KURUNGBUKA.com – Pada akhirnya, Kahlil Gibran milik Indonesia. Ia tidak hanya dipuja di Lebanon atau Amerika Serikat. Gibran tidak dolan ke Indonesia. Ia kesulitan mencari alasan agar pelesiran ke Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, atau Papua. Di negeri yang jauh dari Indonesia, Gibran tekun menggubah sastra dan membuat lukisan. Ia pun menulis surat.

Di Indonesia, buku-bukunya datang sejak puluhan tahun yang lalu. Dugaan yang bisa dibantah: buku Gibran sudah terbaca dalam bahasa Indonesia pada masa 1950-an. Buku yang terkenal berjudul Sang Nabi. Pada masa yang berbeda, penerjemahan Sang Nabi dilakukan oleh banyak orang dan muncul di puluhan penerbit. Yang pernah terkesima puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono mungkin memilih edisi terjemahannya yang diterbitkan oleh Bentang.

Namun, buku-buku Gibran yang diterbitkan Bentang pada masa 1990-an dan 2000-an sangat teringat dan mengesankan sepanjang masa. Buku-buku yang terbit tampil memikat. Penentunya pasti penerjemah dan penggarapan gambar di sampul buku. Yang ingat Bentang, ingat Buldanul K dan Ong.

Yang mula-mula laris adalah buku-buku Gibran yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Banyak yang ukurannya saku. Yang terlaris judulnya Sang Nabi. Padahal, ada beberapa judul. Para pembaca meyakini edisi terjemahan yang diterbitkan Pustaka Jaya itu terjaga mutunya. Maka, Gibran makin mengakar di Indonesia. Gibran dibaca ribuan orang. Yang mengaguminya memiliki jejak-jejak masa remaja atau mudanya terpengaruh Gibran. Pengarang dari negeri asing tapi dianggap membumi di Indonesia.

Siapa yang menerjemahkan buku-buku Gibran? Manusia lawasan ingat nama yang dicantumkan sebagai penerjemah di edisi-edisi Pustaka Jaya: Sri Kusdyantinah. Konon, menteri yang berlagak mengurusi kebudayaan merestui kerja penerjemahan di Indonesia. Beberapa hari lalu, program itu digulirkan dan mendapat tanggapan-tanggapan. Namun, adakah yang ingat Sri Kusdyantinah? Nama yang mengesankan perempuan Jawa. Yang melek politik lekas berempati: Sri menikah dengan lelaki (Soebandrio) yang dituduh bikin ribut dalam politik Indonesia. Jadi, Sri mengalami hari-hari dalam tatapan mata publik yang politis meski ia terhormat dalam kerja penerjemahan sastra.

Di majalah Intisari edisi Mei 1987, kita membaca keterangan bahwa Sri semula kuliah di filsafat, berganti menekuni studi penerjemahan. Yang dilakukan pada tahap awal adalah menerjemahkan buku untuk anak-anaknya, yang berlanjut beredar ke banyak tangan. Perubahan perlahan terjadi: “Terpikir oleh saya, terjemahan bisa dipakai untuk menunjang ekonomi keluarga.” Ia getol menerjemahkan buku-buku tanpa harus meninggalkan rumah. Artinya, ia masih bisa mengasuh anak-anak. Pada 1980, ia mendapat gelar sarjana penerjemah.

Pembuktian adalah penerjemahan buku-buku Gibran yang berjudul Sang Nabi, Taman Sang Nabi, Pasir dan Busa. Sri ikut menjadikan Gibran dimiliki ribuan pembaca di Indonesia. Para pembaca buku-buku Gibran mungkin tidak mengingat nama penerjemah. Namun, kita memastikan bahwa peran Sri itu besar dalam agenda penerjemahan sastra di Indonesia. Pada masa yang berbeda, hasil terjemahannya mendapat saingan, yang berakibat namanya dilupakan.

Kebiasaan menerjemahkan tulisan-tulisan Gibran agaknya berdampak. Sri juga kadang menggubah puisi. Namanya memang tidak dikenal dalam jajaran pengarang di Indonesia. Yang diinginkannya adalah menulis puisi, bukan pengakuan atau mendapat penghargaan nasional. Sri mengatakan puisi-puisinya adalah renungan. Ia memyadari musibah dan berkah yang membentuk hidupnya. Puisi ditulis untuk mengetahui sebab dan akibat. Puisi pun cara bersyukur masih sanggup berbahasa dalam misi mengartikan hidup.

Di majalah Intisari, terbaca penjelasan: “Kini, di samping sebagai penerjemah, ia yang dosen di akademi bahasa asing (jurusan bahasa Inggris) untuk mata kuliah komposisi bahasa, tengah sibuk menyelesaikan pasca sarjananya dalam bidang ekologi.” Pernyataannya: ekologi dekat dengan filsafat. Ia berhasrat memahami alam, yang berarti menjadi “penerjemah” alam agar sesama tidak membuat perusakan dan penghancuran. Maka, kita yang pernah membaca hasil terjemahannya mudah paham mengenai suguhan alam dalam teks-teks gubahan Gibran.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<