KURUNGBUKA.com – Yang mau berziarah bisa datang ke Sragen. Di sastra Indonesia, Sragen mungkin tempat yang mudah teringat. Keseringan orang-orang saat omong sastra ingatnya Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, Malang, dan lain-lain. Bila ada yang ingat Solo seharusnya agak paham mengenai Sragen. Siapa masih memerlukan berpikir Sragen dan sastra?
Orang-orang yang suka menyepelekan boleh dijewer saat mendengar pengisahan pengarang terkenal masa lalu. Karkono Kamadjaja itu kelahiran Sragen. Ada pengarang silat yang terkenal, namanya menggunakan Sukowati. Apa urusan Sukowati dan Sragen? Kita belum mau menjawabnya jika yang bertanya crigis dan sukanya membantah.
Ada nama yang mengingatkan Sragen: Danarto. Orang-orang yang suka membaca buku sastra Indonesia jika tidak mengenal Danarto boleh dilaporkan kepada “pihak berwajib”. Pastilah mereka termasuk golongan yang “tersesat” atau “picik”. Yang jelas Danarto ikut “mengisruhkan” sastra di Indonesia. Artinya, yang mengamati dan menikmati sastra semestinya mengenal Danarto meski cuma mengetiknya di mesin pencarian.
Danarto itu pengarang? Jawabannya harus ada tambahan. Danarto menulis cerita pendek dan novel. Ia pintar garap esai-esai. Keistimewaan yang membuat orang-orang terpukau: gambar. Bertanyalah kepada Seno Gumira Ajidarma yang memiliki dokumentasi pindaian gambar-gambar Danarto dalam majalah Zaman selama bertahun-tahun. Yang masih kepikiran ibadah haji pasti mesem bila pernah membaca bukunya yang berjudul Orang Jawa Naik Haji. Ia pun berteater.
Yang ingin kita ingat bukan makam Danarto yang berada di Sragen tapi iklan. Cerita-cerita gubahan Danarto diterbitkan menjadi buku berjudul Godlob. Penulisannya kurang tepat. Yang melihat sampul buku bakal mengetahui ada tanda pengganti “o” di antara “l” dan “b”. Apakah kita salah baca? Yang bingung dengan cara penulisan Danarto jangan kebablasan membaca buku Umberto Eco yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Salah Baca.
Buku yang diiklankan itu unik. Namun, siapa yang mudah percaya bahwa bukunya unik dan menentukan selera sastra di Indonesia? Jangan berharap para mahasiswa dan dosen di perkuliahan sastra abad XXI mampu mengenal Danarto dan cuap-cuap sedikit mengenai cerita-cerita terpentingnya. Mereka tidak diwajibkan membawa nama Danarto dalam kepalanya.
Iklan yang dimuat dalam majalah Tempo, 29 Agustus 1987, tidak unik. Iklan untuk buku unik tapi penampilannya tidak unik. Yang salah adalah pembuat iklan atau penerbit yang memesannya. “Buku yang bikin geger!” Kalimat yang sangat tidak lucu. Kalimat dengan tanda seru yang justru tampak meremehkan hak (calon) pembeli atau pembaca buku.
Penerbit buku itu Grafitipers. Penerbit yang berani bertaruh laku atau merugi. Konon, banyak orang membahas Godlob. Apa itu tandanya buku laku, jika tidak yakin laris? Laku saja itu membahagiakan. Beruntungnya buku yang diterbitkan Grafitipers kemasannya apik dibandingkan Adam Makrifat yang diterbitkan Balai Pustaka. Pada masa yang berbeda, buku-buku Danarto diterbitkan lagi oleh Diva di Jogjakarta.
Kiat agar buku laku: mengikutkan pendapat Sapardi Djoko Damono. Maksudnya, Sapardi Djoko Damono yang diakui sebagai kritikus sastra memicu perhatian kalangan sastra dan mahasiswa bergegas menikmati cerita-cerita Danarto. Pendapatnya yang dikutip dalam kepentingan iklan: “Bagi saya, cerita Danarto adalah parodi. Dalam parodinya ini, yang diejek bukan sekadar keadaan sosial yang pincang, sikap moral yang palsu, dan iman yang pura-pura, tetapi juga sastra itu sendiri.” Oh, Danarto adalah pengejek!
Orang-orang yang pintar dan rajin membaca buku-buku bahasa Inggris dijamin paham parodi. Yang biasa-biasa saja mungkin mengetahui parodi itu lagu. Ingatan yang masih tersisa adalah munculnya lagu-lagu yang lucu. Pengamat musik menyebut itu “memparodikan”. Jadi, lirik lagu asli diganti kata-kata yang nyleneh dan lucu. Namun, parodi dalam cerita gubahan Danarto tidak sesepele parodi yang sempat dimasalahkan dalam industri musik Indonesia. Pastilah parodi itu masalah berat! Yang tidak mau melacak bacaan-bacaan berat mendingan membuka buku-buku Yasraf Amir Piliang saja.
Dulu, Godlob dijual 4 ribu rupiah. Pada masa sekarang, buku itu boleh dijual 50 ribu atau 100 ribu rupiah beralasan buku lama atau “legendaris”. Buku yang seharusnya masuk daftar koleksi di perpustakaan atau rumah. Buku akan terhormat jika masuk daftar seratus buku sastra terpenting di Indonesia abad XX.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












