KURUNGBUKA.com – Kita memiliki daftar pengarang yang terlalu rajin membuat beragam jenis tulisan: Ajip Rosidi, Arswendo Atmowiloto, Sutan Takdir Alisjahbana, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain. Kita terus bisa membuat tambahan berdasarkan jumlah buku yang sudah terbit atau tulisan-tulisan yang dimuat di koran, majalah, dan jurnal. Apa-apa yang membuat mereka bergairah membuat tulisan selama bertahun-tahun? Kita tidak ingin mereka meraih rekor, yang biasa diadakan di Indonesia Rekor tidak diperlukan dalam sastra.

Ada nama yang tercatat rajin banget menulis: Korrie Layun Rampan. Jamaah sastra yang ditanya nama itu dapat menjawab kekhasan Korrie Layun Rampan dalam cerita pendek, puisi, novel, esai, atau cerita anak. Kita kesulitan menghitung jumlah bukunya yang terbit. Yang pasti bukunya banyak. Ada buku-buku yang berkualitas tapi beberapa mungkin asal terbit. Kita tidak meledek sembarangan. Beberapa bukunya masuk dalam Inpres, yang bila dibaca memang kurang berkualitas.

Umum masuk perpustakaan di sekolah atau bisa membuka katalog atau langsung melihat deretan buku di rak. Buku yang ditulis Korrie Layun Rampan mudah ditemukan meskipun tidak dijamin murid atau siswa segera memilihnya untuk dibaca. Novel yang pernah mendapat pujian berjudul Upacara. Pada masa yang berbeda, novelnya yang berjudul Api, Awan, Asap juga mendapat perhatian dari umat sastra di Indonesia.

Kehadirannya dalam sastra Indonesia memberi gebrakan bila menilik sejarah sastra “modern” di Indonesia. Pada mulanya, banyak pengarang yang berasal dari Sumatera dan Jawa. Korrie Layun Rampan berasal dari Kalimantan, yang membuktikan sastra “modern” berbahasa Indonesia cepat menyebar dan berkembang dengan corak-corak yang berbeda.

Yang perlu diingat, Korrie Layun Rampang sering membuat tulisan untuk majalah-majalah wanita dan keluarga, tidak hanya majalah sastra yang bergengsi. Oleh karena itu, ia dapat dianggap pengarang “serba ada”, yang dapat memberikan macam-macam tulisan untuk beragam pembaca.

Di majalah Kartini, 17 September 1990, terbit cerita pendeknya yang berjudul Rina. Para pembaca majalah-majalah wanita sudah akrab, tak ada kekagetan mengetahui Korrie Layun Rampang yang kondang di sastra. Adanya cerita-cerita untuk para pembaca wanita atau keluarga tentu tidak seberat cerita yang dimuat dalam majalah Horison. Apakah rajin membuat tulisan untuk kemuliaan bersastra atau mendapatkan kehormatan?

Kita mengutip: “Perlukah mengulang bagaimana sepasang menanam mawar dan melati di sudut rumah, lalu tertawa pada cuaca yang cerah, setelah mendung menggantung di langit, dan tangan hampir tak berhenti saling meremas karena sayang. Perlukah mengulangi kisah lama, menyatakan memberi, dan ketulusan tanpa pamrih yang telah memakan banyak waktu. Atau memang ada sesuatu yang masih tertinggal, yang seharusnya diulangi lagi dalam suatu pengakuan secara pribadi.”

Ia mahir bercerita, tidak kesulitan membuat kalimat-kalimat yang menyentuh perasaan pembaca. Rajin membuat cerita memungkinkan jalur-jalur imajinasi mudah dicapai tanpa lelah dan ruwet. Korrie Layun Rampang termasuk pengarang yang sadar dengan sasaran pembaca. Ia jarang membuat kejutan-kejutan dalam mencapaian estetika-sastra di Indonesia. Yang sulit ditandingi adalah ketekunan dan kesungguhannya untuk terus menulis tanpa henti.

Pada suatu hari, kita berharap ada peneliti atau komunitas yang ingin lelah dengan membuat kliping berisi tulisan-tulisan Korrie Layun Rampan di majalah dan koran. Kliping itu istimewa dibandingkan buku-buku yang sudah terbit. Adanya kliping memberi panggilan atas suasana sastra di Indonesia, dari masa ke masa. Korrie Layun Rampan selalu hadir meski tidak selalu menjadi yang terbaik atau terpuji.

Kita masuk lagi dalam cerita pendek: “Memang waktu tak pernah mau berkompromi. Seperti kincir raksasa di turbin raksasa, ia memutar dan kehidupan dalam rotasi yang tetap, dan ia tak mau berbagi pada duka atau bahagia. Tak ia mau tahu akan sengsara-duka-lara atau senyum-tertawa-ria, yang ia lakukan adalah memutar kincir takdir pada sumbunya seperti bumi berputar pada.”

Paragraf yang diperlukan dalam cerita pendek? Kita mengandaikan membaca paragraf itu dihadirkan dalam esai. Pilihlah kepatutan paragraf dalam cerita pendek atau esai! Ada yang memilih mendingan dalam esai saja. Namun, Korrie Layun Rampan berhak memasukkannya ke dalam cerita pendek agar para pembaca mendapatkan renungan yang istimewa. Kita mengiran paragraf itu memang andalan agar menjadi kutipan para pembaca yang menuntut hikmah-hikmah dalam cerita.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<