saat di rumah saja, juga disalahpahami bahwa kita sudah kembali normal. Padahal istilah itu menuntut kita melakukan adaptasi kebiasaan baru (meminjam istilah dari Gubernur Jawa Barat Kang Ridwan Kamil) dengan patuh pada protokol kesehatan. Tidak ada namanya kembali normal seperti dulu, tapi yang ada hanya kita harus hidup berdampingan dengan virus corona, yang harus tetap menjaga jarak dengan cara hidup bersih dan sehat. Hindari kerumunan dan jaga kesehatan badan serta pikiran agar tidak terjangkit corona. Karena virus ini benar-benar membahayakan.

Sudah 80.000-an kasus terkonfirmasi positif, dengan 40.000-an dinyatakan sembuh dan hampir 4.000 meninggal dunia yang tercatat di Indonesia. Sementara itu, jika merujuk data kasus korona di dunia (216 negara) telah menjangkiti hampir 13 jutaan jiwa dengan 500 ribuan meninggal dunia. Hal ini belum selesai dan terus berkembang. Badan Kesehatan Dunia atau WHO, pun sempat merevisi bahwa penularan korona tidak hanya melalui liur atau dorplet, tapi bisa juga melalui partikel-partikel kecil di udara. Betapa berbahaya virus ini. Andai kita tidak patuh terhadap protokol kesehatan, nantikan saja dampak dari virus ini.

Hasil Swab  

Akhir Juni lalu, saya memberanikan diri ikut tes swab yang diadakan Pemerintah Kabupaten Karawang melalui panitia pelaksana tugas UPTD Puskesmas Cikampek. Keberanian tes tersebut saya dapatkan dengan melihat kepada diri sendiri karena secara aktivitas saya masih berkunjung ke zona merah, yakni DKI Jakarta. Selain itu, demi melindungi orang-orang yang saya sayangi, terutama anak-istri. Selebihnya demi kesehatan dan kebaikan bersama.

Pada tulisan berjudul Swab, Swab, Swab Bikin Deg-degan! saya sudah menjelaskan awal mula ikut tes swab. Namun, pada tulisan kali ini saya ingin mengajak kepada rekan-rekan agar tidak menghindari apabila di daerahmu, pemda atau lembaga pemerintah mengadakan tes rapid atau tes swab massal. Justru dengan mengikuti tes tersebut, kita sedang berupaya melindungi diri dan orang-orang yang kita sayangi dari virus corona, dengan cara mengetahui gejala awal ataupun indikasi virus melalui ilmu medis. Dengan begitu, kita jadi paham bahwa selama ini kita anggap remeh terhadap virus itu telah jelas informasinya, baik secara keilmuwan maupun data.

Tulisan saya ini berangkat dari pengalaman pribadi, bukan mengada-ada apalagi merekayasa. Tetapi, saya merasa bangga atas apa yang saya lakukan dengan mengikuti tes swab ini. Bahwa saya masih dinyatakan sehat dengan hasil tes swab NEGATIF. Namun ada kekhawatiran, apalagi sejak PSBB dicabut, saya aktif lagi bekerja di zona merah.

Mengutip perkataan istri saat menemani saya mengambil hasil tes swab, “Tolong dijaga dan dipertahankan hasil tes ini. Jangan sampai berubah menjadi positif!”

Ya, terpenting saya patuhi segala protokol kesehatan, selebihnya saya banyak berdoa saja pada Tuhan.