KURUNGBUKA.com – Menjalani peran baru sebagai shadow teacher yang menangani anak dengan diagnosis ASD (Autis Spectrum Disorder) memberikan kesempatan baru bagi saya untuk belajar lebih dalam lagi tentang tumbuh kembang anak ASD. Mengetahui peran yang baru saja saya jalankan, beberapa orang-orang terdekat menanyakan tentang anak dengan autisme kepada saya, pertanyaannya seperti ini:
“Itu apa ya Bu penyebabnya?”
“Ngerti mereka Bu kalau diajari?”
“Kalau di sekolah, mereka ganggu teman ga, Bu?”
Mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu menyadarkan saya bahwa keberadaan anak dengan ASD masih asing di masyarakat. Betapa minimnya informasi tentang mereka membuat orang-orang di masyarakat tidak merasakan hadirnya mereka. Padahal, seharusnya anak autisme diberi ruang dan diterima oleh masyarakat. Autisme bukan penyakit yang harus disembuhkan dan bukan juga sesuatu yang harus disembunyikan, karena perilaku mereka yang berbeda. Mereka tidak harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Namun kitalah yang harus memahami dan menerima mereka seutuhnya.
Sering kali, orang tua yang memiliki anak dengan autisme mendapatkan tatapan iba atau kasihan dari masyarakat sekitar. Tentu saja tidak ada maksud buruk dari masyarakat, namun tidak nyaman bagi mereka. Lebih baik Jika kita tidak meratapi keadaan mereka, tentu baik menunjukan empati tetapi alangkah baiknya jika kita juga mampu menerima anak ASD dengan seutuhnya. Karena anak ASD bukanlah suatu hal yang harus dikasihani. Anak dengan autisme juga merupakan malaikat kecil bagi keluarga mereka. Mereka juga dapat bersekolah seperti anak yang terlahir normal. Mereka juga dapat memahami pembelajaran tetapi sesuai dengan kemampuannya. Mereka juga memiliki masa depan seperti anak-anak pada umumnya, namun perjalanan mereka sedikit berbeda.
Bahkan untuk mendukung pendidikan bagi anak autisme, pemerintah memiliki program pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi merupakan solusi bagi penyelenggara negara untuk memberikan pendidikan yang merata dan adil kepada anak berkebutuhan khusus. Pada awalnya pemerintah memiliki sekolah luar biasa untuk menjadi sarana pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun karena jumlah siswa yang berkebutuhan khusus dengan jumlah sekolah luar biasa tidak sesuai. Pemerintah mengambil inisiatif lain yaitu dengan adanya program pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah sebuah ruang kelas yang menerima siswa berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan siswa reguler.
Tentu saja dalam pelaksanaan pendidikan inklusi belum terlaksana secara sempurna. Diperlukan kerjasama antara pihak sekolah, guru pendamping (Shadow teacher), guru reguler serta orang tua. Setiap pihak mendapatkan peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Sekolah yang menerima siswa dengan ASD ataupun anak dengan kebutuhan khusus lainnya, harus mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan mereka. Seperti menerima tamu Istimewa tentu kita harus menyediakan kudapan yang layak untuk menyambutnya. Begitu juga dengan menerima siswa dengan ASD banyak hal yang harus dipersiapkan.
Sekolah harus memiliki sarana dan prasarana yang ramah bagi anak autisme. Mereka membutuhkan ruang khusus sebagai tempat untuk terapi ataupun menenangkan diri ketika terjadi sesuatu yang diluar kendali. Selain itu, tangga sekolah serta kelas di lantai dua dan seterusnya harus dipastikan memiliki keamanan bagi mereka. Anak ASD juga membutuhkan benda-benda yang membantu mereka untuk terapi, seperti meja khusus terapi, kunyahan sensorik, permainan-permainan motorik kasar dan halus serta weighted socks. Ataupun benda-benda lain yang membantu proses terapi bagi anak dengan autisme. Dengan menyediakan peralatan yang lengkap, kegiatan terapi ataupun pemberian pembelajaran bagi anak autisme dapat berjalan dengan lancar.
Kerja sama antara guru reguler dan guru pendamping juga menjadi kunci penting dalam keberhasilan pendidikan inklusi. Guru pendamping harus membantu siswa dengan diagnosis autisme untuk memahami pembelajaran yang diberikan oleh guru yang berada di kelas. Untuk guru yang mengajar tetap memberikan perhatian kepada siswa dengan autisme walaupun mereka sudah memiliki guru pendamping, dan menyesuaikan materi ataupun tugas yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya komunikasi yang baik antara guru pendamping dan guru reguler, pendidikan inklusi dapat berjalan sesuai konsep.
Setelah semua usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah, diperlukan adanya sosialisasi untuk orang tua siswa reguler, tentang hadirnya anak dengan ASD di kelas. Menjalani pendidikan inklusi memerlukan kerja sama semua pihak. Orang tua harus mengetahui tentang manfaat pendidikan inklusi bagi anak-anak mereka. Pendidikan inklusi bukan hanya menguntungkan bagi siswa inklusi saja, namun juga bagi siswa reguler. Siswa reguler dapat menyadari hadirnya anak autisme lebih awal dibanding masyarakat umum. Dan sepanjang pembelajaran, mereka belajar berempati secara praktikal. Dengan demikian mereka juga belajar memahami peran mereka di ketika di kehidupan bermasyarakat.
Sebagai shadow teacher saya melihat pendidikan inklusi belum terlaksana sesuai konsep yang ada. Kesalahpahaman tentang tanggung jawab dari masing-masing peran masih menjadi perdebatan. Kurangnya perhatian dari guru yang mengajar untuk menyesuaikan tugas bagi siswa dengan diagnosis ASD. Sering kali dikarenakan siswa ASD memiliki shadow teacher, membuat guru yang mengajar tidak menyesuaikan materi bagi siswa inklusi. Karena menganggap itu adalah tugas dari shadow teacher. Sedangkan berdasarkan konsep shadow teacher hanya mendampingi dan mengajarkan siswa inklusi ketika kesulitan memahami materi. Ketika sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus, seharusnya pihak sekolah memahami konsep serta peran masing-masing dalam pelaksanaan pendidikan inklusi. Semua pihak harus memahami tugas
Kendati demikian, kekurangan dari sekolah yang memiliki program pendidikan inklusi dapat berevolusi seiring dengan berjalannya waktu. Jika belum sempurna untuk saat ini, maka perjuangan belum selesai. Menerima siswa dengan keadaan autisme merupakan perjalanan Panjang yang tidak akan selesai dalam waktu dekat. Memahami kebutuhan siswa ASD juga merupakan tantangan, dikarenakan gejala dan penanganan yang mereka butuhkan juga berbeda. Tetapi tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tentunya kita berharap adanya program pendidikan inklusi dapat menjadi sarana dan media bagi kita semua belajar menerima mereka secara utuh.
Pendidikan inklusi merupakan langkah kecil yang memberikan kesempatan bagi mereka yang terlahir dengan ASD untuk berada dalam kegiatan sekolah. Pendidikan inklusi hendaknya bukan sekedar ruang belajar bagi anak dengan autisme, namun dapat menjadi langkah awal bagi kita untuk belajar menerima dan memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang bersama. Saat ini langkah kita adalah dari siswa-siswa reguler yang sudah mampu berteman dengan anak ASD dan memahami keadaan mereka. Untuk di awal, anak dengan ASD dapat diterima dalam lingkungan sekolah, dan seterusnya dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat.
*) Image by istockphoto.com







