“Membersihkan papan tulis masih tugas di kelas kesukaanku meski sebenarnya aku sudah melampauinya karena berumur hampir sepuluh tahun. Aku memukul-mukulkan penghapus pada dinding bata, mengeluarkan abjad-abjad Cina, yang sudah kami pelajari. Setelah penghapus itu bersih dari debu kapur, kata-kata kesukaanku juga ikut keluar: imajinasi, kemerdekaan, guru, dewi. Angin menggulung kata-kata kesukaanku dan menebarkan mereka di atas kepala penduduk kota, melewatu pohon pinus tertinggi, di sepanjang bubungan gunung yang terjal, tinggi menuju awan untuk turun menjadi gerimis di atas Laut Kuning.”

(Eugenia Kim, The Calligrapher’s Daughter, Gagas Media, 2012)

KURUNGBUKA.com – Bocah itu bertumbuh di Korea, awal abad XX, saat Jepang berkuasa dan mendikte arah sejarah. Yang pergi ke sekolah ingin belajar ilmu-ilmu. Murid yang memiliki penasaran terhadap beragam ilmu dan mengenali nasib guru. Di kelas, ia bergaul dengan teman-teman sambil mendapat cerita-cerita mengenai pelbagai hal, yang membuat sedih, gembira, bingung, dan kacau. Pada masa tegang dan dampak peran yang menderitakan, murid di sekolah menemukan absurditas dan khayalan yang sedikit membahagiakan.

Peristiwa yang sederhana di kelas: mengapus tulisan-tulisan di papan yang biasanya berwarna hitam. Benda sangat penting bagi guru dalam memberikan pelajaran-pelajaran. Tangan yang memegang kapur menghasilkan tulisan atau gambar di papan, yang dilihat dan dipelajari murid-murid. Yang sudah ditulis tidak selamanya berada di papan. Ada hal-hal lain yang harus ditulis dan diterangkan. Maka, menulis dan menghapus adalah peristiwa yang bergantian.

Murid yang bertugas untuk menghapus yang tertulis di papan. Bocah yang berumur sepuluh tahun masih ingin merasakan kenikmatan dan keajaiban menggerakkan penghapus di papan tulis, berlanjut memberishkan serbuk-serbuk kapur. Ia menganggap itu bukan sekadar tugas. Bocah yang sanggup membuat pengertian, yang mengandung khayal memukau.

Kita seperti berada dekat si bocah. Ia bersemangat memukulkan penghapus, yang menampilkan pemandangan wajar tapu menyiratkan perlawanan: “mengeluarkan abjad-abjad Cina”. Pada mulanya, yang tertulis di papan menggunakan aksara Cina. Murid-murid melihatnya untuk capaian ilmu-ilmu. Mereka belum saatnya bertaruh dalam politik-keaksaraan. Namun, bocah itu tampak lugu saat mengetahui ada abjad-abjad Cina yang menghilang dari papan dan dikeluarkan dari penghapus.

Yang mengejutkan adalah kesadarannya atas beberapa kata yang disukai dan dimaknai. Pada saat tertulis di papan, kata-kata itu dapat dibaca dan dipandangi lama. Setelah dihapus, kata-kata itu nasibnya berbeda: berlepasan dari penghapus. Bocah yang menceritakan nasib kata-kata dalam kejadian yang imajinatif. Kata-kata yang dibawa angin. Bergerak ke pelbagai arah. Kata-kata itu berlepasan dari bukit, yang membuatnya bisa berada di atas kepala para penduduk yang berada di bawah. Kata-kata yang bisa terbang tinggi, mengarah ke gunung. Terbangnya di atas pohon-pohon yang tinggi.

Khayal yang indah meski bocah itu merasakan getir setiap beradda di sekolah akibat situasi yang belum damai dan menang. Maka, ia memiliki hiburan dan ilmu saat belajar bersama teman-teman. Belajar yang memungkinkan perayaan imajinasi bersumber papan dan penghapur, yang mengikutkan abjad dan kata.

Pada adegan terakhir, khayal itu elok: “kata-kata menuju awan untuk menjadi gerimis di atas Laut Kuning.” Bayangkanlah kata-kata yang terbawa angin sampai masuk awan. Selanjutnya, bocah itu melihat gerimis kata-kata. Akhirnya, kata-kata yang ditulis dan dihapus tidak sirna, cuma berganti tempat dan rupa. Jadi, bocah yang melihat gerimis berarti melihat kata-kata yang disukainya. Kita ikut terharu melihat bocah dan gerimis kata, yang masih sempat memberi bahagia di jebakan-jebakan penderitaan di Korea.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<