KURUNGBUKA.com – Beberapa tahun yang lalu, pameran buku atau pesta buku masih sering diadakan di pelbagai kota. Ingat, yang datang ke pameran atau pesta adalah orang-orang yang bernafsu buku atau pelesiran saja. Mereka ingin memiliki pengalaman istimewa berhadapan dengan ribuan buku yang disajikan oleh para penerbit dan toko buku. Artinya, mata melihat dalam jarak dekat dan tangan mereka bisa memegang dan membolak-balik halaman buku.

Yang kita kenang adalah masa sebelum orang-orang berponsel di tangannya. Pengetahuan tentang buku diperoleh dari resensi di koran dan majalah. Ada yang mengandalkan keterangan dari teman sudah berkunjung dulu ke toko buku. Yang datang ke perpustakaan mulai memiliki bayangan buku-buku yang lain agar masuk menjadi koleksi untuk segera dipinjam. Jadi, dulu orang-orang yang suka buku belum dimudahkan untuk mengetahui beragam hal.

Adanya pameran buku atau pesta buku memicu kegembiraan, Mereka menanggapinya dengan uang dan perwujudan selera. Konon, buku yang paling banyak dicari dan laku adalah sastra. Kita mengetahuinya itu novel. Uang yang dibawa berganti menjadi buku. Mereka membeli cerita. Ada yang suka novel horor, detektif, asmara, dan lain-lain. Namun, kita belum bisa mengingat jika pernah adalah pameran novel di Indonesia. Apakah ada penerbit atau konunitas yang berani menggelar pesta atau pameran dengan menyajikan novel-novel saja?

Kita buka majalah Hai, 19 November 1985. Terlihatlah pengumuman: Pesta Buku Anak dan Remaja II – 1985. Kapan yang pameran edisi pertama? Kapan-kapan kita melacaknya bila sudah ada waktu longgar. Foto besar yang ditampilkan adalah gedung. Orang-orang di Jakarta mengenalnya Balai Sidang Senayan. Tempat yang istimewa untuk buku-buku.

Keterangan yang dicantumpkan penyelenggara kesannya untuk kaum dewasa: “Kesempatan yang tak boleh dilewatkan begitu saja oleh para orangtua dan anak-anak pencinta buku, mahasiswa dan pelajar, pengarang, ilustrator, kartunis, perancang grafis, pengusaha toko buku, pustakawan, guru, penerbit, maupun para suplier dalam bisnis percetakan maupun penerbitan buku.” Yakinlah itu kalimat yang tidak enak dibaca oleh remaja yang terbiasa membaca majalah Hai. Pengumuman atau iklan itu salah tempat. Apa mungkin salah bahasa?

Di bawah foto gedung, kita melihat foto buku-buku yang diinginkan menjadi bacaan untuk anak dan remaja. Foto kurang jelas tapi kita melihat ada beberapa novel. Ada pula buku-buku cerita untuk anak-anak. Pada masa lalu, buku-buku itu digemari. Anak dan remaja berhak mengoleksinya. Menaruh buku dalam kamar adalah kebahagiaan yang tercipta. Pameran atau pesta buku berakibat jumlah buku yang masuk kamar bertambah.

Kita baca lagi kalimat dalam iklan: “Lengkapilah koleksi buku-buku ilmiah dan hiburan anda dengan mendapat potongan harga 10%.” Betapa pentingnya buku-buku ilmiah dipelalajari anak dan remaja. Pameran yang menunjang agenda pendidikan dan pengajaran mencipta murid-murid pintar.

Padahal, anak dan remaja suka membaca novel. Apa novel masuk kategori buku ilmiah. Bila membaca kalimat yang terdapat dalam iklan, novel pasti masuk kategori hiburan. Maka, anak dan remaja yang membeli novel-novel adalah yang menghasrati hiburan. Mereka minggat dari buku-buku pelajaran untuk mendapat hiburan dalam novel-novel. Namun, kita menyadari sebutan hiburan berdampak tarafnya di bawah buku ilmiah. Hiburan berarti tidak membuat anak menjadi pintar atau cerdas yang dibuktikan melalui ujian dan peringkat di sekolah.

Sekali lagi, iklan itu salah dan salah. Iklan tidak ditujukan kepada anak dan remaja. Iklan juga mengabaikan kesukaan anak dan remaja membaca dan mengoleksi novel-novel. Yang terjadi di masa lalu itu mengisahkan anak dan remaja yang masih bersukacita mendatangi tempat dengan suguhan ribuan buku. Mereka mengalami piknik atau pelesiaran yang membahagiakan asal berduit.

Pada masa berbeda, bukan masa 1980-an, girangnya anak dan remaja mengunjungi pameran buku atau pesta buku dipicu oleh novel-novel islami. Banyak penerbit buku-buku Islam yang meraup untung besar dari novel-novel dicap islami. Penerbit yang pernah menguasai pasar adalah Mizan dan Republika. Namun, anak dan remaja yang berbelanja novel-novel pada masa 1980-an sering mendapat buku-buku terbitan dari Gramedia.

Masa lalu itu teringat oleh orang-orang yang mengalami atau saksi. Kini, anak dan remaja tinggal membuka ponsel untuk mengetahui buku-buku baru atau novel-novel yang sedang digemari di seantero Indonesia. Mereka tidak harus datang ke toko buku atau pameran buku. Cara pembelian sudah berubah. Mereka berada di rumah, novel-novel bisa berdatangan untuk segera terbaca.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<