KURUNGBUKA.com – Juli, murid-murid mengingatnya bulan liburan. Hari-hari yang tidak masuk sekolah. Seragam disimpan dalam lemari. Buku-buku pelajaran dilupakan. Senin bukan lagi hari untuk upacara yang membosankan dan melelahkan. Kelas sementara menjadi kenangan. Pokoknya, hari-hari selama Juli diharapkan membahagiakan. Namun, ada yang tidak sepenuhnya libur. Mereka yang mencari sekolah dengan segala kerumitannya.

Pada saat hari-hari lubur, anak-anak menikmatinya dengan bermain, tidur, menonton televisi, memegang ponsel, atau pelesiran? Anak dan remaja yang tidak mahir membuat rencana dan jadwal harian bakal kebingungan. Liburan malah memusingkan, yang akibatnya hari-hari tidak indah.

Pada masa 1980-an, ada penerbit yang memiliki perhatian dengan sekolah. Artinya, penerbit menggunakan sekolah untuk buku-buku cerita. Maksudnya, penerbit mengadakan buku-buku untuk murid-murid. Maka, muncul Seri Pustaka Sekolah oleh Gramedia, yang mengaku sebagai “penerbit buku utama”. Penerbit tidak menamakan “Seri Pustaka Liburan”. Jika menggunakan “sekolah”, buku-buku cerita atau novel dianjurkan dibaca selama murid-murid berada di sekolah atau mengalami hari-hari yang belajar.

Penjelasan yang diberikan: “Sarana orang tua yang bijaksana untuk mendidik anak mencintai hasil karya bangsa sendiri.” Kalimat yang sederhana. Namun, kita malah curiga. Apa yang dimaksud “bangsa sendiri”. Kita menyadari Gramedia terkenal dengan produksi buku-buku (anak dan remaja) terjemahan. Penerbit yang mendatangkan banyak gubahan sastra dari pelbagai negara. Ada yang beberapa diakui klasik. Jadi, Gramedia yang telanjut mengutamakan terbitan buku-buku terjemahan, mengumumkan akan memberi perhatian untuk buku-buku yang ditulis para pengarang Indonesia.

Kita lanjutkan mengutip keterangan yang seolah-olah dipengaruhi pidato para pejabat atau GBHN. Bila tidak percaya, bacalah berulang-ulang: “Melalui karyanya pengarang nasional ini berkeinginan untuk ikut membina, memupuk, dan mengembangkan sikap-sikap luhur dalam diri anak-anak. Tema ceritanya digali dari fantasi dan pengalaman mereka di bumi pertiwi ini sehingga tidak akan terasa asing bagi anak-anak.”

Yang kita ingat dari masa lalu: memilih atau menyeleksi pengaruh-pengaruh asing yang sesuai dengan Pancasila dan kepribadian Indonesia. Hal itu terdapat dalam PMP atau penyuluhan. Konon, yang asing mudah dituduh berdampak kebarat-baratan dan merusak moral. Masa lalu yang penuh khawatir dan halusinasi demi kepentingan pembangunan nasional. Apakah buku termasuk masalah yang ikut menentukan gagal dan berhasilnya pembangunan nasional? Soeharto pernah menjawabnya melalui pidato-pidato dan beragam kebijakan.

Penerbit dan pemerintah selaras dalam misi perbukuan. Kembali kita menyimak yang dijelaskan Gramedia: “Seri Pustaka Sekolah tidak sekadar memberikan hiburan, tetapi juga memberikan informasi dan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang sering kita hadapi.” Perhatikan penyebutan “hiburan”. Buku adalah hiburan. Anak-anak terduga terhibur oleh buku.

Ada daftar yang memuat 21 judul. Buku-buku ditulis oleh pengarang-pengarang yang terkenal: Slamet Mashuri (Bung Smas), Dwianto Setyawan, Ayu Widuri, dan lain-lain. Yang terbayang, seri buku itu dibeli oleh pihak sekolah untuk ditaruh di perpustakaan. Murid-murid berganti meminjam dan membacanya. Murid-murid yang berasal dari keluarga mapan mungkin minta dibelikan bapak atau ibu. Di kamar, mereka mengoleksi buku-buku yang dianggap memberikan hiburan, informasi, dan pengetahuan.

Betapa bahagia menjadi murid pada masa 1980-an. Bahagia mungkin termiliki meski tidak bisa menghindari keluhan, kecewa, dan sedih. Hidup dalam seribu tanda seru buatan rezim Orde Baru itu bikin pusing, mencret, dan gatal-gatal. Murid yang membaca buku mungkin dapat mengatasi siksa yang terjadi di Indonesia. Yang membaca Seri Pustaka Sekolah boleh membandingkan seru dan mutu dengan buku-buku cerita terjemahan yang diterbitkan Gramedia.

Dulu, Seri Pustaka Sekolah diinginkan laku. Maka, penerbit membuat pertimbangan harga yang terjangkau. Setiap buku diberi harga seribu rupiah. Pengumuman yang dibuat dalam majalah Bobo, 28 februari 1987, mengajak kita berpikiran buku cerita dan harga. Yang sulit membayangkan uang bisa melihat pencatuman harga eceran majalah Bobo: 700 rupiah. Jadi, buku yang berharga seribu rupiah teranggap “murah”. Ingatlah, buku itu dalam rangka sekolah, bukan liburan. Pada saat Juli, hari-hari yang libur, anak dan remaja ikut “libur” dari membaca buku-buku?

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<