KURUNGBUKA.com- Pengarang-pengarang di Indonesia biasa dalam tradisi miskin atau sulit berlimpah harta. Keinginan untuk “cukup” tidak mudah diwujudkan. Namun, kita mesti ingat bila pengarang tidak punya pekerjaan tetap, nasib keluarganya bisa merana. Maka, kemuculan pengarang pada masa lalu biasanya dipengaruhi pekerjaan. Dulu, beberapa pengarang adalah guru atau jurnalis. Ada pula pengarang yang pedagang. Yang seru adalah pengarang dengan pengabdian di pergerakan politik kebangsaan.

Pada abad XXI, para pengarang yang tidak memiliki pekerjaan tetap sulit berharap hidup dalam tenang. Ia harus berpikir uang. Beragam usaha dilakukan untuk mendapat rezeki. Padahal, ia selalu ingin menghasilkan puisi, cerita pendek, atau novel. Jadi, kita tidak usah kaget jika mengetahui pengarang-pengarang yang miskin. Mereka tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Mereka mendapat tuduhan buruk atas kelemahan, kegagalan, dan kebingungan.

Yang cukup mengejutkan adalah masih ada pengarang-pengarang yang beruntung. Mereka mendapat rezeki besar dari penjualan buku yang menggembirakan: ribuan atau puluhan ribu eksemplar. Pengarang yang mendapat penghargaan atau hadiah berupa uang masih mungkin merayakan hidup. Jumlah mereka sedikit. Maka, cita-cita menjadi pengarang di Indonesia itu lelucon yang menyakitkan meski tetap memungkinkan kehormatan.

Kita mengingat nasib pengarang berlatar abad XX. Yang bersuara adalah A Damhoeri, pengarang yang terkenal tapi lakon keluarganya jarang tegak. Ia menulis surat pembaca, yang dimuat dalam majalah Tempo, 22 Mei 1993. Yang kita baca adalah surat yang mengandung kenyataan-kenyataan, bukan teks fiksi.

Surat itu menjadi referensi bagi yang mau meneliti nasib para pengarang di seantero Indonesia. A Damhoeri mengungkapkan: “Saya merebut hadiah pertama dalam lomba mengarang Ikapi sekitar Agustus 1987. Ketika itu hadiahnya adalah uang tunai Rp 300.000 dan dua buah piala: satu piala tetap dari Ikapi dan satu piala bergilir dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.” Hal yang menggembirakan saat pengarang mendapat pujian dan uang.

Selanjutnya: “Tahun lalu, dalam pemilihan buku terbaik oleh Yayasan Buku Utama yang diketuai langsung Menteri P dan K Fuad Hassan, buku saya Si Loreng dari Rimba Mangkisi, terbitan PN Balai Pustaka tahun 1988, terpilih sebagai salah satu buku terbaik.” Ia berharap bakal bahagia. Yang terjadi malah bikin sedih. “Saya hanya menerima piagam,” tulis A Damhoeri. Bagaimana penghargaan untuk buku cukup dengan selembar kertas, bukan lembaran-lembarang uang? Kita tidak mengetahui aturan-aturan pemberian penghargaan dan impian pengarang.

Kita menbayangkan pengarang itu bahagia saat bukunya dianggap bermutu dan terbaik. Pengarang tidak hidup hanya dengan pujian dan piagam. Ia memerlukan uang untuk beras, pakaian, listrik, dan lain-lain.

A Damhoeri merasa berhak mendapat uang: sedikit atau banyak. Pemenangan tanpa uang itu tragedi yang menimbulkan murung dan tangisan. Kita yakin A Damhoeri tidak menangis atau meratap. Ia tetap memiliki kesabaran dan pengharapan.

Ia melakukan beberapa usaha: “Saya sudah mengirim surat kepada Direktur PN Balai Pustaka, Departemen P dan K, dan malahan langsung kepada Menteri P dan K sendiri, untuk memohon penjelasan. Saya minta keterangan apakah hadiah uang untuk pemenang buku terbaik kategori nasional memang tidak ada, atau ada perubahan ketentuan. Tapi sampai saat ini belum ada tanggapan.”

Pengarang yang menulis surat mengartikan keseriusan meminta jawaban. Surat itu pasti memuat kalimat-kalimat sopan ketimbang keluhan dan luapan kemarahan. Yang kita bayangkan adalah surat “resmi”, bukan surat-surat seperti yang dimuat dalam novel-novel di Indonesia terbit masa 1920-an dan 1930-an.

Yang membaca majalah Tempo dan memberi perhatian kepada surat itu ikut bersedih. Pengakuan pengarang: “Inilah yang membuat saya sedih dan kecewa. Saat ini usia saya sudah lebih dari 77 tahun, dan saya masih tetap berkarya apa saja, di antaranya selema 62 tahun berkecimpung dalam dunia karang-mengarang. Puluhan buku saya diterbitkan, dan kira-kira 12 judul di antaranya sudah di-Inpres-kan.”

Surat yang dimuat di Tempo mungkin dibaca oleh pejabat atau pihak-pihak yang berurusan dengan perbukuan. Apakah dipastikan Fuad Hassan yang sibuk menjadi menteri sempat membaca surat pendek dan prihatin? Padahal, Fuad Hassan itu pembaca sastra dan penerjemah sastra. Ia bergaul dengan para pengarang di Jakarta. Surat itu dapat menbuatnya malu meski jawaban (resmi) belum terbaca oleh kita.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<