KURUNGBUKA.com – Yang tua-tua masih ada: Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad. Mereka adalah pengarang-pengarang yang memberi letupan atau percikan dalam arus sastra Indonesia setelah Perang Dunia II. Taufiq Ismail selalu teringat dengan puisi-puisi berkaitan 1965-1966. Pada masa yang berbeda, ia terus menulis puisi. Peristiwa 1998 pun dibuatkan puisi. Namun, murid-murid di sekolah telanjur ingat Taufiq Ismail itu masa 1960-an.

Sutardji Calzoum Bachri milik para mahasiswa dan dosen. Kita tidak tega jika puisi-puisinya diajarkan di SD atau SMP. Murid-murid bisa pusing seribu hari atau “kesurupan”. Yang tak terbantah: Sutardji Calzoum Bachri itu “mantra”. Yang masih mengingat Goenawan Mohamad pastilah orang-orang yang serius. Puisi-puisi yang digubah Goenawan Mohamad menyulitkan pembaca. Akhirnya, pesonanya terbatas.

Apakah yang tua-tua masih menulis puisi? Mereka sudah berumur melebihi 80 tahun. Sutardji Calzoum Bachri mungkin tidak lagi menulis puisi. Apakah hari-harinya masih bermantra atau tergantikan doa dan zikir? Kita tidak tahu. Berita-berita mengenaninya terus berkurang, berbeda dengan masa 1970-an dan 1980-an. Sutardji Calzoum Bachri tetap legenda meski tidak memberi satu puisi terbaru kepada kita.

Maka, kita mengingat tulisan lama saja untuk menghormati Sutardji Calzoum Bachri. Yang membuat tulisan bernama Subagio Sastrowardoyo. Sejak puluhan tahun lalu, ia tekun menulis puisi-puisi. Namun, penikmat sastra Indonesia juga mengenalinya sebagai esais, peresensi, dan kritikus sastra.

Buktinya adalah resensi berjudul Yang Mencurigai Kata, yang dimuat dalam majalah Tempo, 13 Februari 1982. Ia mengulas buku berjudul O Amuk Kapak terbitan Sinar Harapan (1981). Buku yang heboh. Bagi yang menginginkan buku berukuran besar itu diharuskan memiliki beberapa lembar merah. Kini, buku lawas itu harganya mahal banget. Pada suatu hari, mahal itu bertambah lagi jika Sutardji Calzoum Bachri pamit dari dunia. Di perdagangan buku lama, muncul kebenaran: “Kematian mengakibatkan mahal.” Buku yang mahal kuadrat pastinya buku yang bertanda tangan.

Resensi yang apik, yang wajib terbaca lagi setelah Sutardji Calzoum Bachri menua dan bukunya bertambah usia. Di majalah Tempo, resensi dipasang di halaman terakhir. Resensi tidak terlalu penting bagi pembaca yang tergoda berita-berita.

Subagio Sastrowardoyo menyatakan: “Lingkup perhatian dalam sajak-sajak Sutardji tidaklah luas dan beserba. Pemikirannya melingkar-lingkar pada tiga masalah yang asasi: Tuhan yang menjadi teka-teki, maut yang merundung manusia sejak semula, dan cinta.” Yang terakhir itu bikin gemes. Sutardji Calzoum Bachri yang tampangnya sangar dan doyan bir memberi perhatian untuk cinta.

Konon, yang disajikannya istimewa. “Cinta ini ditanggapinya dalam gejalanya yang primitif, sebagai gairah seks dalam bentuknya yang paling bugil,” pujian sejati yang diberikan Subagio Sastrowardoyo. Siapa mau mengutip puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri untuk jalinan asmara paling mesra atau mesum? Yang kita ketahui, orang-orang yang kasmaran memilih mengutip puisi-puuisi gubahan Chairil Anwar, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan Aan Mansyur.Yang mengutip puisi milik Sutardji Calzoum Bachri tentu manusia unggul dan berani nyleneh.

Pada masa 1980-an, resensi yang dibuat Subagio Sastrowardoyo termasuk yang terbaik walau pendek, tercetak cuma dua halaman. Foto sampul buku O Amuk Kapak tidak ada. Yang dipasang adalah foto Sutardji Calzoum Bachri terkapar dalam pembacaan puisi. Mimbar di dekatnya tetap tegak. Yang pasti ada botol dan gelas. Ia ketagihan bir, selai ketagihan puisi.

Yang diungkapkan Subagio Sastrowardoyo seharusnya menjadi kutipan “wajib” dalam perkuliahan atau seminar: “Lebih dari penyair lain, Sutardji sadar akan kekaburan makna kata. Ia pada dasarnya menaruh curiga kepada kata. Makna kata selalu berada antara ada-tiada dan setiap kali luput dari gapainya. Tetapi, sekali tercapai kata yang benar dan tepat, kita juga akan mencapai makna yang inti, yang paling mula. Selama belum tercapai, penyair Sutardji tetap rindu kepada kata itu. Dan, Sutardji bergelut dengan beringasnya untuk merebut hakikat kata itu.” Kita tidak membayangkan kalimat penuh pujian itu ditulis sambil minum bir. Bercuriga saja: Subagio Sastrowardoyo mengulas buku sambil minum kopi atau teh yang perlahan dingin.

Pada saat kita membaca resensi (lama), keinginan menemukan buku edisi Sinar Harapan harus terwujud. Yang mencari mungkin mendapatkan edisi terbitan Horison, yang ukuran buku berubah dan kandungan sejarah surut dari gairah.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<